Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi

Jakarta, All About Santri
Sekitar 50 orang rombongan Kirab Hari Santri dan Resolusi Jihad NU akhirnya tiba di Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (22/10), tepat pada puncak peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015.
<>
Mereka yang menempuh perjalanan sejak 18 Oktober lalu dari Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, ini disambut meriah ribuan pelajar-santri dari berbagai sekolah dan pondok pesantren di Jabodetabek, serta para kader IPNU dan IPPNU. Kibaran bendera Merah Putih dan Nahdlatul Ulama terlihat di berbagai sudut.

Rombongan Kirab Hari Santri sebelumnya ? menempuh perjalanan menggunakan empat bus mini dan singgah di sejumlah titik di kawasan Pantura. Mereka melakukan ziarah ke makam tokoh-tokoh NU, silaturahim ke kiai-kiai dan pesantren, serta membacakan teks Resolusi Jihad dan Ikrar Santri.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam orasinya menegaskan bahwa Hari Santri tidak monopoli milik murid-murid pesantren, melainkan seluruh umat Islam Indonesia yang mempunyai kesamaan spirit kebangsaan. "Insyaallah ini akan ekspor ke luar negeri. Kita tunjukkan Islam Indonesia punya ciri khas," ujarnya.

Hadir dalam kesempatan ini Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Rais Aam PBNU KH Maruf Amin bersama pengurus syuriyah dan tanfidziyah PBNU lain, para pimpinan ormas Islam, para pimpinan badan otonom NU, para kiai, serta beberapa kelompok pasukan TNI.

KH Maruf Amin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang sudah menandatangani penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober dan mendeklarasikannya Kamis (22/10) siang ini. Menurutnya, Resolusi Jihad mesti direvitalisasi maknanya sesuai dengan kekinian, dari jihad perang menjadi jihad perbaikan bagi kehidupan bangsa Indonesia. (Mahbib)

Dari : /post/read/62986/rombongan-kirab-hari-santri-disambut-semarak-di-tugu-proklamasi

Kamis, 14 April 2016

Fasholatan Kyai Sholeh Darat (1)

All About Santri - Kitab Fashalatan karya KH Sholeh bin Umar as-Samarani (Mbah Sholeh Darat) yang dicetak di Bombai dengan 53 halaman menjelaskan bagaimana shalat dengan baik dan hakikat sholat sesuai ajaran sholat Nabi. Kitab dengan bahasa Jawa Pegon ini diperuntukkan bagi orang awam agar mudah memahami bacaan shalat sekaligus artinya.

Fasholatan Kyai Sholeh Darat (1) - All About Santri
Fasholatan Kyai Sholeh Darat (1) - All About Santri


Fasholatan Kyai Sholeh Darat (1)

Ada langkah-langkah yang harus dijalani oleh umat Islam dalam menjalankan shalat, yaitu bersuci. Secara sistematis Mbah Sholeh Darat menyebutkan bahwa setelah selesai bersuci dzahir sesuai aturan syariah dengan mandi jinabat sebagaimana disebutkan dalam kitab fiqh, maka dapat dilanjutkan dengan menjalankan shalat.

Perintah sholat ini tentunya mengikuti ajaran-ajaran agama Islam yang telah ditentukan. Adapun dalam menjalankan shalat diwajibkan menghadap qiblat. Selain itu juga para umat Islam menjaga kebersihan tempat shalat dan kebersihan hati. Segala bentuk najis dan keteguhan hati menjadi sangat penting dalam menjalankan shalat. Sebab pada hakikatnya shalat merupakan hakikat komunikasi hamba dengan Tuhan.

Hati yang bersih ditandai dengan keikhlasan dzahiriyah menghadap kiblat seiring dengan hadirnya hati kepada Tuhan dengan meletakkan hatinya lillahi ta'ala (hanya kepada Allah). Hati juga perlu terjaga dari segala apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Artinya menjalankan shalat sesuai perilaku Nabi Muhammad SAW.

Dalam posisi shalat, seorang hamba Allah juga diminta untuk mengharap ridla Allah dengan merasakan hadir dan selalu ingat padaNya. Kemantapan dalam hadir di hadapan Allah ini akan menjadikan kualitas shalat semakin baik.

Jika itu semua sudah dijalani, maka kalimat takbir dikumandangkan: الله اكبر. Allahu Akbar, artinya bahwa hatinya mengucapkan Allah dzat yang agung kekuasaannya dan tidak ada yang agung selainnya. Dan tidak ada Tuhan selain Allah. Dan jangan sekali-kali ada harapan meminta pada makhluq yang memiliki sifat mulia. Hanya pada Allah kamu meminta. Tidak ada makhluk yang menyamai Allah.

Setelah bacaan takbir selesai, maka dilanjutkan membaca takbiratul ihram. Bacaan takbiratul ihram yang diajarkan oleh Mbah Sholeh Darat adalah:

وجهت وجهي للذي فطر السموت والارض حنيفا مسلما وما انا من المشركين. ان صلاتي ونشكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين. لا شريك له وبذالك امرت وانا من المسلمين.

........Bersambung

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/fasholatan-kyai-sholeh-darat-1.html

Selasa, 23 Februari 2016

Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan

Mungkin kita sebagai Nahdliyin sering mendengar nama sekaliber KH Hasyim Asyari ataupun KH Wahab Chasbullah, namun kita jarang bahkan tidak mengenal nama KH Ahmad Dahlan. Beliau merupakan salah satu tokoh NU pada era awal yang menjabat sebagai wakil rais aam, satu tingkat di bawah KH Hasyim Asyari yang menjabat sebagai rais akbar Nahdlatul Ulama, juga sebagai penggerak dan pembela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Seperti yang dikatakan oleh Soekarno tentang Jasmerah (angan sekali-kali melupakan sejarah), kita sebagai Nahdliyin dilarang keras untuk melupakan sejarah kita sendiri. Dengan mengenal tokoh-tokoh awal NU, kita dapat meneladani bagaimana perjuangan serta pengorbanan para muassis NU yang tidak hanya menegakkan agama tetapi juga menegakkan berdirinya NKRI hingga dapat kita rasakan sampai saat ini.

Adalah Wasid Mansyur yang berhasil menuangkan dalam sebuah buku tentang biografi, sejarah perjalanan, serta komitmen beliau. Buku ini juga berhasil mengulas pemikiran Kiai Dahlan untuk membentengi akidah rakyat Surabaya pada waktu itu yang mulai terserang virus TBC (Takhayyul, Bidah, Churafat) yang disebarkan oleh firqah di luar Ahlussunnah wal Jamaah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Wahabi dalam magnum opusnya yaitu kitab Tadzkiratun Nafah. Buku ini juga disertai bukti sejarah, sehingga apa yang ditulis dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta tidak sekedar asal bunyi (asbun).

Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan

Kiai Dahlan bernama lengkap Ahmad Dahlan ibn Muhammad Ahyad, terlahir pada 13 Muharram 1303 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Oktober 1885 di Kebondalem Surabaya, sebuah wilayah yang berada di Kecamatan Simokerto, sebelah timur makam Raden Rahmatullah Sunan Ampel, Kiai Dahlan merupakan putra ke empat dari enam bersaudara.(hlm. 4-5) Pendidikan beliau dimulai dari ayahnya sendiri, KH Muhammad Ahyad, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Kebondalem Surabaya. Setelah itu Kiai Dahlan belajar kepada Syaikhona Kholil ibn Abdul Latif (pengasuh pondok pesantren Kademangan, Bangkalan-Madura) lalu dilanjutkan berguru kepada Kiai Mas Bahar ibn Noer Hasan (pengasuh pondok pesantren Sidogiri Pasuruan).(hlm 9-10). Ini membuktikan bahwa keilmuan yang dimiliki oleh Kiai Dahlan merupakan keilmuan yang memiliki sanad yang jelas dan bersambung hingga kepada sayyidina Muhammad, karena banyak anak muda zaman sekarang yang berguru kepada internet yang jelas-jelas tidak memiliki sanad.

Dalam dunia pergerakan, Kiai Dahlan merupakan tokoh yang sangat sentral dalam membangun jaringan antar pesantren, letak pesantren Kebondalem yang strategis memberikan kemudahan tersendiri bagi beliau untuk merintis jaringan tersebut. Dengan jaringan inilah Kiai Dahlan dapat mengerti kondisi terkini yang dihadapi bangsa, termasuk isu-isu tentang keagamaan. Kiai Dahlan juga berperan penting bagi berdirinya Taswirul Afkar (kontekstualisasi pemikiran) yang didirikannya bersama Kiai Wahab dan Mangun, yang mana perkumpulan ini merupakan perkumpulan diskusi/kajian yang membahas dan mencari solusi atas masalah-masalah keagamaan dan sosial kemasyarakatan kaitannya dengan persoalan kekinian yang dihadapi oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Sedangkan dalam urusan pembiayaannya, Kiai Dahlan bersama pimpinan lainnya mendirikan Syirkatul Amaliyyah, yaitu semacam koperasi yang sahamnya dijualbelikan kepada para anggota Taswirul Afkar. Langkah ini disinyalir turut membantu pembiayaan kebutuhan harian, apalagi tidak adanya subsidi dari pemerintah Hindia-Belanda untuk perkumpulan tersebut. Kiai Dahlan bersama para kiai yang lainnya, juga berhasil membentuk MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) pada tanggal 12-15 Rajab 1356 H, bertepatan pada 18-21 September 1937. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menyatukan semangat kebangsaan antar seluruh ormas Islam untuk merespon penjajahan serta mentolerir segala perbedaan antar ormas sebagai sebuah keniscayaan.

All About Santri

Kiai Ahmad Dahlan juga menulis sebuah kitab pencerahan kepada umat, khususnya warga Surabaya untuk menyikapi kondisi sosial keagamaan yang tengah terjadi pada masyarakat umumnya. Misal, Kiai Dahlan menegaskan bahwa pada prinsipnya setidaknya dari kacamata Syafiiyyah ada keharusan melaksanakan shalat Dhuhur bagi pelaku Shalat Jumat yang diadakan di dua masjid atau lebih dalam satu wilayah. Hanya saja, ketegasan ini digarisbawahi dengan penyuguhan pandangan jika pelaksanaan shalat Jumat dalam dua tempat di satu wilayah tidak ada kebutuhan. Bila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya masjid awal tidak cukup, maka shalat Jumat di dua Masjid dalam satu wilayah diperbolehkan sehingga tidak ada keharusan shalat dhuhur setelah shalat Jumat usai. (hlm. 83-84).

All About Santri

Kemudian yang menjadi perhatian Kiai Dahlan adalah merebaknya pembidahan kepada amaliyah warga NU. Dalam tulisannya tersebut, Kiai Dahlan dengan tegas mengawali Bahwa semua yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi adalah bagian dari vidah merupakan orang yang bodoh dan tidak memiliki pendirian yang kuat (al-Juhlal al-Mutahawirun). Untuk memperkuat pandangannya, Kiai Dahlan mengutip bidah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khattab yang mengerjakan terawih secara berjamaah, yang kemudian Sayyidina Umar mengatakan Sebaik-baiknya bidah adalah ini. (hlm. 88).

Beliau juga mengulas pandangannya tentang pola serta perilaku kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam tetapi tindakannya sama sekali tidak mencerminkan budi pekerti Islam. Mereka hanya memaksakan kehendak menjadi Islam yang paling benar, padahal mereka seharusnya bisa belajar kepada empat imam mazhab yang memiliki pandangan tersendiri tetapi tetap menjaga toleransi hingga akhir hayatnya.

Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kita bagaimana menjaga serta mempertahankan paham dan ideologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, ditambah lagi di era yang serba canggih ini kelompok-kelompok di luar paham tersebut akan lebih mudah menyebarkan virus-virus radikalnya serta dengan mudahnya mereka mengkafirkan amaliyah-amaliyah warga Nahdliyyin. Kiai Dahlan juga mengajarkan kita bagaimana menyatukan semangat kebangsaan kita dan menghargai perbedaan pendapat sebagai sebuah keniscayaan serta menjaga keutuhan NKRI di tengah arus rongrongan makar yang dilakukan oleh segelintir kelompok Islam.

Data buku

Judul : Biografi Kiai Ahmad Dahlan; Aktivis Pergerakan dan Pembela Ajaran Aswaja

Penulis : Wasid Mansyur

Penerbit : Pustaka Idea

Terbitan : I, 2015

Tebal : xxiv + 144 hlm

ISBN : 978-602-72011-5-6

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63592/kiai-ahmad-dahlan-pejuang-nu-yang-terlupakan

All About Santri

Minggu, 15 Desember 2013

Berhasil Tangkap Teroris Santoso, Pemerintah Berjanji Berikan Apresiasi

All About Santri - Operasi Tinombala untuk menangkap kelompok teroris Santoso di kawasan pegunungan Poso, Sulawesi Tengah, masih terus dilakukan. Pemerintah saat ini tengah menyiapkan apresiasi tinggi untuk keberhasilan operasi.

“Pak Tito (Kepala BNPT Tito Karnavian, Red) sudah berbicara dengan Kapolri dan Panglima TNI agar bagaimana personil di lapangan diberikan apresiasi jika berhasil menangkap Santoso,” kata Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen. (TNI) R. Gautama Wiranegara, saat menyampaikan pidato kunci dalam pembukaan Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (26/5/2016).

Berhasil Tangkap Teroris Santoso, Pemerintah Berjanji Berikan Apresiasi - All About Santri
Berhasil Tangkap Teroris Santoso, Pemerintah Berjanji Berikan Apresiasi - All About Santri


Berhasil Tangkap Teroris Santoso, Pemerintah Berjanji Berikan Apresiasi

Gautama menambahkan, apresiasi tersebut dimaksudkan untuk menambah semangat pasukan di lapangan agar keberhasilan penangkapan Santoso bisa segera dicapai. “Kalau bicara apresiasi untuk pasukan, yang Tamtama dan Bintara mungkin adalah kesempatan pendidikan lanjutan, sementara Perwira Menengah dan Tinggi bisa berupa penempatan pada jabatan-jabatan strategis,” tambahnya.

Ditanya kemungkinan adanya peran masyarakat dalam penangkapan Santoso, apakah jugaa akan diberikan apresiasi, Gautama mengaku belum mengetahuinya. Akan tetapi setiap peran dalam keberhasilan penangkapan Santoso diakuinya layak diberikan penghargaan.

All About Santri

“Bukan tidak mungkin apresiasi akan datang langsung dari presiden, karena itu (keterlibatan masyarakat) tentu sangat luar biasa. Intinya siapa saja yang terlibat sampai Santoso bisa ditangkap layak diberi penghargaan,” jelas Gautama.

Terkait tantangan yang dihadapi pasukan sehingga operasi penangkapan Santoso memakan waktu yang panjang, Gautama kembali mengungkapkan faktor medan yang sangat sulit.

All About Santri

“Pegunungan di Poso itu satu klik di bawah pegunungan Papua, sangat sulit dilalui. Belum lagi saat ini musim hujan, lumut di bebatuan yang licin juga menjadi tantangan lain,” pungkas Gautama.

Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme merupakan rangkaian program Pelibatan Media Massa dalam Pencegahan Terorisme yang dilaksanakan BNPT dengan menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 provinsi se Indonesia. [All About Santri/gj] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/berhasil-tangkap-teroris-santoso-pemerintah-berjanji-berikan-apresiasi.html

Selasa, 09 Juli 2013

Dari Maroko, Anak 14 Tahun Ini Terbang ke Indonesia Sendirian Demi Bertemu Kiai Maimoen Zubair

All About Santri - Ibrahim, dia seorang anak tampan berkebangsaan Maroko yang pada tanggal 15-7-2016 sowan ke Mbah mun Sarang. Usianya masih 14 tahun dan dia baru saja lulus dari sekolah i'dadiyah (kalau di Indonesia mirip SMP) di Maroko.

Maroko, ayahnya memiliki beberapa rumah yang disewakan untuk tempat tinggal pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di sana. Dan pelajar yang tinggal di sana tidak dipungut biaya sedikit pun.

Nah, saat kelulusan kemarin bocah itu mendapatkan ranking dengan nilai tertinggi di sekolahnya sehingga membuat ayahnya senang dan mempersilahkan Ibrahim untuk mengajukan permintaan. Apa saja yang akan diminta olehnya akan dituruti.

Ternyata dia punya permintaan berkunjung ke Indonesia menemui Mbah Maimoen Zubair bersama orang yang ia kenal. Sebelumnya, Ibra -panggilan Ibrahim, mengenal Mbah Maimoen karena sering mendapatkan cerita dari salah satu pelajar yang tinggal di rumahnya, yang kebetulan juga pernah mondok di Sarang, Rembang.

Di Maroko, Ibra mengenal KH Maimoen Zubair sebagai sosok sepuh yang alim, memiliki cakrawala luas dan menelurkan banyak santri yang kemudian hari jadi ulama'.

Dia pun dizinkan pergi ke Indonesia oleh ayahnya. Hebatnya, Ibra datang ke Indonesia sendirian. Hanya dijemput di bandara oleh kenalan yang pernah tinggal di rumahnya dan langsung sowan ke ndalem simbah Maimoen Zubair.

Ibra mengaku sangat senang saat melihat wajah Mbah Maimoen yang ramah. Mbah Moen pun kagum atas keberanian anak itu.

Perbincangan mereka berdua terlihat asyik meski beda usia. Mbah Maimoen bercerita pernah berkunjung ke Maroko dan shalat di Masjid Al Hasan Tsani yang merupakan masjid terbesar di Maroko.

Beliau juga berkisah mengisi ceramah di beberapa institusi di sana. Rencananya, Ibrahim akan tinggal 1 satu bulan di Indonesia. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/dari-maroko-anak-14-tahun-ini-terbang-ke-indonesia-sendirian-demi-bertemu-kiai-maimoen-zubair.html

Senin, 24 September 2012

Kader Ansor Perlu Bangun Jaringan Ekonomi

Boyolali, All About Santri. Potensi jumlah kader yang besar serta beragam yang dimiliki Gerakan Pemuda (GP) Ansor, semestinya dapat dimanfaatkan untuk membentuk jaringan ekonomi, yang berguna untuk memperkuat kemandirian anggota serta organisasi.

Hal ini pula yang menjadi salah satu perhatian pengurus PC GP Ansor Boyolali. Ketua PC GP Ansor Boyolali, Khoiruddin Ahmad, menegaskan pentingnya untuk membangun jaringan ekonomi warga Nahdliyin.

Kader Ansor Perlu Bangun Jaringan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Perlu Bangun Jaringan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)


Kader Ansor Perlu Bangun Jaringan Ekonomi

Kita bangun jaringan ekonomi NU, di Ansor Boyolali sendiri kita sudah coba mulai, para anggota yang memiliki usaha kita dorong usaha mereka agar lebih maju, papar Khoiruddin, pada pertemuan silaturahim GP Ansor-Banser dan Fatayat NU se-Boyolali, di Desa Bangak, Banyudono, Boyolali, Ahad.

Pengasuh Pesantren Mifathul Huda itu memamaparkan, saat ini di Boyolali ada beberapa anggota yang telah memiliki usaha ekonomi seperti usaha beras di Cepogo, rempeyek di Andong dan roti NUsantara di Boyolali kota.

All About Santri

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Camat Banyudono, Rina, dalam sambutannya memberikan semangat kepada para anggota Ansor-Banser.

Tunjukkan kepada yang lain, bahwa kalau tidak mengikuti Ansor-Banser rugi. Selain untuk menambah ketakwaan kita, juga ada hal lain yang menarik orang lain untuk ikut bergabung, ujar dia.

All About Santri

Acara silaturahim yang berakhir siang hari, ditutup dengan ceramah dan doa yang disampaikan tokoh NU Banyudono, KH Ahmad Yani. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75250/kader-ansor-perlu-bangun-jaringan-ekonomi

Rabu, 22 Agustus 2012

Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu

All About Santri - Seorang terdakwa perusakan menangis tersedu saat hakim memintanya bernyanyi satu lagu berjudul Ibu, ciptaan idolanya, Iwan Fals. “Atas perbuatan tersebut menuntut terdakwa dengan hukuman dua bulan kurungan.” Selasa, 30 Agustus 2016.

Pagi sekitar pukul 10.00 WITA, ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu diisi agenda persidangan biasa. Kali ini, di depan persidangan duduk seorang terdakwa yang dituntut jaksa hukuman dua bulan bui, atas perbuatannya dalam perkara perusakan barang. Ia dianggap melanggar pasal 406 Kitab Undang Undang Hukum Pidana.

Perkara ini agak istimewa -setidaknya itu bisa terukur dari setiap kali persidangan cukup menyedot perhatian khalayak- lantaran menyeret seorang terdakwa yang nekat melakukan perusakan terhadap rumah ibunya. Ya, ada seorang anak tega merusak sebuah rumah milik ibu kandungnya. Kejadian itu terjadi pada Mei lalu.

Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu - All About Santri
Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu - All About Santri


Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu

“Usia terdakwa 42 tahun,” kata Djoe Hadisasmito Ketua Pengadilan Negeri Dompu, mengulang cerita soal persidangan yang ia pimpin.

Akar permasalahan berawal dari nafsu sang anak yang kini berstatus terdakwa, ingin meminta bagian warisan dari ibunya. Padahal sang ibunda masih hidup dan sehat.

All About Santri

All About Santri

Sang anak yang mungkin sudah digelapkan nafsu, mulanya hanya mempersoalkan dan meminta sertifikat rumah keluarga. Namun ibunda bertahan tak memberikan. Mendapati keinginannya tak terpenuhi, terdakwa lantas berang. Ia lantas memaki ibunya berulang-ulang nyaris setiap ada kesempatan.

“Malah dalam pemeriksaan saksi korban atau ibunda kandungnya mengaku, pernah diancam dan mau dipukul oleh terdakwa,” ujar Djoe sang hakim ketua.

Atas perlakuan anaknya itu, luluh juga sayang ibunda. Merasa diri terancam, si ibu melaporkan kelakuan anak kesayangannya itu ke kepolisian.

Namun si sayang bukannya sadar, amarah terdakwa makin menjadi. Mei lalu, menggunakan mobil Daihatsu Feroza miliknya, terdakwa kemudian pergi ke rumah sang ibu dan mulai merusak rumah keluarga yang ditinggali ibunya. Berkalang kalap terdakwa menabrakkan mobil yang ia kendarai hingga merusak rumah, pot, dan semua isi halaman secara membabi buta.

Dan akhirnya tibalah kisah terdakwa ke persidangan tuntutan di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu. Sesaat setelah kalimat tuntutan jaksa, Djoe yang duduk di kursi hakim ketua spontan bertanya,

“Kamu itu penggemar Iwan Fals ya?.”

“Benar pak Hakim, saya penggemar Iwan Fals,” kata terdakwa sembari terus menundukkan kepalanya. Djoe bukan menebak-nebak. Ia bisa tahu terdakwa penggemar Iwan Fals lantaran melihat foto barang bukti berupa mobil yang dipakai merusak rumah itu ditempeli banyak stiker Iwan Fals dan Orang Indonesia.

“Kalau begitu, tolong nyanyikan saya satu lagu dari Iwan Fals yang berjudul Ibu, kamu tahu lagunya?” kembali Djoe bertanya. Ia mengaku perintahnya kepada terdakwa itu spontan.

Terdakwa hanya mengangguk. Ruang sidang tercekat dengan pemintaan sang hakim ketua. Sungguh tak biasa ada dendang lagu di tengah sidang yang biasanya super khidmat.

Tanpa banyak ambil waktu, terdakwa lantas bernyanyi. Meski dengan nada yang terbata lantaran malu di depan sidang, lagu ibu terdengar cukup merdu. Namun tak lama, lantunan lagu berhenti dan rusak seketika. Suara terdakwa seperti tercekik saat melafalkan bait, “ibuku sayang masih terus berjalan.”

Setelah bait tersebut ia tak kuasa melanjutkan nyanyian. Terdakwa menangis sejadinya. Emosinya meledak. Begitu juga dengan seisi pengunjung di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu.

“Saya juga terharu sebenarnya,” kata hakim Djoe. Namun ia sadar harus bisa mengendalikan emosi di saat persidangan.

Bagi Hakim Djoe, persidangan bukan cuma ajang penghukuman. Persidangan jauh mulia dari pada itu. Persidangan harusnya menjadi momen pembelajaran bagi sesiapa, bukan hanya terdakwa. Belajar dari kesalahan, belajar cinta kasih dan belajar menjalani hidup yang bertanggung jawab.

“Saya yakin terdakwa menyesal dengan segala perbuatannya,” kata Djoe. Sebuah lagu membuat haru seluruh isi Pengadilan Negeri Dompu. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/gara-gara-lagu-iwan-fals-seisi-ruangan-pengadilan-di-dompu-terharu.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock