Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Klarifikasi MUI Terhadap Fitnah Irfan Helmi

All About Santri - Rilis Ketika Grand Syeikh Al-Azhar Ahmad Muhammad Ath Thayyib Dijadikan Alat Propaganda dan Fitnah oleh kaum wahabi.

Klarifikasi MUI Terhadap Fitnah Irfan Helmi
Klarifikasi MUI Terhadap Fitnah Irfan Helmi


Berikut klarifikasi MUI Pusat terkait broadcast seorang wahabi di MUI bernama Irfan Helmi:

Terhadap peredaran catatan berjudul "Rangkuman sikap Pimpinan MUI thd ceramah Syaikh Akbar al-Azhar, Syaikh Ahmad Muhammad ath-Thayyib al-Asy'ariy di kantor MUI pada Senin, 22 Feb 2016" yang ditulis Irfan Helmi, dinyatakan bukan dari MUI dan bukan resume hasil pertemuan syaikh al-Azhar dengan MUI. Prof. Dr. Syaikh Ahmad at-Thayyib merupakan Grand Syaikh al-Azhar yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh MUI. Untuk hal tersebut agar tidak terjadi salah faham maka segala Informasi tentang kunjungan Syaikh Al Azhar ke MUI bisa berkomunikasi dan mendapat penjelasan dari KH Muhyiddin Junaidi, MA, Ketua MUI bidang Kerjasama Luar Negeri.

Sekretariat MUI Jakarta, 24 Februari 2016

Source: http://mui.or.id/homepage/berita/klarifikasi-mui-tentang-rangkuman-sikap-mui-terhadap-ceramah-grand-syaikh-al-azhar.html


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/klarifikasi-mui-terhadap-fitnah-irfan.html

Jumat, 29 Juli 2016

Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor

All About Santri – Para pendemo aksi damai (tapi rusuh) pada 4 November 2016 kemarin tidak menerima permintaan maaf Ahok karena dianggap telah menistakan Al-Qur’an dan meminta proses hukum terus berjalan. Nah, bagaimana jika salah satu kader organisasi yang ikut demo kemarin harus tetap diproses hukum karena menghina NU dan kiai nya, walau sudah meminta maaf?

Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor - All About Santri
Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor - All About Santri


Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor

Namanya Deni Iskandar, yang di Facebook menggunakan nama Dheny Goler Tea. Entah sebab apa, Sekum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menghina dengan mulut kasarnya.

Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor - All About Santri
Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor - All About Santri


Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor

Dalam status Facebook, ia menyebut Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang tidak punya kelam!n hanya karena tidak ikut berpartisipasi dalam demonstrasi politis yang mengatasnamakan “Bela Islam II” itu.

Mahasiswa Unas Beratribut HMI Disebut Ratu Adil "Terdepan Memicu Kerusuhan" Demo

Lebih dari itu, Dheny juga membela FPI sembari menyebut NU sebagai ormas pemecah belah. “Yang mecah belah ini adalah Nahdlatul Ulama. Ganti aja namanya, jangan Nahdlatul Ulama tapi Nahdlatul Udud,” tulisnya.

Tidak puas menertawakan NU, ia meminta pecat Ketum PBNU yang disebutnya pen****. “Kau ji***-ji*** itu pan tatnya Ahok dan Jokowi wahai para ulama pen****,” sarkas mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama UIN Jakarta ini.

Berbeda dengan kasus penistaan Al-Quran yang masih multitafsir, kanda Dheny yang kader Nurkholis Majid ini (biasanya moderat sih), sudah terang benderang menghina secara sad1s dan tidak berdasar kepada NU dan simbol tertingginya, yakni Ketua Umum.

Emosinya tidak tertahan sehingga harus membuat statemen yang menyakiti warga NU (nahdliyyin). Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di seluruh dunia.

Kalau saja Dheny penghina NU itu ke Madura, kata warga sana, dikutip Duta Islam, ada yang siap memberi dia cicipan celurit emas untuk diminta klarifikasi.

Sudah menjadi organ biang kerusuhan demo 4 November 2016 kemarin (kata Kapolda lho yah), ini malah ada kader HMI (Dhenny) bikin rusuh lagi di media sosial. Kalau hanya mengkritik, tidak masalah. Tapi jika sudah menghina, permintaan maaf saja, -sebagaimana logika Front Pembela Islam (FPI),- tidaklah cukup.

Ketakutan, ia menghapus sendiri postingan yang membuatnya blunder tidak karuan itu. Dalam akun Facebook tersebut, ia kemudian mengklarifikasi dengan meminta maaf. Ini teks lengkapnya:

====================

Assalamualaikum wr. wb.

Saya atas nama pribadi, Deni Iskandar, mengucapkan banyak-banyak minta maaf, atas status Facebook saya yang banyak menyinggung warga nahdiyyin.

Saya juga berterima kasih kepada guru-guru saya, senior-senior saya baik, senior pondok pesantren, maupun senior dan guru-guru saya di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang sudah mengingatkan saya, mengkritik saya, dan mengingatkan saya.

Apa yang saya tulis dalam status facebook saya, itu merupakan kegelisahan saya dalam melihat realitas NU saat ini. Dan dalam penulisan status tersebut, tidak ada yang mendorong saya, menyuruh saya dalam menuliskan hal tersebut.

Ada pun statmen saya dianggap mempropokasi sekaligus dianggap menghina secara Institusi NU, maka saya mohon maaf, mungkin ini adalah ketidak tahuan saya, saat NU melakukan Ijtihad, selain itu kurangnya Informasi yang saya ketahui, tentang latar belakang kenapa Harus ada Surat Himbauan, dari NU sebagai organisasi Islam, yang konsisten mempertanankan NKRI.

Secara Pribadi, saya mohon maaf, sebesar-besarnya, bila ada yang tersinggung pada status facebook saya, salah, dan khilaf, sejatinya merupakan sifat dasar manusia sebagai "Insan" semoga dengan begini, saya secara pribadi bisa lebih bijak, sekaligus lebih banyak belajar lagi, sekaligus lebih banyak Silaturahmi lagi dengan warga Nahdiyyin, sekaligus kiai-kiai dan guru guru.

Status Facebook itu, datang dari diri saya secara pribadi. Tidak ada gading yang tak retak, manusia secara alamiah, tempatnya salah. Persoalan pernyataan Facebook saya, itu hasil dari pemikiran saya. !. Mohon dimaklumi dan di pahami.

Sekali lagi, saya secara pribadi, meminta maaf kepada semua warga Nahdhayyin dimana pun berada.

Billahi Taufiq Wal Hidayah

Wassalamualaikum wr.wb.

Deni Iskandar.

Pemilik akun Facebook

"Dheny Gholer Tea"

====================

Meski begitu, Sekretaris PC GP Ansor Tangerang Selatan (Tangsel) sudah melaporkan Dheny ke Polres setempat pada Ahad (6/11/2016). Walau ia sudah mengaku khilaf dengan alasan minim menerima informasi terkait NU, tetap saja harus diusut tuntas secara hukum agar tidak ada lagi oknum-oknum culun semacam itu bergentayangan di dunia maya.

Lapor: Ansor Tangsel melaporkan Deny ke Polisi

Foto: KBAswaja Informasi yang diterima Duta Islam menyebutkan kalau kasus ini sudah masuk daftar intel. Dilaporkan oleh Tim Cyber Kantor Berita Aswaja (KBA). Mari kita kawal dengan menandatangani petisi Online. Klik SINI. [All About Santri]

Status Deni Iskandar yang menghina NU Ini loh yang bernama Deni Iskandar Catatan: Undang-Undang Hukum Indonesia, sebagaimana UU ITE bisa dibaca sebagai berikut:

Pasal 27 ayat (3) UU ITE “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”

Pasal 45 UU ITE (1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 36 UU ITE “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 sampai Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain”

Misalnya, seseorang yang menyebarluaskan informasi elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain akan dikenakan sanksi pidana penjara maksimum 12 tahun dan/atau denda maksimum 12 milyar rupiah (dinyatakan dalam Pasal 51 ayat 2)

Pasal 51 ayat (2) UU ITE Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/menghina-ketum-pbnu-kader-hmi-ini-dipolisikan-gp-ansor.html

Jumat, 17 Mei 2013

NU Bangkit, Begerak untuk Bangun Peradaban

Batam, All About Santri. Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (24/11) mengatakan, Nahdlatul Ulama (NU) didirikan bukan saja untuk pendidikan dan dakwah semata, namun lebih dari itu, yakni peradaban.

"Nahdlatul Ulama tidak sekadar kebangkitan ulama. Nahdloh itu bangkit sekali dan terus bergerak. NU bangkit untuk membangun Indonesia dan peradaban," paparnya saat menjadi pemateri Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III digelar Pimpinan Pusat GP Ansor, di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam.

NU Bangkit, Begerak untuk Bangun Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bangkit, Begerak untuk Bangun Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Bangkit, Begerak untuk Bangun Peradaban

Jika hanya membimbing masyarakat, hal itu menurut dia, sudah biasa, ulama berdakwah tidak perlu berorganisasi.

"Kalau cuma untuk mendidik tidak perlu membuat organisasi. Sekali lagi, NU ada untuk membangun bangsa ini dan peradaban," tuturnya.

All About Santri

Ia mencontohkan, ada orang tidak punya organisasi bisa masuk televisi dan berdakwah.

All About Santri

"Kalau untuk pendidikan untuk apa karena tanpa organisasi para ulama juga bisa mendidik," tuturnya pada kegiatan bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa itu pula.

Pendiri NU, ujar pria karib dipanggil Gus Yahya itu, tidak ragu-ragu menerima empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73214/nu bangkit, begerak untuk bangun peradaban

Selasa, 14 Mei 2013

Mengapa PKI di Indonesia Sering Dimunculkan Jadi Isu?

All About Santri - Santai aja bro menanggapi isu PKI. Biasa-biasa saja. Jangan kemropok alias reaktif. Paling muak lihat provokasi sampah kayak PKI.

Kalau mau perang lagi, silakan. Anda belum tahu pada 2012 kemarin Majalah Tempe mengulas hubungan NU dan PKI yang menyebut NU sebagai ormas algojo PKI 65. Itu isu pesanan Amrik agar peran NU di mata internasional melemah.

Ketika itu, NU baru nembus diplomasi dengan Thaliban yang selama ini tidak berhasil dilakukan Paman Sam. Tempo terbit, majalah itu dibagi-bagikan gratis ke kampus-kampus mamarika secara gratis. Ratusan ribu oplahnya. NU tersudut. Amrik berhasil mempertahankan bisnis opium di wilayah Afganistan karena NU tidak jadi mengusik lebih lanjut. Tapi kini sudah ada 22 cabang NU di negara itu.

Mengapa PKI di Indonesia Sering Dimunculkan Jadi Isu? - All About Santri
Mengapa PKI di Indonesia Sering Dimunculkan Jadi Isu? - All About Santri


Mengapa PKI di Indonesia Sering Dimunculkan Jadi Isu?

Senin kemarin, PBNU adakan Isomil. Tujuannya mendamaikan timteng via kebijaksanaan local wisdom yang selama ini di Indonesia disebut Islam Nusantara. Amrik lagi-lagi kebakaran jenggot. Isu PKI dimunculkan lagi sejak 4 hari sebelum Isomil.

Lihat media. Banyak video lama, isu lama, yang dimunculkan tanpa sebab-sebab sebelumnya. Dikeluarkan secara sistematis oleh jaringan entah berantah. Ini selain untuk melemahkan Banser yang kini kian “radikal” ingin menghajar HTI dimana-mana juga. Banser, lewat isu PKI di tengah gencarnya mereka melakukan represi ke HTI seperti sekarang, diingatkan oleh jaringan itu, bahwa Banser dulu pernah “terlibat” tragedi 65.

All About Santri

Kini, Anda bisa lihat, Banser mundur ke belakang. HTI juga mundur ke belakang sebagaimana NU. Konsumen media beralih mendukung PKI dengan melupakan gerakan makar HTI. Kalau Banser yang sudah ektrem ini dilanjutkan ke isu ganyang PKI, lalu PKI dan HTI jadi korban, siapa yang akan ditunjuk jadi dalang? Negara? Tidak mungkin. Pasti Kiai-kiai NU dan Pengurus NU yang dituduh sebagai provokator perang.

All About Santri

Kalau sudah begini, sejarah NU dituduh kambing hitam seperti tahun 80-an yang menggayang Cina, akan terulang. Sante wae bro!

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/mengapa-pki-di-indonesia-sering-dimunculkan-jadi-isu.html

Selasa, 10 Januari 2012

Mengapa Saya Memilih NU dan Beribadah Bersama NU?

All About Santri - Nama saya Erwin, ya Erwin to’til. sebut saja begitu. Saya bukan Solechan, bukan Ulil, bukan Nusron, bukan Said, bukan As’ad, bukan Hasyim, bukan Durahman. Saya Erwin to’til. Nama yang sama sekali tak berbau Islam, bukan nama santri, bukan nama kaum sarungan.

Mengapa Saya Memilih NU dan Beribadah Bersama NU?
Mengapa Saya Memilih NU dan Beribadah Bersama NU?


Saya terlahir di suatu kampung di Surabaya, dimana orang-orang NU dan kaum abangan tinggal berdampingan. Meskipun yang abangan lebih dominan, mereka leluasa untuk mabuk miras lalu tertidur di serambi musholla.

Mushalla kampung itu, adalah mushalla tua yang didirikan antara lain oleh buyut saya. Orang menyebutnya kiai Arti Munah. Tapi sepeninggal beliau, tak ada lagi yang mengisi mushalla untuk berjama’ah. Pengikut jama’ah shalat sekaligus imamnya datang dari kampung lain. Itulah canggihnya kampung saya kala itu, mengimpor imam dan jama’ah mushalla dari kampung tetangga!

Tapi untunglah, saya mulai tumbuh dewasa dalam kondisi yang telah lebih baik, ayah saya sudah bertaubat jadi abangan. Lalu nenek (emak) saya, Siti Kapsah, adalah murid madrasah H. Tohir Bakri, salah seorang tokoh NU dan Ansor di Surabaya.

Mungkin, satu-satunya genealogi NU saya yang paling nyambung, tak terputus, datang dari nenek saya ini. Dia adalah cucu dari kiai Arti Munah, pendiri mushalla kampung. Emak-lah yang menggerakkan ayah saya untuk memaksa saya mengaji pada usia dini, emak pula yang melatih saya dengan puasa bedug, yaitu puasa yang boleh berbuka di saat kita mendengarkan bedug adzan dhuhur, lalu meneruskan kembali puasa hingga adzan magrib.

Emak-lah yang menjaga ke NU-an saya tanpa saya sadari, sehingga dia teramat gusar ketika saya harus belajar mengaji dari tetangga sebelah yang beraliran Muhammadiyah, seorang pendatang dari Lamongan. Emak mulai lega ketika saya berpindah ngaji hingga khatam Al-Qur’an di bawah bimbingan Agus Muqorrobin, seorang santri perantau dari Tuban.

Saya banyak belajar dari mas Agus, sebelum duduk kelas 5 SD saya diajaknya untuk mengkhatamkan kitab Safinatun Najah dan Sullam Taufiq. Ia diam-diam memproyeksikan saya untuk meneruskan pelajaran ke pesantren.

Tapi entah kenapa mas Agus yang NU itu meng-iya kan ketika ayah saya mengusulkan agar saya belajar ke pesantren Gontor, pesantren yang bagi kebanyakan orang Surabaya adalah pesantren Muhammadiyah! Meski tidak seratus persen benar, karena Gontor mempunyai slogan “Di Atas dan Untuk Semua Golongan” tapi miliu Gontor yang mengadopsi sistem mu’allimin Muhammadiyah adalah seratus persen bukan bermiliu NU!

Ke NUan saya tergerus selama enam tahun saya belajar di sana. Ayah saya sama sekali tak peduli urusan NU atau Muhammadiyah, karena mungkin belum terlalu mengerti. Ia hanya terpana pada pandangan pertama oleh Gontor tatkala bertemu dengan salah seorang alumninya yang fasih berbahasa Arab memandu suatu rombongan dari Timur Tengah.

Sementara bagi Agus Muqrrobin, ia pun tak tau persis Gontor itu apa? Beberapa kali ia menemui saya di pesantren dan hanya memastikan, “kamu belajar Nahwu Shorof?”, “kamu belajar Mantiq?” itu saja. Hingga kemudian, mas Agus-lah yang mengembalikan saya kepada kultur NU. Dengan bantuannya, selepas dari Gontor, saya dikenalkan kepada kerabatnya untuk mulai belajar Al-Qur’an di Kudus, Jawa Tengah.

Memang tak sesuai dengan harapan sebelumnya, saya akan menghafal Al-Qur’an 30 juz bolak-balik. Tapi Kudus telah mempertemukan kembali saya dengan kultur NU. Saya memulai segalamya dari nol di Kudus. Dari mulai belajar kembali melafalkan surah al fatihah yang benar hingga mendaras beberapa kitab kuning bersama para kyai di sekitar Menara Kudus.

Di sana saya menempel erat dengan tradisionalisme Islam, sufinya, mistiknya dan berbagai hikmahnya. Saya bertemu dengan pemikiran Mbah Wahab Chasbullah, pemikiran Ulil, dan pemikiran kyai-kyai Kudus yang mengajari Al-Qur’an dan kitab kuning.

Di Kudus, di serambi menara, saya kerap tercenung. Di samping saya, beberapa kawan santri saya mendaras hafalan Qur’an. Sementara saya menerawang, bagaimanakah dunia santri dan kyai tradisional itu? Apakah saya bagian dari mereka? Apakah saya bagian dari NU? Apakah bagian dari kultur yang sedemikian rupa telah membentuk saya, dan gathuk dengan saya? Apakah saya ini tak lebih dari seorang abangan yang bisa mengaji? Apakah saya santri? Semuanya memusingkan kepala saya.

Hingga saya sampai pada tabulasi apa nilai lebih dari kultur santri dan kyai ini dan apa kekurangannya? Apakah yang lebih dari NU dan apa kekurangannya. Hingga saat saya berpamitan dengan salah seorang guru kitab saya, beliau berpesan”mas, sampean akan bertemu dengan orang banyak, bergaul dengan orang banyak, banyaklah meminta dan memberi pangapura (permaafan) kepada mereka”. Itu pesan yang berusaha saya tepati hingga saat ini.

Melesat dari Kudus, saya menuju Jakarta. IAIN Syahid Ciputat, beasiswa ke Mesir, dan atau kuliah di UI Depok adalah beberapa alternatif tujuan saya. Dan ternyata saya ditakdirkan untuk menjadi mahasiswa UI. Segera saya mencari yang gathuk dalam lingkungan UI.

Saya waktu itu masih tergila-gila dengan pemikiran Nurcholis Madjid, hingga membuntutinya sebisa saya dimanapun beliau berceramah di depan publik, termasuk public HMI Ciputat. Saya waktu itu tergila-gila dengan Cak Nun, dan juga Gus Dur. Dua orang ini yang banyak berpengaruh dalam dunia perasaan dan pemikiran saya.

Cak Nun yang mengajari saya melalui figure Markesot mengenalkan saya kepada perasaan jatuh cinta, simpati pada nasib jelata. Gus Dur yang jenaka, bersahaja, menyengat saya melalui kemunculan beliau dalam suatu pengajian di Kudus memperingati haul Mbah Asnawi. Gagasan pribumisasi Islam-nya mulai saya serap dan saya banding-bandingkan dengan Cak Nur, dengan tokoh yang lainnya, termasuk Amin Rais misalnya.

Tokoh-tokoh itulah yang menggathuk kan saya dengan PMII, organisasi Islam mahasiswa-mahasiswa NU. Meski Cak Nun bukan PMII bukan NU dan Gus Dur yang bukan PMII, tapi pemikiran dan keberpihakan mereka rasanya dapat saya temukan juga dalam wadah PMII.

Itulah pilihan saya, bukan lantaran adanya harapan PMII atau NU akan menjadikan saya apa nantinya? Saya tidak pernah berpikir apa keuntungan untuk masa depan saya bila saya nyemplung dalam PMII yang mendekatkan saya pada kultur NU itu. Tidak sama sekali.

Saya hanya mencari yang gathuk, yang cocok dengan selera saya. Seperti mencari pacar, pertimbangan saya adalah apakah PMII bisa ngobrol nyambung dengan saya? Apakah dengkuran dan impian saya seirama dengan dengkuran dan impian pacar saya itu? Apakah nasib sarapan pagi saya sama dengan sarapan pagi PMII? Itu yang lebih serius. Dan lebih serius lagi, adalah pertimbangan apakah kemarahan saya dan kegelisahan saya juga sama dengan kegelisahan dan kemarahan PMII?

Sepeninggal Gus Dur, NU menjadi semakin tak menentu. NU seperti pasar bebas. siapa pun bisa keluar masuk seenaknya. Kalau pada decade 1950 an NU punya banyak mobil tapi kekurangan sopir, sehingga harus membajak beberapa sopir dari luar NU, maka pada saat ini NU sudah punya banyak sopir hingga kehabisan mobil, bahkan kehabisan bahan bakar untuk menggerakkan mobil.

Sehingga tak heran, saat ini siapapun dapat segera menjadi sopir NU jika saja bisa membawa bensin buat mobil mobil NU! Sepeninggal Gus Dur, sopir sopir NU semakin ugal-ugalan, banyak yang tanpa SIM sudah berani membawa mobil NU. Atau banyak juga calo SIM untuk sopir NU, sehingga saat ini banyak sopir NU yang bermodalkan SIM bodong!

Dalam keadaan demikian, mana mungkin saya, anda, dan kita semua meninggalkan NU? Memang saya pernah beberapa saat abai dengan NU, saya sibuk dengan diri saya sendiri, tapi tidak untuk saat ini. Saya pernah memilih NU, merasa gathuk dengan PMII yang NU, maka saya harus ikut beribadah dalam NU.

Tidak hanya menjadi sopir mobil-mobil NU, tapi ayo kita buatkan mobil-mobil baru untuk NU, kita upayakan NU agar dapat menghasilkan bahan bakarnya sendiri, sehingga tak perlu kesulitan mencari bahan bakar kesana kemari. Kemudian ayo kita tertibkan sopir-sopir NU.

Sopir bodong kita sadarkan supaya mau mengurus SIM dengan baik dan benar dan mengikuti aturan main NU. Sementara yang sudah punya SIM sebagai sopir NU ayo kita tingkatkan kualitasnya agar mampu membawa mobil NU melintas jalanan yang terjal berliku dan ngebut di tikungan tajam sekalipun! Agar mau membawa mobil NU kepada tujuan yang benar! Sopir sopir itu mau mengantarkan warga NU kepada kesejahteraan dunia dan akhirat! [All About Santri] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/mengapa-saya-memilih-nu-dan-beribadah-bersama-nu.html

Senin, 18 Juli 2011

Waspadalah Virus Syirik Bidah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat)

All About Santri - Sebenarnya ada apa dengan NU? Bukankah sudah menjadi sebuah rahasia umum bahwa dibalik penampilan para tokoh mereka yang tampak berwibawa, NU adalah "Thoghut" terbesar Indonesia yang sangat kejam, benar-benar kejam. NU merusak tatanan budaya kehidupan yang sudah ada jauh sebelum Indonesia ada. Orang waras jadi gila, orang sehat jadi bingung, orang beriman menjadi keluar dari keimanan yang dianutnya selama ini.

Lihatlah anak-anak kita! Juga orang-orang dewasa yang merasa sakit, stress menderita oleh budaya mu’tal yang muncul tiba-tiba, yaitu NU. Indonesia memang aneh dan semua orang merasakannya. Perubahan adat yang tiba-tiba. Ada apa di balik ini semua? Ada apa NU dengan jaringan “thoriqot” mereka? Ada apa di balik ini semua? Banyak orang bertanya-tanya kenapa virus NU merajalela di bumi Indonesia?

Waspadalah Virus Syirik Bidah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat) - All About Santri
Waspadalah Virus Syirik Bidah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat) - All About Santri


Waspadalah Virus Syirik Bidah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat)

NU punya mau. Apapun yang menghalangi jalannya akan mereka lawan. Apapun caranya harus dilakukan agar virus NU ini tetap berjaya walau umat manusia dan keyakinannya menjadi korban.

NU adalah oraganisasi bid’ah terbesar di Indonesia.

All About Santri

Cobalah tanya mereka tentang aqidah mereka. Apakah mereka mempunyai hujjah? Apakah mereka mempunyai landasan ilmiyyah? Kok bisa mereka menjadi organisasi bid’ah terbesar di negara Islam terbesar! Lantas kemana umat Islam yang "murni"? Tidakkah kalian merasakan hal yang aneh dalam kehidupan NU di Indonesia?

NU selalu ingin menjadi yang paling hebat. Mendapat yang paling hebat. Mereka memadukan berbagai macam cara agar mereka menjadi yang paling hebat dan kuat karenanya, walau berteman dengan kebid'ahan. Padahal kebid'ahan yang merupakan musuh besar Islam, namun telah tersebar di tengah rakyat melalui perantaraan mereka. Tersebar luas menyatu dalam tradisi dan budaya.

All About Santri

Bagi mereka bid'ah itu bukan sesat. Bagi NU kebi'dahan dan kemusyrikan bisa berubah menjadi bukan bid'ah dan syirik bila kita bisa mengolah niat dan bahasa. Misalnya seseorang meminta tolong pada jin yang merupakan perbuatan yang dilarang keras dalam Islam dalam ritual mistik. Mereka berkata, apa salahnya minta tolong sama jin jika memang dia bisa? Sama seperti minta tolong kepadamu jika kamu memang bisa melakukannya.

Bila jin itu menyuruh dia melakukan ucapan atau perbuatan kesyirikan agar mau menolong mereka, maka mereka melakukannya. Mereka berkata, ”itu cuma ucapan atau perbuatan, sedangkan hati kami tetap hanya pada Allah. Bukankah intinya di hati?” Dari mana dia punya pendapat semacam ini? Ulama mana yang dia ikuti? Apa mereka punya imam yang mereka ikuti dalam masalah ini atau cuma mengarang sendiri? Padahal akibatnya fatal sekali!

Padahal kesyirikan itu ada tiga macam: keyakinan, ucapan dan perbuatan. Dan ketiganya bisa membatalkan syahadatnya dan menjadikan pelakunya kekal dalam neraka. Tapi NU menganggap gampang dalam masalah ini demi mendapat bantuan...

Di sisi lain, NU menjadikan filsafat atau ilmu kalam sebagai landasan beragama mereka. Mereka mempelajari “ilmu berbicara” ini bersama kitab-kitab alat/lughoh dan mencampur adukkannya. Filsafat telah menjadi salah satu dasar agama mereka.

Bukankah Abu Yusuf (Ya`qub bin Ibrohim al Qodhi. Wafat : 183 H) berkata: “Barangsiapa mencari agama dengan ilmu kalam, pasti dia zindiq. Barangsiapa yang mencari makna-makna gorib hadits, pasti dia berdusta. Barangsiapa yang mencari harta dengan kimia (sulap), pasti dia bangkrut”. (Dzammul Kalam: 326).

Sehingga Al Imam Syafi’i mengatakan: ‘Hukuman terhadap ulama ilmu kalam ialah mereka ini dipukul dengan pelepah kurma dan kemudian dikelilingkan di berbagai kampung dan kabilah untuk dinyatakan di hadapan mereka : Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan terjun dalam ilmu kalam.’ (Hr. al-Harowi dalam kitab Dzammul Kalam: 356).

Di NU juga ada aliran Tashawuf. Tapi mereka tak berani terang-terangan dalam mengajarkan aqidah ini. Metode mereka menggiring orang kepada pemahaman ini secara tak sadar melalui berbagai kiasan dan perumpamaan. Dan masyarakat nahdliyyin yang kebanyakan rakyat tak terdidik tidak sadar akan hal ini. Mereka telah dibuat kacau akal dan perasaannya karena tashawuf.

Cobalah kalian periksa sendiri aqidah mereka! Aqidah mereka itu aneh, campur aduk dan kacau balau. Tak bisa dijelaskan dan diluruskan baik dengan akal maupun dalil. Menyusun aqidah sendiri, padahal dalam syariat Islam sendiri tidak ada tashawuf.

Namun kata mereka tashawuf itu mengolah jiwa. Dan hasilnya mereka memang menjadi orang gila yang ahli jiwa. Mampu mengubah hati manusia dan merusak jiwa musuh-musuh mereka sebagai mana hati dan jiwa mereka.

Lihatlah Yahudi dan Nasrani musuh-musuh Islam. Punya berbagai kekuatan ekonomi, politik, militer, media mereka berkuasa. Orang Islam punya apa?

Orang NU berinovasi bahwa kita harus menyatukan kekuatan entah dari mistik tak peduli itu dari bangsa jin ke dalam kehidupan kita agar umat Islam punya kekuatan. Bukankan Islam itu rahmatan lil ‘alamin? Bukankah Rasullah SAW diutus pada jin dan manusia? Mereka berkhayal bahwa dengan meminta bantuan jin, mereka akan memperoleh kekuatan yang luar biasa yang tak akan terkalahkan.

Sudah jelas bagi kita bahwa perbuatan macam itu adalah terlarang. Tapi mereka tak peduli. Semuanya dilakukan untuk mencapai maksud tujuan mereka. Orang NU tak segan belajar mistik. Mereka menyebutnya “ilmu hikmah”. Jadi hikmah itu bagi mereka bukannya akhlak tapi kesaktian, guna-guna, dan semacamnya.

Dengan ilmu mistik mereka bisa punya pengaruh dan kewibawaan dan mudah menguasai hati manusia. Dengan mistik orang-orang yang menghalanginya diguna-guna. Dengan mistik mereka punya Pagar Nusa yang kuat digilas truk dan tak mempan dibacok. Lantas apa beda mistik mereka dengan sihir? Padahal sihir itu haram dan barang siapa melakukan sihir maka ia kafir.

Mereka beriman kepada jibt dan thaghut. Menurut ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu: Jibt ialah sihir, sedangkan thaghut ialah syaitan. Kata Jabir: Thaghut-thaghut ialah para tukang ramal yang didatangi syaitan; pada setiap kabilah ada seorang tukang ramal.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. Para sahabat bertanya: Apakah ketujuh perkara itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Yaitu: syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakai harta anak yatim, membelot dalam peperangan dan melontar tuduhan zina terhadap wanita yang terjaga dari perbuatan dosa, tidak tahu-menahu dengannya dan beriman.

Diriwayatkan hadits marfu’ dari Jundab: Hukuman bagi tukang sihir ialah dipenggal lehernya dengan pedang. Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Bajalah bin ‘Abdah, ia berkata: Umar bin Al-Khaththab telah menetapkan perintah, yaitu: Bunuhlah tukang sihir laki-laki maupun perempuan. Kata Bajalah selanjutnya: Maka kami pun melaksanakan hukuman mati terhadap tiga tukang sihir perempuan.

Tapi orang NU tak peduli. Segala sesuatunya mereka lakukan. Mereka punya ilmu “hakikat” yang mereka sembunyikan yang tidak kita ketahui. Benarkah?

Politik adalah salah satu kekuatan NU terbesar. Salah satu musuh Islam adalah Yahudi. Dan salah satu keunggulan yahudi adalah politiknya. Untuk mengalahkan Yahudi kita harus belajar lebih jahat dari Yahudi. Berpedoman pada azas ini mereka memutuskan untuk belajar “politik” untuk mengalahkan politik yahudi. Bahkan lebih dari itu mereka juga mendapat wangsit entahvdari mana dalam merumuskan dan menjalankan politik mereka.

NU merasa mereka itu termasuk yang terdepan dalam melawan Yahudi dan Nasrani. Kenyataannya musuh NU itu dalam prakteknya bukan Nasrani atau Yahudi tapi "umat Islam" sendiri. Siapapun yang menghalangi jalannya mereka hancurkan. Karenanya semua musuhnya adalah salah dan NU lah yang paling besar dan benar. Mereka menghancurkan "Islam" dan "umat Islam" untuk menegakkan keyakinan agama (NU) mereka.

NU itu sebagai identik dengan bid’ah, mereka ingin menyatukan segala macam bid’ah dalam satu wadah. Yang penting mereka besar. Mereka memang suka yang besar-besar. Salah satu orang yang aktif menyebarkan bid'ah di dalam dunia nyata dan dunia maya adalah Putra Rahman. Dia adalah seorang yang aktif dalam NU, terutama di Lesbumi dan Lakpesdam NU Jawa Tengah.

Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia) adalah lembaga yang bernaung di bawah PBNU (Pengurus Besar Nahdhatul Ulama). Pada mulanya, keberadaan lembaga ini merupakan upaya implementasi gagasan kembali ke khittah yang diamanahkan pada Muktamar ke-27 di Situbondo, diawali dengan perbincangan tentang pentingnya membuat konsep Pengembangan SDM NU (PSDM NU).

Namun dalam perjalanannya, lembaga ini seolah-olah sebagai wadah kaum liberalis untuk memperjuangakan dan menebarkan virus penyakit SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Lakpesdam menjadi lahan yang teramat subur untuk menanamkan benih-benih pemikiran liberalisme. Di bawah payung Lakpesdam ini, agenda kegiatannya pada tiga aspek utama, yaitu membendung fundamentalis Islam, mencegah munculnya kekerasan yang mengatasnamakan Islam dan mengembangkan demokrasi, menghargai HAM dan mengembangkan paham Islam liberal yang toleran, pluralis dan emansipatif.

Barangkali popularitas dan pengaruh Putra Rahman di tubuh NU tidaklah seberapa dibandingkan tokoh-tokoh liberalis ‘sepuh’ di ormas tersebut semisal KH. Said Aqil Siradj, Gus Dur, KH. Masdar Farid Mas’udi, KH. Mustofa Bisri, KH. Alwi & Quraish Syihab, dan sederet nama lainnya. Gus Ulil Abshar Abdalla dan Kyai Zuhairi Misrawi, dua liberalis yang aktif di Lakpesdam ini juga tidak kalah sengitnya dalam ‘mengusik‘ dan merongrong kemurnian syariat Islam.

Peran mereka sangat menentukan gerak langkah ormas NU ke depannya. Karena di tangan merekalah tongkat estafet kepengurusan PBNU ini akan diberikan. Lokomotif NU akan dikendalikan oleh mereka-mereka itu. Rangkaian gerbong di belakangnya tentu akan mengikuti ke mana arah lokomotif itu berjalan.

Keberadaan Lakpesdam dalam tubuh NU merupakan satu dari sekian banyak bukti yang menunjukkan citra NU sebagai virus yang harus diwaspadai. Bagaimana bisa lembaga yang demikian keadaannya masih bisa bertahan di dalam ormas yang katanya ‘dipandhegani‘ (diayomi) oleh para alim ulama dan kiai sepuh tersebut.

Itulah NU,

Sebuah organisasi terbesar yang akan terus menjadi virus untuk menyerang radikalisme yang bertopengkan Islam. NU adalah virus yang menyebarkan semangat Nasionalisme, dan menyerang mereka yang merusak citra Islam dan NKRI. Maka tidaklah heran jika disinyalir ada upaya besar untuk menggembosi ormas terbesar di Indonesia dan penggiringan opini seolah-olah Nahdlatul Ulama itu sesat dan menyesatkan.

Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU. Padahal negara Muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun.

Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Digiring opini agar orang NU tidak percaya lagi pada ulama dan kyai-kyai NU.

Tragisnya bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU. Tidak dipungkiri bahwa gagasan “ISLAM NUSANTARA” bisa menjadi magnet besar dalam membangun besarnya kekuatan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan oleh media-media pembenci NU dijadikan lahan untuk menghancurkan NU dari dalam seolah-olah NU telah diboncengi oleh Liberal, Syiah, Nasrani, Yahudi dan PKI. Padahal telah jelas dan disepakati oleh ribuan ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren serta majelis ta’lim di seluruh Indonesia bahwa tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang adalah “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin. Cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia dan negara-negara Muslim yang menjadi sasaran konflik antar umat Islam karena tidak adanya persatuan diantara mereka.

Kita tidak menginginkan Indonesia seperti mereka, berapa juta umat Islam yang mati mengenaskan akibat konflik di negara-negara tersebut ?

Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam Nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita, yakni Walisongo. Islam Nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab. Makanya dalam NU ada istilah "Arab digarap, Jawa dibawa, Barat diruwat".

Walau istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya. Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.

Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik. Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun.

Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Syuriah PBNU Pusat sekaligus ketua Thariqat se-dunia menjelaskan, “Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

Beliau melanjutkan “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik. Kalau saja wali songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini.”

Beliau berpesan bahwa inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini, itulah mengapa dalam setiap ceramah beliau akhir-akhir ini sering membahas tentang upaya mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.

Indonesia itu menurut beliau, tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia, “Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.

“Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkret. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam.

Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam. Dan semua itulah yang dilakukan oleh NU.

Makanya tidaklah heran jika ada yang memutarbalikkan fakta serta melihat yang dilakukan NU adalah menyimpang dari ajaran agama Islam, karena mereka itu tidak mengenal NU. Hanya sebatas melihat dan mendengar, tanpa memahaminya.

Dan tidak lupa saya ucapkan selamat Harlah ke-91 buat NU yang dengan tagline "Merawat Tradisi, Mengupayakan Inovasi, Menjaga NKRI". Jayalah NU, Jayalah NKRI! NU kan tetap menjadi benteng pertahanan NKRI. Siapa yang ingin merusak NKRI, maka kan berhadapan dengan NU. [All About Santri]

Putra Rahman, tinggal di Pekalongan

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/waspadalah-virus-syirik-bidah-liberal-nu-yang-sangat-radikal.html

Selasa, 13 April 2010

Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya

All About Santri - Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan (Sulsel) menolak Habib Riziq Shihab sebagai Imam Besar Umat Islam di Indonesia. Hal ini disampaikan Ketua PW Ansor Sulsel, Muh. Tonang melalui rilisnya yang dikirim ke media.

Baca: Makin Dibenci, Habib Rizieq Lagi-Lagi Ditolak Hadir di Tanah NTB Lombok.

Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya - All About Santri
Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya - All About Santri


Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya

Dalam pernyataan sikap tersebut, Muh. Tonang menolak maraknya gerakan sebagian kecil kelompok atau ormas Islam di Indonesia yang bermaksud mengangkat Saudara Habib Rizieq Shihab (Imam FPI) sebagai Imam besar Umat Islam di Indonesia,

"Kami dari Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulsel menolak dengan tegas saudara Riziq Shihab untuk diangkat/dijadikan/dinobatkan sebagai Imam Besar Umat Islam di Indonesia," katanya, sebagaiman dikutip All About Santri dari Seputarsulawesi.com, Kamis (12/01/2017).

All About Santri

Menurutnya umat Islam di Indonesia tidak mengenal adanya Imam Besar. Sebagai pemegang kuasa atas umat Islam keseluruhan, konstitusi Indonesia telah menjamin umat Islam dalam memeluk agamanya serta menjalankan ibadahnya, termasuk menjamin kebebasan dalam mengikuti para ulama, kiai atau ustadz sebagai acuan atau panutan dalam menjalankan ibadah sehari-hari dan berinteraksi sosial.

Muh. Tonang juga mendukung pemerintah untuk menumpas ormas atau pihak-pihak yang bertindak intoleran kepada sesama umat manusia atas dalih nama agama, "mereka yang ingin mendirikan khilafah adalah tindakan makar di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tegasnya.

All About Santri

Ia pun menghimbau kepada seluruh kader Ansor Sulsel untuk senantiasa bertabarruk kepada para kiai dan ulama yang selama ini membina umat di pondok pesantren dan pengurus NU setempat dalam menjalankan kegiatan organisasi-termasuk aksi-aksi sosial keagamaan. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/sebelum-fpi-dihadang-di-lombok-pw-ansor-sulsel-sudah-menolak-imam-besarnya.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock