Rabu, 02 November 2016

Sciena Madani dan LAZIS Nusantara Berbagi Sedekah Blusukan

Semarang, All About Santri. Pengurus Sciena Madani dan LAZIS Nusantara mendatangi warga tertentu yang membutuhkan di sekitar kecamatan Genuk, Semarang, Jumat (25/7) malam. Mereka membagikan parcel mustdhafin dan paket sedekah blusukan kepada warga yang berhak menerima.

Pengasuh Sciena Madani Ninik Ambarwati mengatakan, parcel mustadhafin dan sedekah blusukan menjadi program favorit Ramadhan tahun ini. Karena, pengurus langsung mengunjungi tempat santunan dengan bingkisan dan uang tunai.

Sciena Madani dan LAZIS Nusantara Berbagi Sedekah Blusukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sciena Madani dan LAZIS Nusantara Berbagi Sedekah Blusukan (Sumber Gambar : Nu Online)


Sciena Madani dan LAZIS Nusantara Berbagi Sedekah Blusukan

Selain parcel mustadhafin dan sedekah blusukan, Sciena Madani dan LAZIS Nusantara selama Ramadhan menjalankan sejumlah program antara lain buka puasa bersama, wisata religi, talk show, dan santunan anak yatim. Semua program ini ditutup dengan penyaluran zakat fitrah.

Kami ingin mengetahui kondisi lapangan, sehingga blusukan menjadi jalan terbaik mengetahui realitas sosial kemasyarakatan yang sesungguhnya, tutur Ninik.

All About Santri

Sciena Madani merupakan komunitas pemuda yang mengabdi kepada masyarakat sesuai dengan jargonnya Pesantren Cinta dan Karya. Sementara LAZIS Nusantara ialah wadah nirlaba yang bertujuan mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik dengan memberikan tata pengelolaan dana sosial masyarakat melalui zakat, infaq, dan shodaqoh. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53549/sciena-madani-dan-lazis-nusantara-berbagi-sedekah-blusukan

All About Santri

Kamis, 27 Oktober 2016

Lewat MIF, Pemuda NU Ringankan Perekonomian Warga Miskin

Pamekasan, All About Santri. Madura Idea Foundation (MIF), namanya. Organisasi yang didirikan tokoh pemuda NU Pamekasan Dr Moh Fudholi tersebut, tampak kian getol meringankan beban hidup warga miskin dari kalangan nahdliyin di Pulau Madura.

Di MIF, terdapat jargon untuk mengubah satu situasi mental kemiskinan. Namanya ATAS (Alengleng Tarebhung Abentoh Sataretanan); gerakan yg dilakukan kapanpun untuk membantu sesama.

Lewat MIF, Pemuda NU Ringankan Perekonomian Warga Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat MIF, Pemuda NU Ringankan Perekonomian Warga Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)


Lewat MIF, Pemuda NU Ringankan Perekonomian Warga Miskin

Tapi selama ini, gerakan ATAS lebih populer sebagai gerakan bulanan. Setiap bulan pemuda NU yang tergabung dalam MIF rurun ke bawah untuk menyerahkan bantuan sosial (bansos). Sasarannya ialah semua masyarakat Madura yang berada di bawah garis kemiskinan, mulai dari Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

"Lansia miskin, anak yatim, warga disabilitas untuk saat ini difokuskan perkecamatan tiap bulan. Dana berasal dari sumbangan anggota serta para dermawan. Juga, berasal dari produk dan ekonomi kreatif yang dikembangkan oleh MIF," ujar Dr Moh Fudholi, Selasa (20/12).

All About Santri

Tujuan gerakan ATAS, terang Fudholi, ialah guna meningkatkan stabilitas sosial, kesejahteraan masyarakat , dan pemerataan ekonomi masayarakat. Dalam pelaksanaannya, MIF mengajak NU untuk menyapa masyarakat melalui gerakan ATAS, karena hampir semua anggota MIF adalah NU dan putra pengurus NU.

All About Santri

"Kami melibatkan NU karena selain anggota MIF adalah warga nahdliyin, NU adalah satu-satunya organisasi yang strukrunya sampai tingkat kampung (ranting). Sehingga, nanti memudahkan pada MIF untuk mencari data masyarakat miskin," tukas dosen muda tersebut. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73932/lewat-mif-pemuda-nu-ringankan-perekonomian-warga-miskin

Rabu, 31 Agustus 2016

Doa Sesaat Sebelum Minum Susu

Susu adalah nikmat Allah SWT yang luar biasa. Seperti madu ia berasal dari dalam tubuh tanpa larut atau terkontaminasi dengan darah. Ditambah lagi kandungan zat-zat di dalamnya memberikan keberkahan tersendiri bagi manusia. Berikut ini doa yang dibaca sesaat sebelum minum susu.



Doa Sesaat Sebelum Minum Susu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Sesaat Sebelum Minum Susu (Sumber Gambar : Nu Online)


Doa Sesaat Sebelum Minum Susu

Allhumma brik lan fm razaqtan wazidn minhu.

All About Santri

Artinya, Hai Tuhanku, berkahilah kami pada apa yang telah Kauanugerahkan kepada kami. Tambahkan untuk kami anugerah-Mu, (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-Aidrus, Jakarta).

Susu sebagai anugerah Allah SWT memberikan banyak manfaat bagi manusia. Pada kesempatan tertentu susu merupakan obat bagi sebagian penyakit manusia. Karenanya kita selayaknya bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan susu. (Alhafiz K)

All About Santri

Dari (Doa) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66652/doa-sesaat-sebelum-minum-susu

All About Santri

Jumat, 29 Juli 2016

Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor

All About Santri – Para pendemo aksi damai (tapi rusuh) pada 4 November 2016 kemarin tidak menerima permintaan maaf Ahok karena dianggap telah menistakan Al-Qur’an dan meminta proses hukum terus berjalan. Nah, bagaimana jika salah satu kader organisasi yang ikut demo kemarin harus tetap diproses hukum karena menghina NU dan kiai nya, walau sudah meminta maaf?

Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor - All About Santri
Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor - All About Santri


Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor

Namanya Deni Iskandar, yang di Facebook menggunakan nama Dheny Goler Tea. Entah sebab apa, Sekum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menghina dengan mulut kasarnya.

Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor - All About Santri
Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor - All About Santri


Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor

Dalam status Facebook, ia menyebut Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang tidak punya kelam!n hanya karena tidak ikut berpartisipasi dalam demonstrasi politis yang mengatasnamakan “Bela Islam II” itu.

Mahasiswa Unas Beratribut HMI Disebut Ratu Adil "Terdepan Memicu Kerusuhan" Demo

Lebih dari itu, Dheny juga membela FPI sembari menyebut NU sebagai ormas pemecah belah. “Yang mecah belah ini adalah Nahdlatul Ulama. Ganti aja namanya, jangan Nahdlatul Ulama tapi Nahdlatul Udud,” tulisnya.

Tidak puas menertawakan NU, ia meminta pecat Ketum PBNU yang disebutnya pen****. “Kau ji***-ji*** itu pan tatnya Ahok dan Jokowi wahai para ulama pen****,” sarkas mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama UIN Jakarta ini.

Berbeda dengan kasus penistaan Al-Quran yang masih multitafsir, kanda Dheny yang kader Nurkholis Majid ini (biasanya moderat sih), sudah terang benderang menghina secara sad1s dan tidak berdasar kepada NU dan simbol tertingginya, yakni Ketua Umum.

Emosinya tidak tertahan sehingga harus membuat statemen yang menyakiti warga NU (nahdliyyin). Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di seluruh dunia.

Kalau saja Dheny penghina NU itu ke Madura, kata warga sana, dikutip Duta Islam, ada yang siap memberi dia cicipan celurit emas untuk diminta klarifikasi.

Sudah menjadi organ biang kerusuhan demo 4 November 2016 kemarin (kata Kapolda lho yah), ini malah ada kader HMI (Dhenny) bikin rusuh lagi di media sosial. Kalau hanya mengkritik, tidak masalah. Tapi jika sudah menghina, permintaan maaf saja, -sebagaimana logika Front Pembela Islam (FPI),- tidaklah cukup.

Ketakutan, ia menghapus sendiri postingan yang membuatnya blunder tidak karuan itu. Dalam akun Facebook tersebut, ia kemudian mengklarifikasi dengan meminta maaf. Ini teks lengkapnya:

====================

Assalamualaikum wr. wb.

Saya atas nama pribadi, Deni Iskandar, mengucapkan banyak-banyak minta maaf, atas status Facebook saya yang banyak menyinggung warga nahdiyyin.

Saya juga berterima kasih kepada guru-guru saya, senior-senior saya baik, senior pondok pesantren, maupun senior dan guru-guru saya di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang sudah mengingatkan saya, mengkritik saya, dan mengingatkan saya.

Apa yang saya tulis dalam status facebook saya, itu merupakan kegelisahan saya dalam melihat realitas NU saat ini. Dan dalam penulisan status tersebut, tidak ada yang mendorong saya, menyuruh saya dalam menuliskan hal tersebut.

Ada pun statmen saya dianggap mempropokasi sekaligus dianggap menghina secara Institusi NU, maka saya mohon maaf, mungkin ini adalah ketidak tahuan saya, saat NU melakukan Ijtihad, selain itu kurangnya Informasi yang saya ketahui, tentang latar belakang kenapa Harus ada Surat Himbauan, dari NU sebagai organisasi Islam, yang konsisten mempertanankan NKRI.

Secara Pribadi, saya mohon maaf, sebesar-besarnya, bila ada yang tersinggung pada status facebook saya, salah, dan khilaf, sejatinya merupakan sifat dasar manusia sebagai "Insan" semoga dengan begini, saya secara pribadi bisa lebih bijak, sekaligus lebih banyak belajar lagi, sekaligus lebih banyak Silaturahmi lagi dengan warga Nahdiyyin, sekaligus kiai-kiai dan guru guru.

Status Facebook itu, datang dari diri saya secara pribadi. Tidak ada gading yang tak retak, manusia secara alamiah, tempatnya salah. Persoalan pernyataan Facebook saya, itu hasil dari pemikiran saya. !. Mohon dimaklumi dan di pahami.

Sekali lagi, saya secara pribadi, meminta maaf kepada semua warga Nahdhayyin dimana pun berada.

Billahi Taufiq Wal Hidayah

Wassalamualaikum wr.wb.

Deni Iskandar.

Pemilik akun Facebook

"Dheny Gholer Tea"

====================

Meski begitu, Sekretaris PC GP Ansor Tangerang Selatan (Tangsel) sudah melaporkan Dheny ke Polres setempat pada Ahad (6/11/2016). Walau ia sudah mengaku khilaf dengan alasan minim menerima informasi terkait NU, tetap saja harus diusut tuntas secara hukum agar tidak ada lagi oknum-oknum culun semacam itu bergentayangan di dunia maya.

Lapor: Ansor Tangsel melaporkan Deny ke Polisi

Foto: KBAswaja Informasi yang diterima Duta Islam menyebutkan kalau kasus ini sudah masuk daftar intel. Dilaporkan oleh Tim Cyber Kantor Berita Aswaja (KBA). Mari kita kawal dengan menandatangani petisi Online. Klik SINI. [All About Santri]

Status Deni Iskandar yang menghina NU Ini loh yang bernama Deni Iskandar Catatan: Undang-Undang Hukum Indonesia, sebagaimana UU ITE bisa dibaca sebagai berikut:

Pasal 27 ayat (3) UU ITE “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”

Pasal 45 UU ITE (1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 36 UU ITE “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 sampai Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain”

Misalnya, seseorang yang menyebarluaskan informasi elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain akan dikenakan sanksi pidana penjara maksimum 12 tahun dan/atau denda maksimum 12 milyar rupiah (dinyatakan dalam Pasal 51 ayat 2)

Pasal 51 ayat (2) UU ITE Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/menghina-ketum-pbnu-kader-hmi-ini-dipolisikan-gp-ansor.html

Minggu, 24 Juli 2016

Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf

Jakarta, All About Santri. Masjid Jami al-Munawwarah yang terletak di kompleks kediaman KH Abdurrahamn Wahid (Gus Dur) Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, kembali menjadi tempat pengucapan dua kalimat syahadat seorang muallaf, Sabtu (19/1) siang.

Seorang perempuan bernama Stephanie Ade Irawan hari ini berketetapan hati masuk Islam. Turut hadir menjadi saksi istri mendiang Gus Dur Ny H Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Wasekjen PP LDNU H Syaifullah Amin, Habib Hasan Dalil Alaydrus, dan sejumlah jajaran pengurus Yayasan KH Abdul Wahid Hasyim.

Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)


Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf

Apakah ada yang memaksa? tanya Habib Hasan sebelum membimbing syahadat. Tidak, jawab Stephanie.

Berarti dari hati? sambung Habib Hasan.Ya, dari hati, Stephanie menganggukkan kepala.

All About Santri

Sebelum menuntun syahadat, Habib Hasan menjelaskan bahwa Islam bersifat rasional dan menentang unsur pemaksaan dalam beragama. Selain menyinggung kearifan dakwah Rasulullah, ia juga menjabarkan secara singkat lima rukun Islam yang meliputi syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji.

All About Santri

Stephanie yang cukup lancar melafalkan dua kalimat syahadat dan terjemahannya itu disambut haru oleh kerabat dan tamu yang hadir. Karena bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi, prosesi masuk Islam ditutup dengan doa dan shalawat.

Menurut Ketua Harian Dewan Kemakmuran Masjid Syaifullah, ini merupakan kali keempat Masjid al-Munawwarah menyelenggarakan kegiatan serupa. Bahkan, katanya, sudah tiga kali pelafalan dua kalimat syahadat dituntun langsung oleh Gus Dur.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron:

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41900/lagi-masjid-gus-dur-tuntun-syahadat-seorang-muallaf

All About Santri

Jumat, 06 Mei 2016

Sowan Pembina, GP Ansor Jati Diimbau Jaga Aset NU

Kudus, All About Santri. Puluhan pengurus Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengadakan silaturahim lebaran kepada pembina dan tokoh NU wilayah setempat, Ahad malam (3/8). Saat di kediaman pembina Ansor KH. Hamdan Suyuti Desa Loram, mereka diimbau turut serta menjaga aset-aset NU.

Dalam pesannya KH Hamdan mengatakan, Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan memiliki banyak aset yang harus diselamatkan, seperti masjid, mushala dan beberapa tanah yang diwakafkan untuk kemaslahatan.

Sowan Pembina, GP Ansor Jati Diimbau Jaga Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sowan Pembina, GP Ansor Jati Diimbau Jaga Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Sowan Pembina, GP Ansor Jati Diimbau Jaga Aset NU

Aset tersebut harus dijaga, jangan sampai hilang. Jika bisa dibuatkan sertifikat NU, ujarnya.

KH Hamdan mengakui kelemahan NU dan badan otonom terlihat pada pengarsipan dokumentasi maupun administrasi. Oleh karena itu harus segera dilakukan pembenahan sehingga aset NU bisa aman dan terdata dengan baik.

All About Santri

Termasuk makam-makam harus segera dibuatkan sertifikat dan diberi nama makam Islam, harap mantan Ketua PC GP Ansor Kudus era tahun 90-an ini.

Sementara menurut penuturan Sekretaris PAC GP Ansor Jati Eko Budi Setiawan, kunjungan ke sejumlah tokoh NU ini banyak memperoleh manfaat berupa masukan saran, dan informasi untuk kemajuan organisasi.

All About Santri

Dikatakan, ragam persoalan yang terjadi di masyarakat seperti ISIS maupun prilaku umat menjadi topik perbincangan yang hangat. Yang jelas silaturahim ini penuh makna demi kemajuan organisasi NU maupun Ansor sendiri, imbuhnya.

Ia menerangkan, momentum idul fitri ini mampu mempererat silaturahim dan memperkuat komponen organisasi untuk selalu berperan aktif di masyarakat. Dalam berorganisasi sering kali ada perbedaan, tetapi kita harus tetap jaga komitmen demi keutuhan generasi muda NU, tutur Eko. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53643/sowan-pembina-gp-ansor-jati-diimbau-jaga-aset-nu

All About Santri

Kamis, 14 April 2016

Fasholatan Kyai Sholeh Darat (1)

All About Santri - Kitab Fashalatan karya KH Sholeh bin Umar as-Samarani (Mbah Sholeh Darat) yang dicetak di Bombai dengan 53 halaman menjelaskan bagaimana shalat dengan baik dan hakikat sholat sesuai ajaran sholat Nabi. Kitab dengan bahasa Jawa Pegon ini diperuntukkan bagi orang awam agar mudah memahami bacaan shalat sekaligus artinya.

Fasholatan Kyai Sholeh Darat (1) - All About Santri
Fasholatan Kyai Sholeh Darat (1) - All About Santri


Fasholatan Kyai Sholeh Darat (1)

Ada langkah-langkah yang harus dijalani oleh umat Islam dalam menjalankan shalat, yaitu bersuci. Secara sistematis Mbah Sholeh Darat menyebutkan bahwa setelah selesai bersuci dzahir sesuai aturan syariah dengan mandi jinabat sebagaimana disebutkan dalam kitab fiqh, maka dapat dilanjutkan dengan menjalankan shalat.

Perintah sholat ini tentunya mengikuti ajaran-ajaran agama Islam yang telah ditentukan. Adapun dalam menjalankan shalat diwajibkan menghadap qiblat. Selain itu juga para umat Islam menjaga kebersihan tempat shalat dan kebersihan hati. Segala bentuk najis dan keteguhan hati menjadi sangat penting dalam menjalankan shalat. Sebab pada hakikatnya shalat merupakan hakikat komunikasi hamba dengan Tuhan.

Hati yang bersih ditandai dengan keikhlasan dzahiriyah menghadap kiblat seiring dengan hadirnya hati kepada Tuhan dengan meletakkan hatinya lillahi ta'ala (hanya kepada Allah). Hati juga perlu terjaga dari segala apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Artinya menjalankan shalat sesuai perilaku Nabi Muhammad SAW.

Dalam posisi shalat, seorang hamba Allah juga diminta untuk mengharap ridla Allah dengan merasakan hadir dan selalu ingat padaNya. Kemantapan dalam hadir di hadapan Allah ini akan menjadikan kualitas shalat semakin baik.

Jika itu semua sudah dijalani, maka kalimat takbir dikumandangkan: الله اكبر. Allahu Akbar, artinya bahwa hatinya mengucapkan Allah dzat yang agung kekuasaannya dan tidak ada yang agung selainnya. Dan tidak ada Tuhan selain Allah. Dan jangan sekali-kali ada harapan meminta pada makhluq yang memiliki sifat mulia. Hanya pada Allah kamu meminta. Tidak ada makhluk yang menyamai Allah.

Setelah bacaan takbir selesai, maka dilanjutkan membaca takbiratul ihram. Bacaan takbiratul ihram yang diajarkan oleh Mbah Sholeh Darat adalah:

وجهت وجهي للذي فطر السموت والارض حنيفا مسلما وما انا من المشركين. ان صلاتي ونشكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين. لا شريك له وبذالك امرت وانا من المسلمين.

........Bersambung

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/fasholatan-kyai-sholeh-darat-1.html

Selasa, 23 Februari 2016

Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan

Mungkin kita sebagai Nahdliyin sering mendengar nama sekaliber KH Hasyim Asyari ataupun KH Wahab Chasbullah, namun kita jarang bahkan tidak mengenal nama KH Ahmad Dahlan. Beliau merupakan salah satu tokoh NU pada era awal yang menjabat sebagai wakil rais aam, satu tingkat di bawah KH Hasyim Asyari yang menjabat sebagai rais akbar Nahdlatul Ulama, juga sebagai penggerak dan pembela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Seperti yang dikatakan oleh Soekarno tentang Jasmerah (angan sekali-kali melupakan sejarah), kita sebagai Nahdliyin dilarang keras untuk melupakan sejarah kita sendiri. Dengan mengenal tokoh-tokoh awal NU, kita dapat meneladani bagaimana perjuangan serta pengorbanan para muassis NU yang tidak hanya menegakkan agama tetapi juga menegakkan berdirinya NKRI hingga dapat kita rasakan sampai saat ini.

Adalah Wasid Mansyur yang berhasil menuangkan dalam sebuah buku tentang biografi, sejarah perjalanan, serta komitmen beliau. Buku ini juga berhasil mengulas pemikiran Kiai Dahlan untuk membentengi akidah rakyat Surabaya pada waktu itu yang mulai terserang virus TBC (Takhayyul, Bidah, Churafat) yang disebarkan oleh firqah di luar Ahlussunnah wal Jamaah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Wahabi dalam magnum opusnya yaitu kitab Tadzkiratun Nafah. Buku ini juga disertai bukti sejarah, sehingga apa yang ditulis dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta tidak sekedar asal bunyi (asbun).

Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan

Kiai Dahlan bernama lengkap Ahmad Dahlan ibn Muhammad Ahyad, terlahir pada 13 Muharram 1303 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Oktober 1885 di Kebondalem Surabaya, sebuah wilayah yang berada di Kecamatan Simokerto, sebelah timur makam Raden Rahmatullah Sunan Ampel, Kiai Dahlan merupakan putra ke empat dari enam bersaudara.(hlm. 4-5) Pendidikan beliau dimulai dari ayahnya sendiri, KH Muhammad Ahyad, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Kebondalem Surabaya. Setelah itu Kiai Dahlan belajar kepada Syaikhona Kholil ibn Abdul Latif (pengasuh pondok pesantren Kademangan, Bangkalan-Madura) lalu dilanjutkan berguru kepada Kiai Mas Bahar ibn Noer Hasan (pengasuh pondok pesantren Sidogiri Pasuruan).(hlm 9-10). Ini membuktikan bahwa keilmuan yang dimiliki oleh Kiai Dahlan merupakan keilmuan yang memiliki sanad yang jelas dan bersambung hingga kepada sayyidina Muhammad, karena banyak anak muda zaman sekarang yang berguru kepada internet yang jelas-jelas tidak memiliki sanad.

Dalam dunia pergerakan, Kiai Dahlan merupakan tokoh yang sangat sentral dalam membangun jaringan antar pesantren, letak pesantren Kebondalem yang strategis memberikan kemudahan tersendiri bagi beliau untuk merintis jaringan tersebut. Dengan jaringan inilah Kiai Dahlan dapat mengerti kondisi terkini yang dihadapi bangsa, termasuk isu-isu tentang keagamaan. Kiai Dahlan juga berperan penting bagi berdirinya Taswirul Afkar (kontekstualisasi pemikiran) yang didirikannya bersama Kiai Wahab dan Mangun, yang mana perkumpulan ini merupakan perkumpulan diskusi/kajian yang membahas dan mencari solusi atas masalah-masalah keagamaan dan sosial kemasyarakatan kaitannya dengan persoalan kekinian yang dihadapi oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Sedangkan dalam urusan pembiayaannya, Kiai Dahlan bersama pimpinan lainnya mendirikan Syirkatul Amaliyyah, yaitu semacam koperasi yang sahamnya dijualbelikan kepada para anggota Taswirul Afkar. Langkah ini disinyalir turut membantu pembiayaan kebutuhan harian, apalagi tidak adanya subsidi dari pemerintah Hindia-Belanda untuk perkumpulan tersebut. Kiai Dahlan bersama para kiai yang lainnya, juga berhasil membentuk MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) pada tanggal 12-15 Rajab 1356 H, bertepatan pada 18-21 September 1937. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menyatukan semangat kebangsaan antar seluruh ormas Islam untuk merespon penjajahan serta mentolerir segala perbedaan antar ormas sebagai sebuah keniscayaan.

All About Santri

Kiai Ahmad Dahlan juga menulis sebuah kitab pencerahan kepada umat, khususnya warga Surabaya untuk menyikapi kondisi sosial keagamaan yang tengah terjadi pada masyarakat umumnya. Misal, Kiai Dahlan menegaskan bahwa pada prinsipnya setidaknya dari kacamata Syafiiyyah ada keharusan melaksanakan shalat Dhuhur bagi pelaku Shalat Jumat yang diadakan di dua masjid atau lebih dalam satu wilayah. Hanya saja, ketegasan ini digarisbawahi dengan penyuguhan pandangan jika pelaksanaan shalat Jumat dalam dua tempat di satu wilayah tidak ada kebutuhan. Bila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya masjid awal tidak cukup, maka shalat Jumat di dua Masjid dalam satu wilayah diperbolehkan sehingga tidak ada keharusan shalat dhuhur setelah shalat Jumat usai. (hlm. 83-84).

All About Santri

Kemudian yang menjadi perhatian Kiai Dahlan adalah merebaknya pembidahan kepada amaliyah warga NU. Dalam tulisannya tersebut, Kiai Dahlan dengan tegas mengawali Bahwa semua yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi adalah bagian dari vidah merupakan orang yang bodoh dan tidak memiliki pendirian yang kuat (al-Juhlal al-Mutahawirun). Untuk memperkuat pandangannya, Kiai Dahlan mengutip bidah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khattab yang mengerjakan terawih secara berjamaah, yang kemudian Sayyidina Umar mengatakan Sebaik-baiknya bidah adalah ini. (hlm. 88).

Beliau juga mengulas pandangannya tentang pola serta perilaku kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam tetapi tindakannya sama sekali tidak mencerminkan budi pekerti Islam. Mereka hanya memaksakan kehendak menjadi Islam yang paling benar, padahal mereka seharusnya bisa belajar kepada empat imam mazhab yang memiliki pandangan tersendiri tetapi tetap menjaga toleransi hingga akhir hayatnya.

Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kita bagaimana menjaga serta mempertahankan paham dan ideologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, ditambah lagi di era yang serba canggih ini kelompok-kelompok di luar paham tersebut akan lebih mudah menyebarkan virus-virus radikalnya serta dengan mudahnya mereka mengkafirkan amaliyah-amaliyah warga Nahdliyyin. Kiai Dahlan juga mengajarkan kita bagaimana menyatukan semangat kebangsaan kita dan menghargai perbedaan pendapat sebagai sebuah keniscayaan serta menjaga keutuhan NKRI di tengah arus rongrongan makar yang dilakukan oleh segelintir kelompok Islam.

Data buku

Judul : Biografi Kiai Ahmad Dahlan; Aktivis Pergerakan dan Pembela Ajaran Aswaja

Penulis : Wasid Mansyur

Penerbit : Pustaka Idea

Terbitan : I, 2015

Tebal : xxiv + 144 hlm

ISBN : 978-602-72011-5-6

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63592/kiai-ahmad-dahlan-pejuang-nu-yang-terlupakan

All About Santri

Jumat, 22 Januari 2016

PBNU Bantu Unsuri Dua Laboratorium Teknik

Surabaya, All About Santri. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membantu dua laboratorium teknik Universitas Sunan Giri Surabaya untuk mengembangkan kualitas pendidikan setempat.

"Tapi, Ketua Umum PBNU Dr KH Said Aqil Siroj batal meresmikan, karena mendadak sakit," kata Kepala Laboratorium Teknik Sipil dan Mesin Unsuri Ir Eddy Ernanto MP di kampus setempat, Ahad.

PBNU Bantu Unsuri Dua Laboratorium Teknik (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Bantu Unsuri Dua Laboratorium Teknik (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU Bantu Unsuri Dua Laboratorium Teknik

Di sela-sela peluncuran laboratorium teknik yang dilakukan salah seorang ketua Dewan Pembina Yayasan Unsuri Dr H Taufiqurrahman Saleh SH MHum, ia menjelaskan dua laboratorium adalah sipil dan mesin.

All About Santri

"Bangunan laboratorium itu bantuan PBNU sepenuhnya, tapi peralatan mesin-mesin dalam dua laboratorium itu kami beli sendiri untuk praktik bagi 180 mahasiswa," kata ahli teknologi pertanian itu.

Eddy Ernanto yang juga dosen Universitas Brawijaya Malang itu mengatakan gedung laboratorium teknik sipil yang bersebelahan dengan gedung laboratorium teknik mesin itu dibangun dalam waktu dua bulan.

"PBNU sendiri yang minta kami membangun secara cepat, namun bantuan itu merupakan stimulasi untuk kami yang akan mengembangkan laboratorium terpadu hingga lima lantai," katanya.

All About Santri

Menurut dia, laboratorium teknik sipil dan mesin itu bukan hanya untuk kepentingan akademik, melainkan masyarakat umum yang ingin melakukan tes atau uji beton juga akan dilayani.

"Itu karena kami memiliki peralatan yang memadai, di antaranya alat ukur tanah, mesin las, alat bor, mesin bubut, alat gerinda, alat ke-PU-an, bahkan alat ukur yang kami miliki cukup canggih, meski kecil, karena computerized," katanya.

Dengan peralatan yang ada, ia meyakini Unsuri akan mampu mencetak mahasiswa yang minimal ahli dalam bidang ke-PU-an atau infrastruktur, seperti mengukur tanah, mengukur jalan, dan sebagainya.

Selain itu, mahasiswa juga bisa berwirausaha dalam bidang pembuatan pagar, ketepatan pengeboran/pengelasan, dan sebagainya. "Apalagi, bila cita-cita kami membangun laboratorium terpadu bisa terwujud dalam 5-6 tahun ke depan," katanya.

Dalam sambutannya, salah seorang Ketua Dewan Pembina Yayasan Unsuri Dr H Taufiqurrahman Saleh SH MHum mengaku bangga dengan perkembangan Unsuri dalam beberapa tahun terakhir yang merupakan dampak dari kebersamaan untuk maju.

"Yang membanggakan, saya selalu melihat kemajuan Unsuri pada setiap datang kemari. Unsuri sudah memiliki laboratorium Bahasa Arab dan Inggris, micro teaching, laboratorum TIK, dan peradilan semu," katanya.

Baginya, kemajuan dalam bidang teknologi itu membanggakan, karena negara maju itu umumnya negara yang memiliki sarjana teknik lebih banyak daripada sarjana sosial. "Saya kira, Unsuri sudah berada pada trayek yang benar," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50955/pbnu-bantu-unsuri-dua-laboratorium-teknik

Rabu, 20 Januari 2016

Jelang Pilkada, Kiai Tebuireng Instruksikan Pulang Santri Asal DKI Jakarta

All About Santri - Saat khutbah Jumat di Pesantren Tebuireng (03/02/2017), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng KH Ahmad Mustain Syafiie menghimbau agar santri asal Provinsi Jakarta pulang dan menggunakan hak pilihnya dalam Pilgub DKI Jakarta, 15 Februari 2017.

Jelang Pilkada, Kiai Tebuireng Instruksikan Pulang Santri Asal DKI Jakarta
Jelang Pilkada, Kiai Tebuireng Instruksikan Pulang Santri Asal DKI Jakarta


"Murni sebagai khotib saya mengingatkan, santri asal DKI yang sudah punya hak pilih, pulanglah. Gunakan hak pilih. Izin pada lembaga," tuturnya.

Memilih pemimpin, Kata Kiai Tain, termasuk bagian dari agama. "Muslim, wajib memilih pemimpin muslim," tandasnya. Menggunakan hak pilih, juga termasuk bagian bela negara. Sekaligus wujud cinta tanah air.

"Kita sama-sama sudah melihat yang keluar dari mulutnya, yang tersimpan dalam hatinya jauh lebih besar. Jauh lebih besar," ucapnya mengutip QS Ali Imron 118, Qod badatil baghdloo'u min afwahihim (telah nyata kebencian dari mulut mereka).

Wama tuhfi suduruhum akbar (dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka jauh lebih besar lagi). Siapa yah yang dimaksud Kiai Mustain dalam kutipan dua ayat ini? Entahlah! [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/jelang-pilkada-kiai-tebuireng-instruksikan-pulang-santri-asal-dki-jakarta.html

Rabu, 06 Januari 2016

Suluk Keselamatan Kaum Petani

Warga desa Kuanyar, kecamatan Mayong, Jepara, Jawa Tengah dari letak geografisnya berada di pantai utara sebenarnya dekat budaya pesisir. Namun begitu kebanyakan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup kesehariannya dengan bertani. Ketekunan mereka bertani dikuatkan dengan jalan mengikuti tarekat aliran Syattariah.

Tarekat Syattariah didirikan seorang sufi dari India, Abdullah Syattar. Tarekat ini di Nusantara kurang memiliki pengaruh signifikan. Tarekat ini berkembang di Sumatra dan Jawa melalui jalur Abdurauf ibn al-Sinkili. Sedangkan ke Jawa melalui murid Syaikh Abdurauf, Syaikh Abdul Muhyi.

Suluk Keselamatan Kaum Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk Keselamatan Kaum Petani (Sumber Gambar : Nu Online)


Suluk Keselamatan Kaum Petani

Silsilah tarekat Syattariah di Kuanyar geneologinya kurang jelas. Dari hasil pengkajian buku ini hanya diketahui jalur pengabsahan tarekat ini hanyalah sampai kepada Kiai Murtadlo yang dinisbahkan sebagai cicit syaikh Mutamakin. Urutannya adalah dari Syaikh Kiai Murtadlo, ke Kiai Andurahman, Bangle, Kiai Janamin (w.1918), Kiai Abdul Hadi (w. 1956), Kiai Syihabuddin, Kuanyar.

***

All About Santri

Kajian Nur Syam dalam buku ini mencermati fenomena penganut tarekat Syattariah lokal yang kebanyakan berprofesi petani. Ada beberapa fenomena dari kajiannya tersebut tertuang dalam buku ini;

All About Santri

Pertama berkaitan dengan kesederhanaan dan gaya hidup mereka. Itu terlihat dari pola berpakaian mereka amat sederhana, bahkan sekedar aurat tertutupi. Itu terlihat ketika mereka berpakaian dalam forum resmi, misalnya menghadiri pengajian umum, tawajuhan, tahlilan dan forum-forum tidak resmi semacam di rumah, menerima tamu, ke pasar, ke tempat perdagangan. Salah satu responden yang diteliti hanya memiliki pakaian khas untuk sembahyang sebanyak dua potong dan sarung dua potong, celana dua potong serta tiga potong pakaian kerja. (hlm 162-163).

Kedua berkaitan daya kerja mereka tinggi. Meskipun profesinya petani, dimana waktu kerja keras hanya menjelang masa tanam dan masa panen, mereka memiliki waktu istirahat relatif sedikit, apalagi kalau musim bekerja di sawah, menanam atau panen. Mereka jarang tidur siang, walaupun malamnya mengikuti pengajian sampai larut malam. Rata-rata mereka tidur sekitar empat sampai enam jam.

Mereka bekerja di sektor pertanian dengan tanah relatif sempit, mengharuskan mereka untuk bekerja di sektor lainnya, misalnya perdagangan. Karena usaha dagangnya, hampir setiap hari mereka pergi ke sawah satu ke sawah lainnya. Bahkan dari pagi sampai sore mereka masih berkutat dengan usahanya tersebut, mulai dari mengawasi orang bekerja, memanen padi di sawah sampai menimbang gabah dan menjualnya atau mengeringkan di mesin penggiling padi. (hlm 130-131).

Ketiga berkaitan dengan aktivitas sosialnya. Walau mereka memiliki waktu istirahat relatif sedikit, akan tetapi kenyatannya juga tidak mengurangi aktivitas lainnya yang terkait dengan kehidupan sosial kemasyarakatannya.

Berdasarkan pengamatan terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh penganut tarekat bahwa kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial dimana mereka berada juga cukup tinggi. Hal ini dapat diamati di kala mereka sedang berada di sawah. Mereka juga mengerjakan seperti pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja lainnya.

Mereka mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kelangsungan kegiatan tahlilan sebagai salah satu kegiatan yang mempunyai makna religius dan juga sosial. Sebab dengan tahlil ini manusia akan saling membantu terhadap sesamanya dalam bentuk bacaan tahlil yang ditujukan kepada keluarga si empunya rumah yang ditempati tahlil.(hlm 180-181)

Keempat berkaitan dengan aktivitas ibadah sebagai anggota tarekat juga intens dan kuat. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-hari mereka juga melakukan berbagai shalat sunnah. Di antara shalat yang selalu dilakukannya ialah shalat rawatib empat rakaat sebelum dan sesudah shalat wajib, sahalat tahajud, shalat dhuha dan kegiatan wirid yang harus dibacanya sehari semalam sebanyak 3.000 kali.

Dari penelitiannya ini Nur Syam menyimpulkan bahwa fenomena pengikut tarekat Syattariah lokal di Kuanyar, Mayong, Jepara yang kebanyakan berprofesi petani perilakunya sangat dekat dengan konsepsi budaya Jawa, slamet, keselamatan. Dalam berbagai tindakan yang dilakukan maka orang Jawa akan mengedepankan slamet sebagai referensinya. Keselamatan di dunia dan di akherat.

Sebagai penganut tarekat mereka menyadari betapa pentingnya menjaga keselamatan didalam kehidupannya. Itulah sebabnya mereka menyatu dengan budaya Jawa dimana mereka hidup. Mereka tidak menciptakan sendiri budayanya yang terlepas dari lingkungan sosialnya, akan tetapi menyatukannya di dalam bingkai kehidupan yang memberinya rasa aman tanpa gangguan. Dalam tataran kehidupan dunianya tersebut, mereka selalu terlibat di setiap kegiatan masyarakat yang menyelenggarakan upacara-upacara keagamaan dan sosial. Bahkan mereka mementingkan menjaga kebersamaannya dengan masyarakat lainnya jika ada kegiatan yang memang mengharuskannya berbuat seperti itu. (hlm 199-200).

Apa yang ditorehkan Nur Syam dalam buku ini menunjukkan bagaimana petani lokal Kuanyar yang ikut tarekat Syattariah, memiliki konsep hidup manusia itu mencari keselamatan. Konsep tersebut mereka dalami dari ajaran agama Islam dan budaya Jawa yang keduanya menemui titik temunya dalam jalan keselamatan. Jalan keselamatan tersebut ditempuh dengan rukun dengan sesama, dengan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hidup sederhana, dan selalu ingat dan beribadah kepada tuhan yang maha kuasa.

Buku ini menarik, mengetengahkan catatan semi antropologis kehidupan petani lokal pengikut tarekat Syattariah, memberikan cakrawala baru bagi kita terutama berkaitan dengan kajian tarekat di Nusantara dengan sudut pandang bukan lagi politik, ekonomi melainkan budaya. Walau kurang mendalam setidaknya buku ini sudah memulai sesuatu yang baru untuk dikembangkan lebih lanjut.***

Judul Buku: Tarekat Petani Fenomena Tarekat Syattariah Lokal

Penulis: Prof Dr Nur Syam, MA

Editor: Musnif Istiqomah

Penerbit: LKiS Jogjakarta

Cetakan I: 2013

Tebal Buku: xiv + 236 Halaman

Peresensi: Muhamad Rifai, seorang petani, tinggal di Temanggung, Jawa Tengah

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47746/suluk-keselamatan-kaum-petani

Kamis, 10 Desember 2015

Ribuan Umat Islam Hadiri Haul Gus Dur

Pekalongan, All About Santri. Ribuan umat Islam dari Pekalongan dan sekitarnya tadi malam menghadiri acara kedua Haul Gus Dur yang digelar warga nahdliyyin Kota Pekalongan Aswaja Jalan Sriwijaya 2.

Meski sebelumnya Kota Pekalongan sempat diguyur hujan, tak menyurutkan langkah ribuan warga nahdliyyin untuk berbondong bondong menuju Gedung Aswaja untuk bersama sama mendoakan KH Abdurrahman Wahid bersama para habaib, kiai dan tamu undangan termasuk Wakil Walikota Pekalongan.

Ribuan Umat Islam Hadiri Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Umat Islam Hadiri Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


Ribuan Umat Islam Hadiri Haul Gus Dur

Ketua panitia Haul Gus Dur KH Kasiman Mahmud Desky kepada NU Onl

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35670/ribuan-umat-islam-hadiri-haul-gus-dur

All About Santri

Kamis, 22 Oktober 2015

Menteri Desa Ajak Pesantren Pertahankan Nilai Pancasila

Ogan Ilir, All About Santri. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Marwan Jafar menegaskan, Pancasila adalah dasar negara bagi seluruh masyarakat Indonesia termasuk warga pesantren.

Dalam kunjungannya di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiyah Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan, Kamis (2/6), ia mengajak seluruh warga pesantren untuk ikut serta mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila.

Menteri Desa Ajak Pesantren Pertahankan Nilai Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Desa Ajak Pesantren Pertahankan Nilai Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)


Menteri Desa Ajak Pesantren Pertahankan Nilai Pancasila

"Pesantren-pesantren di Indonesia juga sudah secara sah dan meyakinkan ikut serta mengembangkan nilai-nilai Pancasila, bukan nilai-nilai yang lain. Landasan kita adalah Pancasila, tidak ada paham yang lain. Apalagi kemarin (1/6) sudah diperingati hari Lahir Pancasila. Pemerintah sudah mengeluarkan Kepres (Keputusan Presiden) bahwa 1 Juni adalah hari lahirnya pancasila, dan hari libur nasional," ujarnya.

All About Santri

Marwan mengatakan, keberadaan pesantren di Indonesia telah terbukti mampu membentengi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kehadiran pesantren juga berhasil menciptakan kedamaian dan ketenangan negara, dibandingkan dengan Negara di Timur Tengah yang rawan terjadi perang.

"Bahwa pesantren juga selalu mengakomodasi dengan keadaan-keadaan yang terus berkembang, saya yakin seyakin-yakinnya itu. Tetapi yang lebih penting bahwa pesantren juga tidak lupa dengan misi dasarnya, tidak lupa dengan asas dasar, dan tidak lupa dengan ajaran-ajaran dasarnya," ujarnya.

All About Santri

Di sisi lain, Marwan juga mengatakan, bahwa pemerintah saat ini telah berkomitmen untuk membangun Indonesia melalui desa-desa. Pemerintah dalam hal ini menjamin, bahwa program-program pemerintah termasuik dana desa, adalah program-program yang bermanfaat untuk masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

"Dana desa yang dikucurkan pemerintah adalah upaya menggelorakan pembangunan yang beradilan. Pengucuran dana desa sebagai upaya pemerintah untuk mewujudkan baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur, yakni negara yang makmur dan sejahtera," terangnya.

Terkait hal tersebut, Marwan mengajak seluruh Kepala Desa (Kades) khususnya di lingkungan Kabupaten Ogan Ilir, agar dapat menggunakan dana desa dengan sebaik-baiknya.

"Dana desa kalau berhasil digunakan dengan sebaik-baiknya oleh para Kades, masyarakat desa ikut sejahtera. Ketika ekonomi desa meningkat, maka Kadesnya mendapat keberkahan di sisi Allah SWT. Mari Kita Gunakan dana desa untuk mewujudkan Indonesia yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Marwan juga blusukan ke Desa Pulau Semambu, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir. Ditemani Kepala Desa Pulau Semambu, Suparmin, ia menegaskan bahwa Pembuatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa), maupun laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran Dana Desa (DD) cukup dua lembar saja.

"Jadi RPJMDesa itu bisa dua lembar. Programnya-lah. Kalau laporannya, cash flow saja. Tidak usah terlalu tebal, biar lebih mudah untuk membuat dan memahami," ucap Marwan.

Marwan juga menegaskan bahwa pemanfaatan DD lebih baik memanfaatkan tenaga lokal, atau bersifat padat karya. Ini akan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi desa setempat. Misalnya untuk peningkatan kerja dan ekonomi masyarakat setempat.

"Misalnya jalan desa, bisa dikerjakan bersama-sama, padat karya. Tidak perlu pihak ketiga atau kontraktor untuk menggarap jalan desa. Sehingga, masyarakat desa bisa terlibat semua," ujarnya.

"Kan bisa dihitung, kalau pekerja itu sekian keneknya juga berapa. Jika perharinya 100, keneknya 40, kan lumayan seulan dua bulan terserap maksimal 3 bulan. jangan sampai keluar (dari desa), supaya uang itu tetap berputar di desa. Bukan kembali lagi ke kota," lanjut Marwan. (Red-Zunus)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68726/menteri-desa-ajak-pesantren-pertahankan-nilai-pancasila

All About Santri

Senin, 05 Oktober 2015

NU, Desa, dan Problem Industrialisasi

Oleh Achmad Faiz MN Abdalla

Bicara pembangunan desa, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan, yakni government, movement, dan culture (Marwan Jafar, Jawa Pos, 17 Februari 2016). Maka, ada pemerintah sebagai pemangku kebijakan, ada gerakan serta partisipasi masyarakatnya, dan ada nilai-nilai budaya serta kearifan lokal yang harus dikedepankan. Ketiganya merupakan perspektif utuh, bukan parsial, agar pembangunan desa tidak timpang.

NU, Desa, dan Problem Industrialisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Desa, dan Problem Industrialisasi (Sumber Gambar : Nu Online)


NU, Desa, dan Problem Industrialisasi

Lahirnya UU 6/2014 disebut sebagai paradigma baru pembangunan desa. Desa menjadi isu menarik, terutama dari aspek ekonomi. Tahun ini dana desa naik menjadi Rp 60 triliun. Pada 2015 lalu, berjumlah Rp 21,7 triliun, 2016 naik menjadi Rp 46,9 triliun. Pada 2016, alokasi dana desa dikonsentrasikan pada infrastruktur sarana dan prasarana desa, yakni 81,14 persen. Adapun pemanfaatannya berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB) 0,82 persen, pertumbuhan ekonomi naik 0,041 persen, dan penurunan kemiskinan 0,38 persen.

Kebijakan itu menunjukkan, perhatian pemerintah dibuktikan selain pada penguatan yuridis-politis, juga pada anggaran. Desa merupakan jantung negara, karena merupakan basis pertanian. Namun ironisnya, pangan yang diproduksi di desa justru menjadi sumber kemiskinan di desa. Maka, kebijakan tersebut diharapkan berdampak penting, terutama pada kesejahteraan masyarakat desa. Tahun ini, diharapkan pemanfaatan dana desa berdampak lebih signifikan pada pertumbuan ekonomi dan pemangkasan kesenjangan.

All About Santri

All About Santri

Namun tak kalah penting, unsur culture juga harus diperhatikan. Seringkali, pembangunan hanya memperhatikan infrastruktur dan ekonomi, namun mengabaikan nilai budaya dan kearifan lokal. Akibatnya, kemungkinan terjadinya pergeseran culture sangat terbuka. Ke depan, desa berpotensi menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi nasional. Agar pembangunan desa tetap dalam perspektif utuh, maka nilai budaya dan kearifan lokal harus tetap dijaga.

Desa Banyutengah, Sebuah Studi Kasus

Desa Banyutengah barangkali merupakan potret yang menarik. Desa ini termasuk wilayah administratif Kabupaten Gresik. Seperti umumnya kabupaten atau kota di Jawa Timur, Kabupaten Gresik merupakan basis warga NU. Barangkali apa yang dialami Desa Banyutengah juga jamak dialami oleh basis-basis NU lainnya, terutama yang mengalami proses industrialisasi. Karenanya, penting untuk diperhatikan NU.

Sekitar tahun 1900-an, Banyutengah merupakan desa agraris. Perekonomian masyarakat bertumpu pada pertanian secara turun-temurun. Sebenarnya, desa ini terletak di sekitar pesisir, karena hanya dipisahkan satu desa dengan laut. Namun karakteristik masyarakat pesisir sama sekali tidak nampak di desa ini. Tidak ada warga desa yang berprofesi nelayan. Bilapun ada, merupakan warga pindahan desa sebelah.

Desa ini dibelah oleh Jalan Daendels. Sebelah utara jalan merupakan permukiman warga, sedang selatannya merupakan perbukitan kapur. Sudah lama ada aktivitas penambangan galian C atau batu kapur di perbukitan itu. Tidak jelas asal mulanya. Dulu sekedar produksi batu kapur untuk dinding bangunan. Seiring dengan perkembangan zaman, industri pabrik masuk ke desa itu. Sekitar tahun 2000-an, berdiri beberapa pabrik berskala besar. Pergeseran struktur perekonomian pun terjadi.

Sebelum industri pabrik masuk, penambangan masih bersifat tradisional. Saat itu belum terlalu banyak masyarakat yang menggantungkan penghidupannya di penambangan. Struktur perekonomian dan tradisi pertanian masih dominan. Namun setelah industri pabrik masuk, perlahan, pertanian mulai digusur oleh industri tambang. Bahan galian C pun diproduksi lebih beragam, seperti pupuk dolomite, phospat, dan lainnya.

Perbukitan pun habis, dikeruk dalam skala besar. Bahkan sekarang menjadi lubang besar menyerupai danau. Tidak hanya di satu titik, tapi beberapa titik. Terbayang kan, masalah apa yang akan dihadapi? Tentu masalah ekologis. Belum lagi, limbah pabrik yang setiap hari kurang terkontrol, terutama limbah asap. Tanah-tanah pertanian pun telah banyak dijual mengingat sepanjang pesisir Gresik-Lamongan telah berdiri banyak pabrik besar. Industrialisasi pun tak terlelakkan.

Akibatnya, terjadi pergeseran budaya dari masyarakat agraris ke industri. Tanah pertanian semakin sempit, dijual ke perusahaan. Iming-iming harga jual tinggi, masyarakat secara masif menjual tanahnya tanpa memikirkan dampak ekologis dan sosiologisnya di kemudian hari. Hal itu juga dipengaruhi tidak adanya peran Pemerintah Desa untuk memproteksi wilayahnya melalui perdes rencana tata ruang dan wilayah. Kini, desa mengalami persoalan regenerasi petani, karena warganya menjadi lumbung buruh pabrik.

Beberapa waktu lalu, salah seorang buruh pabrik mengalami kecelakaan kerja. Lukanya sangat parah. Ia mengalami cacat dan telah menjalani masa penyembuhan berbulan-bulan. Apakah perusahaan memenuhi hak-haknya? Masih jauh dapat dikatakan demikian. Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja belum terpenuhi dengan baik. Pun hak-hak perburuhan lainnya. Hingga kini, kesadaran akan hal itu relatif rendah. Masyarakat berada sebagai pihak yang lemah, karena minimnya akses pengetahuan dan bantuan hukum.

Dalam struktur perusahaan, buruh merupakan pihak yang rentan terhadap pelanggaran hak. Ia paling berpotensi dikalahkan kepentingannya, sehingga merupakan pihak yang lemah. Sejauh ini, hal itu belum teratasi di Banyutengah. Pemenuhan hak-hak pekerja belum menjadi kesadaran kolektif. Keadaan ini linier dengan kewajiban perusahaan kepada masyarakat. Bila ditelisik lebih, sebenarnya banyak kewajiban perusahaan kepada masyarakat yang diabaikan. Contoh yang paling nyata adalah limbah pabrik.

Pergeseran Nilai Budaya

Pergeseran dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, juga berdampak pada pergeseran nilai budaya dan kearifan lokal. Maka seperti yang dijelaskan di atas, nilai budaya serta kearifan lokal harus dikedepankan dalam pembangunan desa, mengingat unsur ini sering diabaikan. Pengalaman telah membuktikan, pergeseran struktur perekonomian umumnya akan diikuti pergeseran nilai-nilai budaya.

Di Banyutengah sendiri, gejala itu telah lama tampak. Semakin hari, semakin terlihat kerenggangan-kerenggangan sosial. Budaya guyub mulai hilang. Dulu, langgar-langgar ramai dipenuhi muda-mudi mengaji. Bila waktu maghrib tiba, masjid dan langgar-langgar bersahutan mengumandangkan adzan. Kini langgar-langgar itu telah sepi, tidak ada yang mengurus. Suara dziba dan yasinan yang rutin terdengar setiap malam Jumat, kini tak serutin dulu. Budaya kerja pabrik telah menggusur tradisi masyarakat.

Persoalan Jamak NU

Apa yang dialami Desa Banyutengah di atas, barangkali sedang atau akan dialami basis NU lainnya, seiring kampanye pembangunan desa ke depan. Terutama desa yang masuk dalam kerangka industrialiasasi, kemungkinan itu sangat terbuka. Bukan berarti NU menolak pembangunan, justru sebaliknya, sangat mendukung. Namun harus diperhatikan, bagaimana pembangunan tersebut tetap dalam perspektif utuh. Maka, keadaan itu harus menjadi perhatian NU, mengingat basis pendukungnya merupakan masyarakat desa.

Persoalan hak-hak masyarakat harus menjadi prioritas. Guru Besar UI, Sulistyowati Irianto, menyebut akses keadilan belum dapat dinikmati semua kalangan, terutama masyarakat miskin dan kelompok lain yang tak diuntungkan. Rendahnya kualitas SDM dan kecilnya akses pengetahuan hukum masyatakat desa, menempatkan mereka sebagai pihak yang lemah ketika berhadapan dengan perusahaan dan pemerintah. Karena itu, harus ada formulasi agar masyarakat desa tercakup dalam akses keadilan.

Menurut Sulistyowati, ada empat pilar untuk memastikan akses keadilan tersebut, yaitu akses hukum-kebijakan pro poor, akses identitas hukum, akses pengetahuan hukum, dan akses bantuan hukum (Kompas, 16 Maret 2017). Kesemua pilar tersebut, tentu relevan untuk menjawab kebutuhan akses keadilan di desa. Misal saja, perlunya sosialiasi sejumlah peraturan hukum yang menjamin hak-hak dasar untuk bisa hidup, bekerja, dan mendapatkan berbagai layanan publik. Literasi hukum akan membekali masyarakat untuk kritis apabila haknya dilanggar.

Selain itu, diperlukan strategi untuk mengantisipasi pergeseran nilai budaya dan kearifan lokal. Desa merupakan model negara dan pemerintahan Indonesia asli. Di desa, nilai-nilai keindonesiaan masih nampak dan dipertahankan. Bila hal itu juga hilang dari desa, maka identitas bangsa semakin kabur. Desa sebagai benteng terakhir, bila akhirnya juga roboh, maka pembangunan yang dilakukan justru menggerogoti budaya itu sendiri. Ini harus menjadi peringatan, sekali lagi, terutama bagi NU.

* Penulis kader IPNU Banyutengah, Gresik

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77062/nu-desa-dan-problem-industrialisasi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock