Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Agar Ditahlilkan, Anggota Muhammadiyah Menyekolahkan Putrinya ke Madrasah NU

All About Santri - Puluhan warga Kalilopo, Klumpit, Gebog, Kudus berduyun-duyun datang ke rumah Kusiri (alm) untuk tahlilan hari ke-5 wafat tuan rumah. Padahal, warga sekitar tahu jika Kusiri selama ini dikenal sebagai anggota Muhammadiyah aktif di Kudus.

Agar Ditahlilkan, Anggota Muhammadiyah Menyekolahkan Putrinya ke Madrasah NU
Agar Ditahlilkan, Anggota Muhammadiyah Menyekolahkan Putrinya ke Madrasah NU


Setelah ditelusuri, Kusiri memang sengaja menyekolahkan ketiga anaknya, masing-masing Ulin Nihayah, Eva dan Dewi ke sekolah di bawah naungan LP Ma’arif NU dengan harapan agar kelak ketika

meninggal, ada yang menahlilkan. Saksi yang mendengarkan cita-cita almarhum tersebut bernama Turikan, warga Kalilopo Rt. 02 Rw. 04.

Di Muhammadiyah, dari dulu upacara tahlilan berjama’ah dalam rangka mendoakan orang yang sudah wafat adalah perkara tabu. Bahkan sebagian mereka mengatakan bid’ah karena tidak pernah dilaksanakan pada zaman Nabi.

Semua anak Kusiri adalah lulusan MA NU Hasyim Asy’ari Gebog Kudus. Walau dia aktif sebagai anggota Muhammadiyah, harapan untuk mendapatkan amal jariyah berupa doa dari anak sangat tinggi.

Barangkali, Kusiri adalah ayah yang beruntung karena semua anaknya masuk sekolah di lingkungan NU. Tanpa ada rasa gengsi, madrasah NU jadi pilihan mencerdaskan anak-anaknya agar mengenal berbakti kepada orang tua. Jika saja dia pengurus Muhammadiyah, mungkin saja ia gengsi menyekolahkan anaknya ke madrasah NU. Barokah, Pak! [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/agar-ditahlilkan-anggota-muhammadiyah-menyekolahkan-anaknya-ke-madrasah-nu.html

Jumat, 17 Februari 2017

Santri Polewali Mandar: Negara Khilafah Bukan Solusi

Jakarta, All About Santri
Forum Santri Pambusuang dan Campalagian kabupaten Polman, dengan tegas menolak paham anti NKRI. Mereka mengajak masyarakat untuk memastikan bersihnya lingkaran pergaulan anak-anak mereka dari pengaruh gerakan-gerakan makar terhadap negara.
<>
Pernyataan itu disampaikan pada acara temu ulama dan tokoh umat Islam yang dihelat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) , di Lapeo, Campalagian, Polman, Ahad (19/4).

"Kami menolak pemikiran HTI. Kami mengajak masyarakat untuk berpikir jernih. Kami mengajak masyarakat turut serta berjuang atas nama agama, negara, dan kemanusiaan," tegas Busyra, salah seorang santri Campalagian.

Busyra yang juga kader Ansor Polman ini menegaskan bahwa perbaikan tatanan masyarakat bisa dilakukan tanpa harus mendirikan sistem khilafah.

"Kami mengkhawatirkan agenda-agenda ormas yang mengabaikan negara dan pemerintah," jelasnya.

Sementara salah seorang santri Pambusuang, Mustakim, mengingatkan masyarakat dan ormas Islam untuk senantiasa bersama-sama meneladani perjuangan para ulama terdahulu yang berperan serta mendirikan negara Republik Indonesia.

"Jangan mengganti dasar negara, kita telah punya Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila. NKRI harga mati," kata Mustakim.

Ia pun menegaskan, santri yang berdomisili di Campalagian dan Pambusuang kabupaten Polman, tidak akan mendukung bentuk negara khilafah. "Silakan berwacana soal negara khilafah, tapi kami tak akan mendukung dan tetap berdiri menjaga NKRi," jelas penggiat sejarah Islam Nusantara ini.

Selain penolakan dari Forum Santri, agenda HTI yang dilangsungkan di Lapeo, Campalagian kabupaten Polman ini, juga ditolak oleh generasi muda keluarga Imam Lapeo.

"Di keluarga Imam Lapeo ditanamkan untuk mencintai agama dan negara sekaligus dalam satu tarikan nafas. Jika ada ormas Islam yang tidak bernafaskan mencintai agama dan negara, tentu kami menolak," tandas Ahmad Arfah. (Red. Alhafiz K)

Dari : /post/read/58985/santri-polewali-mandar-negara-khilafah-bukan-solusi

Rabu, 20 Januari 2016

Jelang Pilkada, Kiai Tebuireng Instruksikan Pulang Santri Asal DKI Jakarta

All About Santri - Saat khutbah Jumat di Pesantren Tebuireng (03/02/2017), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng KH Ahmad Mustain Syafiie menghimbau agar santri asal Provinsi Jakarta pulang dan menggunakan hak pilihnya dalam Pilgub DKI Jakarta, 15 Februari 2017.

Jelang Pilkada, Kiai Tebuireng Instruksikan Pulang Santri Asal DKI Jakarta
Jelang Pilkada, Kiai Tebuireng Instruksikan Pulang Santri Asal DKI Jakarta


"Murni sebagai khotib saya mengingatkan, santri asal DKI yang sudah punya hak pilih, pulanglah. Gunakan hak pilih. Izin pada lembaga," tuturnya.

Memilih pemimpin, Kata Kiai Tain, termasuk bagian dari agama. "Muslim, wajib memilih pemimpin muslim," tandasnya. Menggunakan hak pilih, juga termasuk bagian bela negara. Sekaligus wujud cinta tanah air.

"Kita sama-sama sudah melihat yang keluar dari mulutnya, yang tersimpan dalam hatinya jauh lebih besar. Jauh lebih besar," ucapnya mengutip QS Ali Imron 118, Qod badatil baghdloo'u min afwahihim (telah nyata kebencian dari mulut mereka).

Wama tuhfi suduruhum akbar (dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka jauh lebih besar lagi). Siapa yah yang dimaksud Kiai Mustain dalam kutipan dua ayat ini? Entahlah! [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/jelang-pilkada-kiai-tebuireng-instruksikan-pulang-santri-asal-dki-jakarta.html

Rabu, 22 Juli 2015

Menag: Pemerintah Tidak Ikut Campur Dalam Masalah Akidah

Jakarta, All About Santri. Menteri Agama (Menag) Prof Dr Said Aqiel Munawar menyatakan, pemerintah dalam prinsip kerukunan umat beragama tidak akan ikut campur dalam masalah akidah.

"Silakan sendiri-sendiri, pemerintah tidak ikut campur dalam masalah-masalah yang terkait dengan kepercayaan masing-masing pemeluk agama," katanya di hadapan ratusan tokoh agama/masyarakat NTB di Mataram, Sabtu.

Menteri mengajak segenap umat beragama di daerah ini untuk menciptakan kerukunan umat beragama, sebab kerukunan dan kedamaian merupakan sesuatu yang sangat didambakan.

Menag: Pemerintah Tidak Ikut Campur Dalam Masalah Akidah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Pemerintah Tidak Ikut Campur Dalam Masalah Akidah (Sumber Gambar : Nu Online)


Menag: Pemerintah Tidak Ikut Campur Dalam Masalah Akidah

Terlebih lagi dengan dideklarasikannya forum musyawarah antarumat beragama yang dikaitkan dengan masa kampanye partai-partai politik sekarang ini. "Mudah-mudahan tokoh-tokoh agama melalui majelis agamanya masing-masing memberikan contoh dan teladan yang baik serta kesejukan kepada umatnya," kata menteri.

Melalui kampanye yang berlangsung damai diharapkan Indonesia menjadi aman, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa mencapai tujuh persen. "Yakinlah, dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, paling lambat pada tahun 2008 atau 2009, utang Indonesia dapat dilunasi, setelah itu masyarakat dapat menikmati apa yang diimpikan selama ini," kata menteri.

Pada kesempatan itu lima tokoh agama membacakan ikrar bersama, yakni senantiasa menggalang kebersamaan, menciptakan umat bersatu, NTB damai. Selanjutnya menyukseskan pelaksanaan Pemilu 2004 serta bersama pemerintah senantiasa menciptakan suasana yang kondusif, aman dan nyaman.

All About Santri

Ikrar tersebut ditandatangani oleh masing-masing Drs H Mustamiuddin Ibrahim, SH dari MUI, Pastor Rosarius Geli, SVD dari Dekenat Katolik, Wahyu Setio Wibowo dari PGI, I Gde Mandia, SH dari PHDI dan Drs Chandra Susila (Walubi).

Ikrar dan deklarasi pembentukan Forum Musyawarah Umat Beragama oleh para tokoh agama di NTB tersebut disaksikan Menteri Agama, Said Aqiel Munawar, Gubernur NTB, Drs H Lalu Serinata, Wakil Gubernur Drs HB Thamrin Rayes serta para pejabat teras.(red)

All About Santri

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/1341/menag-pemerintah-tidak-ikut-campur-dalam-masalah-akidah

Minggu, 29 September 2013

Dulu, Amaliyah Muhammadiyah Itu NU Banget!

All About Santri - Tulisan kali ini hendak mempertegas tulisan kami yang telah lalu berjudul“Sejarah Awal Muhammadiyah yang Terlupakan”, dimana banyak dari kita belum tahu atau sengaja melupakan sejarah awal Muhammadiyyah.

Secara ringkas kami katakan bahwa, KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah pada 18 November 1912/8 Dzull Hijjah 1330) dengan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU pada 31 Januari 1926/16 Rajab 1344) adalah satu sumber guru dengan amaliah ubudiyah yang sama. Bahkan keduanya pun sama-sama satu nasab dari Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Berikut kami kutip kembali ringkasan “Kitab Fiqih Muhammadiyyah”, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan tahun 1343 H/1925 M, dimana hal ini membuktikan bahwa amaliah kedua ulama besar di atas tidak berbeda:

Dulu, Amaliyah Muhammadiyah Itu NU Banget! - All About Santri
Dulu, Amaliyah Muhammadiyah Itu NU Banget! - All About Santri


Dulu, Amaliyah Muhammadiyah Itu NU Banget!

1. Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardha...” (halaman 25).

2. Setelah takbir membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).

All About Santri

3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrahmanirrahim”(halaman 26).

All About Santri

4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).

5. Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).

6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).

7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).

8. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).

KH. Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, as-Sayyid Abubakar Syatha ad-Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i.

Jauh sebelum menunaikan ibadah haji dan belajar mendalami ilmu agama, KH. Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada asy-Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang. KH. Shaleh Darat adalah ulama besar yang telah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Masjidil Haram Makkah.

Di pesantren milik KH. Murtadha (sang mertua), KH. Shaleh Darat mengajar santri-santrinya ilmu agama, seperti kitab al-Hikam, al-Munjiyat karya beliau sendiri, Lathaif ath-Thaharah, serta beragam ilmu agama lainnya. Di pesantren ini, Mohammad Darwis bertemu dengan Hasyim Asy’ari. Keduanya sama-sama mendalami ilmu agama dari ulama besar Syaikh Shaleh Darat.

Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari berusia 14 tahun. Keduanya tinggal satu kamar di pesantren yang dipimpin oleh Syaikh Shaleh Darat Semarang tersebut. Sekitar 2 tahunan kedua santri tersebut hidup bersama di kamar yang sama, pesantren yang sama dan guru yang sama.

Dalam keseharian, Muhammad Darwis memanggil Hasyim Asy’ari dengan panggilan “Adik Hasyim”. Sementara Hasyim Asy’ari memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan “Mas atau Kang Darwis”.

Selepas nyantri di pesantren Syaikh Shaleh Darat, keduanya mendalami ilmu agama di Makkah, dimana sang guru pernah menimba ilmu bertahun-tahun lamanya di Tanah Suci itu. Tentu saja, sang guru sudah membekali akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan referensi ulama-ulama mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di Makkah.

Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu berdarah Nusantara. Praktik ibadah waktu itu seperti wiridan, tahlilan, manaqiban, maulidan dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan ulama-ulama Nusantara. Hampir semua karya-karya Syaikh Muhammad Yasin al-Faddani, Syaikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Khaathib as-Sambasi menuliskan tentang madzhab Syafi’i dan Asy’ariyyah sebagai akidahnya. Tentu saja, itu pula yang diajarkan kepada murid-muridnya, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan selainnya.

Seusai pulang dari Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari guru-gurunya di Makkah. Muhammad Darwis yang telah diubah namanya menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyyah. Sedangkan Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul 'Ulama').

Begitulah persaudaraan sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syaikh Shaleh Darat hingga menjadi santri di Tanah Suci Makkah. Keduanya juga membuktikan, kalau dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah dan madzhabnya.

Saat itu, di Makkah memang mayoritas bermadzhab Syafi’i dan berakidahkan Asy’ari. Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH. Ahmad Dahlan persis dengan guru-gurunya di Tanah Suci. Seperti yang sudah dikutipkan di awal tulisan, semisal shalat Shubuh KH. Ahmad Dahan tetap menggunakan Qunut, dan tidak pernah berpendapat bahwa Qunut sholat subuh Nabi Muhammad Saw adalah Qunut Nazilah. Karena beliau sangat memahami ilmu hadits dan juga memahami ilmu fikih.

Begitupula Tarawihnya, KH. Ahmad Dahlan praktek shalat Tarawihnya 20 rakaat. Penduduk Makkah sejak berabad-abad lamanya, sejak masa Khalifah Umar bin Khattab Ra., telah menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir hingga sekarang. Jumlah ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi Saw. Bagi penduduk Makkah, Tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ (konsensus kesepakatan) para sahabat Nabi Saw.

Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan Tarawih dengan 36 rakaat. Penduduk Makkah setiap pelaksanaan Tarawih 2 kali salaman, semua beristirahat. Pada waktu istirahat, mereka mengisi dengan thawaf sunnah. Nyaris pelaksanaan shalat Tarawih hingga malam, bahkan menjelang Shubuh.

Di sela-sela Tarawih itulah keuntungan penduduk Makkah, karena bisa menambah pahala ibadah dengan thawaf. Maka bagi penduduk Madinah untuk mengimbangi pahala dengan yang di Makkah, mereka melaksanakan Tarawih dengan jumlah lebih banyak.

Jadi, baik KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari tidak pernah ada perbedaan di dalam pelaksanaan ubudiyah. Ketua PP. Muhammdiyah, Yunahar Ilyas pernah menuturkan: “KH. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktekkannya doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih yang sebelas rakaat.”

Sedangkan jawaban enteng yang dikemukan oleh dewan tarjih saat ditanyakan: “Kenapa ubudiyyah (praktek ibadah) Muhammadiyyah yang dulu dengan sekarang berbeda?” Alasan mereka adalah karena “Muhammadiyyah bukan Dahlaniyyah”.

Masihkah di antara kita yang gemar mencela dan mengata-ngatai amaliah-amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah Nahdlatul Ulama' sebagai amalan bid’ah, musyrik dan sesat? 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/dulu-amaliyah-muhammadiyah-itu-nu-banget.html

Senin, 26 November 2012

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

All About Santri - Ini teks istighotsah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari yang saya dapat dari kiai Fahruddin, pengasuh PP. Thoriqul Huda Ponorogo beberapa bulan sebelum beliau wafat. Beliau menerima dari Gus Kholiq bin Hasyim Asy'ari.

Ada secuil kisah tentang istighotsah tersebut. Konon kiai Hasyim pernah memprediksi akan terjadinya gonjang-ganjing yang akan menimpa Indonesia wa bil khusus Nahdlatul Ulama.

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia) - All About Santri
Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia) - All About Santri


Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

Apakah fenomena sekarang di mana antar umat Islam, antar ormas Islam dengan mudah diadu domba, saling mencaci-maki orang adalah gonjang-ganjing yang dimaksud Hadratus Syaikh? Wallahu A'lam.

Senyampang kita masih waras menurut ukuran kita sendiri, mari sama-sama berdoa agar kita tidak termasuk dalam lingkaran pelaku gonjang-ganjing tersebut.

All About Santri

NB. Bila ada teks atau harakat yang salah, mohon maaf. Saya dapatnya begitu. [All About Santri]

Gus Zaki Hadziq Tebuireng, cucu KH. Hasyim Asy'ari.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/teks-istighotsah-kh-hasyim-asyari.html

All About Santri

Kamis, 01 November 2012

Karyono Sebut Bakar Jagung dan Ikan Sia-Sia, Antum Justru Komen Mubadzir, Tadz!

All About Santri - Entah apa yang ada dalam keyakinan agama Dr. H. Karyono Ibnu Ahmad ini. Hanya karena ingin melarang perayaan tahun baru masehi, ia menyebut kalau bakar jagung dan bakar ikan bisa dosa besar karena mubadzir. Itu tradisi non muslim. Hmmm

Karyono Sebut Bakar Jagung dan Ikan Sia-Sia, Antum Justru Komen Mubadzir, Tadz!
Karyono Sebut Bakar Jagung dan Ikan Sia-Sia, Antum Justru Komen Mubadzir, Tadz!


Komentar berlebihan tersebut dimuat dalam Tabloid bernama UmmaH, yang kemudian dicopas oleh situs kalsel.muhammadiyah.or.id, Sabtu (31/12/2016) dengan judul "Jangan Lakukan Perbuatan Mubadzir di Akhir Tahun".

Dosen yang mengajar di FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Ulam) Banjarmasin tersebut bahkan menyebut dosa bagi yang melakukannya. "Itu merupakan perbuatan sia-sia, tidak ada dalam ajaran Islam, bahkan menjadi dosa karena mubazir, " ujar Dr. H. Karyono Ibnu Ahmad.

Sekilas tampaknya benar, seakan dia ulama pakar yang paham agama. Padahal, jika merujuk pada pengertian mubadzir sendiri, jagung dan ikan yang dibakar, lalu dimakan bersama-sama, itu sama sekali tidak bisa disebut mubadzir.

Mubadzir adalah zaadul maaasir, yakni menyalahgunakan, menghambur-hamburkan atau merusak harta. Menurut Dr. Abdullah Laam bin Ibrahim dalam Al Bahuti, mubadzir adalah membelanjakan harta tidak pada semestinya, atau membeli barang haram semacam miras, bom (untuk teroris) atau membeli domain untuk menghina kiai dan NU.

Contoh mubadzir adalah menggunakan telur untuk dicampur, dikocok dengan air, lalu dilemparkan kepada teman kita yang sedang ulang tahun, hanya untuk mengerjainya. Itu bisa masuk kategori mubadzir karena telur yang digunakan akhirnya tidak bisa dikonsumsi.

Bagaimana dengan jagung dan ikan? Apakah ada yang membakar jagung untuk mainan pesta, misalnya, dibuat petasan, lalu ketika meledak, banyak yang tepuk tangan? Apakah ikan bisa digunakan bahan peledak membuat petasan dengan cara dibakar? Hanya orang songong yang berkata seperti itu.

Jadi, ustadz wahabi yang juga dosen di IAIN Antasari Samarinda itu sedang menunjukkan adegan melucu di tahun baru ini. Apalagi menyebut kalau membakar jagung dan ikan adalah tradisi non muslim. Hahahah. Makin lucu saja! Pedagang jagung di sebelah kejang-kejang mendengar fatwa itu.

Mbok ya kalau mau menasehati jangan mubadzir begitu, tadz. Yang substansial dan masuk akal kan masih banyak yang bisa dipilih. Komentar mubadzir macam Karyono Ibnu Ahmad tersebut justru mengarah kepada keharaman yang sesungguhnya.

Dia seperti sedang berfatwa bahwa zina itu haram, ya semua orang akan tertawa jika itu difatwakan oleh MUI, misalnya. Mengapa? Muslimin semua tahu kalau zina itu haram pak uzzztazzz! Tidak perlu komentar dan fatwa. Sudah ma'luman fid din bi aldlarurah. [dutaisilam.comAll About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/karyono-sebut-bakar-jagung-dan-ikan-sia-sia-dan-mubadzir.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock