Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Gus Mus: Jangan Percaya ke Media yang Menyudutkan Kiai NU

All About Santri - Banyak wejangan yang diterima 15 pengurus GP Ansor Giligenting Kabupaten Sumenep saat sowan ke KH Musthofa Bisri (Gus Mus) di Rembang, Ahad (25/12). Mereka diminta untuk melakukan verifikasi atas segala bentuk berita di era banjirnya informasi ini.

Gus Mus: Jangan Percaya ke Media yang Menyudutkan Kiai NU
Gus Mus: Jangan Percaya ke Media yang Menyudutkan Kiai NU


"Jangan percaya terhadap media-media yang menyudutkan kiai NU. Apalagi men-sharenya tanpa tahu media dan penulisnya," ujar Gus Mus yang disimak secara khidmat oleh Ketua GP Ansor Giligenting Rudy Hartono dan sahabat-sahabat.

Gus Mus juga menegaskan agar GP Ansor terus berada di garda terdepan dalam menjaga NU dan NKRI. Salah satunya dengan tidak mudah percaya dengan pemuka agama agama masa kini yang tidak jelas asal-usul dan sanad keilmuannya.

"Harus tahu latar belakang dari pemuka agama tersebut. Hati-hati dengan lembaga-lembaga fatwa karena sudah banyak tokoh agama yang tidak berpaham Aswaja di dalamnya," tukas Gus Mus. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/gus-mus-jangan-percaya-ke-media-yang-menyudutkan-kiai-nu.html

Rabu, 06 Januari 2016

Suluk Keselamatan Kaum Petani

Warga desa Kuanyar, kecamatan Mayong, Jepara, Jawa Tengah dari letak geografisnya berada di pantai utara sebenarnya dekat budaya pesisir. Namun begitu kebanyakan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup kesehariannya dengan bertani. Ketekunan mereka bertani dikuatkan dengan jalan mengikuti tarekat aliran Syattariah.

Tarekat Syattariah didirikan seorang sufi dari India, Abdullah Syattar. Tarekat ini di Nusantara kurang memiliki pengaruh signifikan. Tarekat ini berkembang di Sumatra dan Jawa melalui jalur Abdurauf ibn al-Sinkili. Sedangkan ke Jawa melalui murid Syaikh Abdurauf, Syaikh Abdul Muhyi.

Suluk Keselamatan Kaum Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk Keselamatan Kaum Petani (Sumber Gambar : Nu Online)


Suluk Keselamatan Kaum Petani

Silsilah tarekat Syattariah di Kuanyar geneologinya kurang jelas. Dari hasil pengkajian buku ini hanya diketahui jalur pengabsahan tarekat ini hanyalah sampai kepada Kiai Murtadlo yang dinisbahkan sebagai cicit syaikh Mutamakin. Urutannya adalah dari Syaikh Kiai Murtadlo, ke Kiai Andurahman, Bangle, Kiai Janamin (w.1918), Kiai Abdul Hadi (w. 1956), Kiai Syihabuddin, Kuanyar.

***

All About Santri

Kajian Nur Syam dalam buku ini mencermati fenomena penganut tarekat Syattariah lokal yang kebanyakan berprofesi petani. Ada beberapa fenomena dari kajiannya tersebut tertuang dalam buku ini;

All About Santri

Pertama berkaitan dengan kesederhanaan dan gaya hidup mereka. Itu terlihat dari pola berpakaian mereka amat sederhana, bahkan sekedar aurat tertutupi. Itu terlihat ketika mereka berpakaian dalam forum resmi, misalnya menghadiri pengajian umum, tawajuhan, tahlilan dan forum-forum tidak resmi semacam di rumah, menerima tamu, ke pasar, ke tempat perdagangan. Salah satu responden yang diteliti hanya memiliki pakaian khas untuk sembahyang sebanyak dua potong dan sarung dua potong, celana dua potong serta tiga potong pakaian kerja. (hlm 162-163).

Kedua berkaitan daya kerja mereka tinggi. Meskipun profesinya petani, dimana waktu kerja keras hanya menjelang masa tanam dan masa panen, mereka memiliki waktu istirahat relatif sedikit, apalagi kalau musim bekerja di sawah, menanam atau panen. Mereka jarang tidur siang, walaupun malamnya mengikuti pengajian sampai larut malam. Rata-rata mereka tidur sekitar empat sampai enam jam.

Mereka bekerja di sektor pertanian dengan tanah relatif sempit, mengharuskan mereka untuk bekerja di sektor lainnya, misalnya perdagangan. Karena usaha dagangnya, hampir setiap hari mereka pergi ke sawah satu ke sawah lainnya. Bahkan dari pagi sampai sore mereka masih berkutat dengan usahanya tersebut, mulai dari mengawasi orang bekerja, memanen padi di sawah sampai menimbang gabah dan menjualnya atau mengeringkan di mesin penggiling padi. (hlm 130-131).

Ketiga berkaitan dengan aktivitas sosialnya. Walau mereka memiliki waktu istirahat relatif sedikit, akan tetapi kenyatannya juga tidak mengurangi aktivitas lainnya yang terkait dengan kehidupan sosial kemasyarakatannya.

Berdasarkan pengamatan terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh penganut tarekat bahwa kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial dimana mereka berada juga cukup tinggi. Hal ini dapat diamati di kala mereka sedang berada di sawah. Mereka juga mengerjakan seperti pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja lainnya.

Mereka mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kelangsungan kegiatan tahlilan sebagai salah satu kegiatan yang mempunyai makna religius dan juga sosial. Sebab dengan tahlil ini manusia akan saling membantu terhadap sesamanya dalam bentuk bacaan tahlil yang ditujukan kepada keluarga si empunya rumah yang ditempati tahlil.(hlm 180-181)

Keempat berkaitan dengan aktivitas ibadah sebagai anggota tarekat juga intens dan kuat. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-hari mereka juga melakukan berbagai shalat sunnah. Di antara shalat yang selalu dilakukannya ialah shalat rawatib empat rakaat sebelum dan sesudah shalat wajib, sahalat tahajud, shalat dhuha dan kegiatan wirid yang harus dibacanya sehari semalam sebanyak 3.000 kali.

Dari penelitiannya ini Nur Syam menyimpulkan bahwa fenomena pengikut tarekat Syattariah lokal di Kuanyar, Mayong, Jepara yang kebanyakan berprofesi petani perilakunya sangat dekat dengan konsepsi budaya Jawa, slamet, keselamatan. Dalam berbagai tindakan yang dilakukan maka orang Jawa akan mengedepankan slamet sebagai referensinya. Keselamatan di dunia dan di akherat.

Sebagai penganut tarekat mereka menyadari betapa pentingnya menjaga keselamatan didalam kehidupannya. Itulah sebabnya mereka menyatu dengan budaya Jawa dimana mereka hidup. Mereka tidak menciptakan sendiri budayanya yang terlepas dari lingkungan sosialnya, akan tetapi menyatukannya di dalam bingkai kehidupan yang memberinya rasa aman tanpa gangguan. Dalam tataran kehidupan dunianya tersebut, mereka selalu terlibat di setiap kegiatan masyarakat yang menyelenggarakan upacara-upacara keagamaan dan sosial. Bahkan mereka mementingkan menjaga kebersamaannya dengan masyarakat lainnya jika ada kegiatan yang memang mengharuskannya berbuat seperti itu. (hlm 199-200).

Apa yang ditorehkan Nur Syam dalam buku ini menunjukkan bagaimana petani lokal Kuanyar yang ikut tarekat Syattariah, memiliki konsep hidup manusia itu mencari keselamatan. Konsep tersebut mereka dalami dari ajaran agama Islam dan budaya Jawa yang keduanya menemui titik temunya dalam jalan keselamatan. Jalan keselamatan tersebut ditempuh dengan rukun dengan sesama, dengan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hidup sederhana, dan selalu ingat dan beribadah kepada tuhan yang maha kuasa.

Buku ini menarik, mengetengahkan catatan semi antropologis kehidupan petani lokal pengikut tarekat Syattariah, memberikan cakrawala baru bagi kita terutama berkaitan dengan kajian tarekat di Nusantara dengan sudut pandang bukan lagi politik, ekonomi melainkan budaya. Walau kurang mendalam setidaknya buku ini sudah memulai sesuatu yang baru untuk dikembangkan lebih lanjut.***

Judul Buku: Tarekat Petani Fenomena Tarekat Syattariah Lokal

Penulis: Prof Dr Nur Syam, MA

Editor: Musnif Istiqomah

Penerbit: LKiS Jogjakarta

Cetakan I: 2013

Tebal Buku: xiv + 236 Halaman

Peresensi: Muhamad Rifai, seorang petani, tinggal di Temanggung, Jawa Tengah

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47746/suluk-keselamatan-kaum-petani

Kamis, 03 April 2014

Mahasiswa NU Berprestasi Nasional Motivasi Peserta BPUN Bogor

Bogor, All About Santri. Mahasiswa Intitut Pertanian Bogor (IPB) alumni Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) mengundang Ikrom Mustofa, Mahasiswa berprestasi 2 Nasional 2015 dalam acara BPUN dari Yayasan MataAir. Acara bertajuk motivasi masuk perguruan tinggi ini dilaksanakan dalam rangkaian acara BPUN area Bogor bagi pelajar SMA untuk persiapan sukses menghadapi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016.

BPUN Bogor kali ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Atthoyyibah Dramaga Kabupaten Bogor, asuhan KH Nahrowi. Dalam kesempatan berharga tersebut, Ikrom Mustofa yang juga peraih gelar santri berprestasi 1 Nasional 2015 berbagi strategi khusus untuk memasuki PTN. Selain itu, alumni jurusan Meteorologi Terapan IPB ini juga menjelaskan mengenai kehidupan kuliah, pascakampus, dan motivasi melanjutkan studi.

Mahasiswa NU Berprestasi Nasional Motivasi Peserta BPUN Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU Berprestasi Nasional Motivasi Peserta BPUN Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)


Mahasiswa NU Berprestasi Nasional Motivasi Peserta BPUN Bogor

Acara berjalan sangat interaktif ditandai dengan antusiasme peserta dalam menggali nilai-nilai teladan dari Ikrom Mustofa. Alumni KMNU IPB ini mengingatkan kepada peserta bahwa selain memiliki cita-cita yang tinggi sebagai langkah untuk memandang ke atas, kita juga harus selalu bersyukur dengan melihat ke bawah. (Hasan/Mukafi Niam)

All About Santri

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67954/mahasiswa-nu-berprestasi-nasional-motivasi-peserta-bpun-bogor

All About Santri

All About Santri

Senin, 25 November 2013

Kiai Said Aqil Siraj, Besar di Sarang Firaun Wahabi Makkah

All About Santri - KH Said Aqil Siraj memang unik, meski menjadi pejuang Aswaja yang tangguh, namun genealogi intelektualnya sempat diwarnai selama 14 tahun di sarang Wahabi, yakni saat menempuh pendidikan S1 Universitas King Abdul Aziz, Jedah, hingga S3 University of Umm al-Qura, Mekah, Arab Saudi, yang berhasil meraih gelar doktoral cum laude.

Kiai Said Aqil Siraj, Besar di Sarang Firaun Wahabi Makkah - All About Santri
Kiai Said Aqil Siraj, Besar di Sarang Firaun Wahabi Makkah - All About Santri


Kiai Said Aqil Siraj, Besar di Sarang Firaun Wahabi Makkah

Hasratnya meneguk ilmu memang luar biasa, sebagaimana dikatakan Dr. Hidayat Nur Wahid: "Said Aqil itu mahasiswa kutu buku, semasa di Mekah, ia lebih sering ditemukan ditempat-tempat ilmiah dan sulit menemukannya di forum organisasi". "Said Aqil ini putra Kiai yang cerdas," kata Dr. Nurcholish Majid. "Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan desertasi lebih dari 1000 referensi," kata Gus Dur.

Terbersit pertanyaan bagaimana pergulatan intelektual Kang Said -seorang Aswaja- dalam mempertahankan jati dirinya di sarang wahabi. Tentu penuh dinamika, namun bukanlah hal yang mustahil. Bukankah ada kisah yang lebih dramatis, tentang nabi Musa yang menjadi penjaga tauhid meski di bawah asuhan Fir’aun.

Meski besar dalam sarang Wahabi, spirit Aswaja tetap bersemayam dalam jiwa Kang Said. Hal ini tidak lepas dari basis pendidikan pesantren yang kuat di Lirboyo dan Krapyak. Pun di Mekah, beliau juga belajar kepada Sayid Muhammad Alawi al-Maliki, maha guru para ulama Aswaja di seluruh dunia.

Yang tidak bisa dilepaskan adalah pengaruh mentor seniornya, yakni Gus Dur. Kekariban dengan Gus Dur terlihat saat beliau berkunjung ke Mekah lebih suka menginap di tempat tinggal Kang Said.

Meski besar di sarang wahabi, tidak lantas menjadikan Kang Said menjadi gembong Wahabi. Bahkan dengan dukungan ulama sepuh seperti Mbah Moen, Gus Mus, Habib Luthfi, dan lain-lain, Kang Said membuktikan menjadi pejuang Aswaja terdepan, menjadi pimpinan PBNU dalam dua periode.

Bagi gembong-gembong wahabi beserta pengikutnya, fenomena Kang Said tentu cukup menyakitkan. Dari dalam sarangnya, lahir pejuang Aswaja yang tangguh. Berbagai tudingan untuk menjatuhkan kredibilitasnya gencar dilancarkan, secara langsung maupun dengan memperalat oknum NU yang gagal paham dan yang masuk dalam barisan sakit hati pasca muktamar.

Label antek Liberal, Yahudi, Syiah hingga kafir dituduhkan padanya. Bahkan ada yang mengusulkan untuk mencabut gelar doktoralnya. Atas berbagai fitnah itu, jawaban beliau mencerminkan praktek keilmuan tashawuf yang tidak terpesona dengan gebyar dunia meski dalam genggamannya. "Apapun gelar yang diberikan, saya tidak peduli. Jangankan gelar doktoral, gelar haji pun kalau mau di copot akan saya berikan," jawabnya.

Di tengah badai radikalisme, ketangguhan Kang Said menginspirasi kalangan mainstream Aswaja. Termasuk peran sertanya dalam melahirkan “Islam Nusantara’ yang tidak lain adalah untuk menyatukan semangat keagamaan dan kebangsaan. Sebuah langkah strategi cerdas untuk menangkal paham Islam radikal Wahabi, meneladani pendahulunya saat melahirkan Komite Hijaz, cikal bakal Nahdatul Ulama. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kiai-said-aqil-siraj-besar-di-sarang-firaun-wahabi-makkah.html

Minggu, 06 Oktober 2013

Marak Ujaran Kebencian di Medsos, Cyber Jateng: Siap Lawan!

All About Santri - Akhir-akhir ini, situs online dan iklim media sosial kian panas dan ramai dengan tema-tema keislaman, namun banyak yang berbau SARA dan menghasud. Ironisnya, banyak yang menshare tanpa tahu kalau konten ternyata isinya hoax.

Marak Ujaran Kebencian di Medsos, Cyber Jateng: Siap Lawan!
Marak Ujaran Kebencian di Medsos, Cyber Jateng: Siap Lawan!


Demikian dikatakan oleh Hasan Habibie dalam Workshop Digital Literasi bertema "Deradikalisasi Dunia Maya Berbasis Pendidikan Damai", yang diselenggarakan oleh Lakpesdam NU Kota Semarang, di Aula Perpustakaan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Sabtu (30/12/2016) pagi.

Menurut Hasan, jumlah netizen yang kini ada 87 juta orang (Indonesia) mudah terprovokasi dan mudah emosi dengen gesekan isu SARA sedikit, "beda pandangan sedikit soal demo 212, sudah berani dengan kiai," ujar Hasan di sesi pertama acara,

Dalam provokasi dunia maya, yang dipentingkan saat ini bukanlah kebenaran, tapi memoles kebohongan sehingga terkesan memiliki kebenaran, "itulah hoax," lanjut Hasan, "dalam bahasa lain, internet sekarang akhirnya bisa hidup bila kebohongan bisa dipoles jadi kebenaran, post truth era istilahnya," imbuhnya di hadapan puluhan mahasiswa dan santri se Semarang.

Atas fenomena busuk itulah, Hasan Habibie yang juga dari Pustekkom Kemendikbud itu, hanya menginginkan supaya para santri melek literasi digital, "santri bisa searching internet dengan benar, that is enaught," bebernya. Itu sangat stategis bagi santri mengingat selama ini musuh bersama kelompok pembuat hoax adalah Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk alasan tersebut, peserta sepakat untuk membentuk poros melek digital di wilayah Jawa Tengah dengan nama Aswaja Cyber Jateng, yang dideklarasikan langsung bersama sekretaris Lakpesdam NU Semarang, Rikza Chamami, tepat pukul 15.30 WIB.

Agus Fathuddin, jurnalis senior dan Sekjen PCNU Kota Semarang yang hadir dalam pembukaan mengharapkan kepada gerakan Cyber Aswaja Jateng itu bisa membantu para kiai yang selama ini, menurutnya, merasakan kegundahan sejak ada perseturuan antara GNPF dan Ahok di Jakarta. "Kita ini diserang, tapi tidak terasa," papar Agus.

Acara yang berlangsung hingga sore hari tersebut didukung juga oleh All About Santri bersama pembicara yang juga aktif sebagai admin website aswaja, antara lain Sholahuddin Ahmad (Ansorjateng.net), Abdullah Hamid (Ayomondok.com), Munawir Aziz (Islami.co) dan M Abdullah Badri (Nujepara.or.id). [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/marak-ujaran-kebencian-di-medsos-cyber-jateng-siap-lawan.html

Kamis, 01 November 2012

Karyono Sebut Bakar Jagung dan Ikan Sia-Sia, Antum Justru Komen Mubadzir, Tadz!

All About Santri - Entah apa yang ada dalam keyakinan agama Dr. H. Karyono Ibnu Ahmad ini. Hanya karena ingin melarang perayaan tahun baru masehi, ia menyebut kalau bakar jagung dan bakar ikan bisa dosa besar karena mubadzir. Itu tradisi non muslim. Hmmm

Karyono Sebut Bakar Jagung dan Ikan Sia-Sia, Antum Justru Komen Mubadzir, Tadz!
Karyono Sebut Bakar Jagung dan Ikan Sia-Sia, Antum Justru Komen Mubadzir, Tadz!


Komentar berlebihan tersebut dimuat dalam Tabloid bernama UmmaH, yang kemudian dicopas oleh situs kalsel.muhammadiyah.or.id, Sabtu (31/12/2016) dengan judul "Jangan Lakukan Perbuatan Mubadzir di Akhir Tahun".

Dosen yang mengajar di FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Ulam) Banjarmasin tersebut bahkan menyebut dosa bagi yang melakukannya. "Itu merupakan perbuatan sia-sia, tidak ada dalam ajaran Islam, bahkan menjadi dosa karena mubazir, " ujar Dr. H. Karyono Ibnu Ahmad.

Sekilas tampaknya benar, seakan dia ulama pakar yang paham agama. Padahal, jika merujuk pada pengertian mubadzir sendiri, jagung dan ikan yang dibakar, lalu dimakan bersama-sama, itu sama sekali tidak bisa disebut mubadzir.

Mubadzir adalah zaadul maaasir, yakni menyalahgunakan, menghambur-hamburkan atau merusak harta. Menurut Dr. Abdullah Laam bin Ibrahim dalam Al Bahuti, mubadzir adalah membelanjakan harta tidak pada semestinya, atau membeli barang haram semacam miras, bom (untuk teroris) atau membeli domain untuk menghina kiai dan NU.

Contoh mubadzir adalah menggunakan telur untuk dicampur, dikocok dengan air, lalu dilemparkan kepada teman kita yang sedang ulang tahun, hanya untuk mengerjainya. Itu bisa masuk kategori mubadzir karena telur yang digunakan akhirnya tidak bisa dikonsumsi.

Bagaimana dengan jagung dan ikan? Apakah ada yang membakar jagung untuk mainan pesta, misalnya, dibuat petasan, lalu ketika meledak, banyak yang tepuk tangan? Apakah ikan bisa digunakan bahan peledak membuat petasan dengan cara dibakar? Hanya orang songong yang berkata seperti itu.

Jadi, ustadz wahabi yang juga dosen di IAIN Antasari Samarinda itu sedang menunjukkan adegan melucu di tahun baru ini. Apalagi menyebut kalau membakar jagung dan ikan adalah tradisi non muslim. Hahahah. Makin lucu saja! Pedagang jagung di sebelah kejang-kejang mendengar fatwa itu.

Mbok ya kalau mau menasehati jangan mubadzir begitu, tadz. Yang substansial dan masuk akal kan masih banyak yang bisa dipilih. Komentar mubadzir macam Karyono Ibnu Ahmad tersebut justru mengarah kepada keharaman yang sesungguhnya.

Dia seperti sedang berfatwa bahwa zina itu haram, ya semua orang akan tertawa jika itu difatwakan oleh MUI, misalnya. Mengapa? Muslimin semua tahu kalau zina itu haram pak uzzztazzz! Tidak perlu komentar dan fatwa. Sudah ma'luman fid din bi aldlarurah. [dutaisilam.comAll About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/karyono-sebut-bakar-jagung-dan-ikan-sia-sia-dan-mubadzir.html

Minggu, 07 Oktober 2012

Kerudung Beragam Jenis Diminati Perempuan

Jepara, All About Santri. Meski Ramadhan baru berlangsung sepekan, penjual kerudung menjadi rujukan perempuan muslimah. Jenisnya cukup beragam. Sebut saja Paris, Syahrini, Pasminah, Asereje, Ayu Ting-ting, Cocor Bebek, Rabbani, Tsunami dan masih banyak lagi.

Beragam jenis kerudung yang dijual antara Rp.8.500-25.000 tersebut laris manis. Seperti toko milik Hj Sumari di desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan. Dalam sehari dagangannya laku sekitar 5-15 buah.

Kerudung Beragam Jenis Diminati Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kerudung Beragam Jenis Diminati Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)


Kerudung Beragam Jenis Diminati Perempuan

Alhamdulillah sehari kerudung yang laku 5-15 buah, kata Sumari pemilik toko alat konfeksi yang berada di desa Margoyoso RT.01 RW.02.

Pembeli berasal dari berbagai kecamatan semisal Nalumsari, Mayong, Welahan, Kalinyamatan, Pecangaan, Batealit, Pakis Aji, Bangsri dan sekitarnya.

All About Santri

Untuk menyiasati berganti-ganti jenis, ia sering meng-update kerudungnya dengan membeli grosiran dari Kudus.

Pembeli biasanya mencari model terbaru. Untuk itu saya sering kulakan ketika ada model baru biar tidak ketinggalan dengan toko-toko lain apalagi yang bertaraf gedhe, paparnya.

All About Santri

Puncaknya, kerudung semakin dicari tambah Ibu dengan 5 anak ketika akan mendekati hari raya Idul Fitri. Hal itu, berkaitan dengan kebutuhan modis perempuan.

Di rumahnya RT.02 RW.03 ia juga membuka toko kerudung yang dijaga oleh anak kandungnya.

Toko saya buka sampai jam 5 sore. Apabila malam hari ada pelanggan yang butuh ya bisa datang ke rumah. Toko yang dikelola anak saya yang juga melayani penjualan kerudung berbagai jenis, imbuhnya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38988/kerudung-beragam-jenis-diminati-perempuan

All About Santri

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock