Tampilkan postingan dengan label Sohih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sohih. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2016

Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan

Mungkin kita sebagai Nahdliyin sering mendengar nama sekaliber KH Hasyim Asyari ataupun KH Wahab Chasbullah, namun kita jarang bahkan tidak mengenal nama KH Ahmad Dahlan. Beliau merupakan salah satu tokoh NU pada era awal yang menjabat sebagai wakil rais aam, satu tingkat di bawah KH Hasyim Asyari yang menjabat sebagai rais akbar Nahdlatul Ulama, juga sebagai penggerak dan pembela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Seperti yang dikatakan oleh Soekarno tentang Jasmerah (angan sekali-kali melupakan sejarah), kita sebagai Nahdliyin dilarang keras untuk melupakan sejarah kita sendiri. Dengan mengenal tokoh-tokoh awal NU, kita dapat meneladani bagaimana perjuangan serta pengorbanan para muassis NU yang tidak hanya menegakkan agama tetapi juga menegakkan berdirinya NKRI hingga dapat kita rasakan sampai saat ini.

Adalah Wasid Mansyur yang berhasil menuangkan dalam sebuah buku tentang biografi, sejarah perjalanan, serta komitmen beliau. Buku ini juga berhasil mengulas pemikiran Kiai Dahlan untuk membentengi akidah rakyat Surabaya pada waktu itu yang mulai terserang virus TBC (Takhayyul, Bidah, Churafat) yang disebarkan oleh firqah di luar Ahlussunnah wal Jamaah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Wahabi dalam magnum opusnya yaitu kitab Tadzkiratun Nafah. Buku ini juga disertai bukti sejarah, sehingga apa yang ditulis dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta tidak sekedar asal bunyi (asbun).

Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan

Kiai Dahlan bernama lengkap Ahmad Dahlan ibn Muhammad Ahyad, terlahir pada 13 Muharram 1303 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Oktober 1885 di Kebondalem Surabaya, sebuah wilayah yang berada di Kecamatan Simokerto, sebelah timur makam Raden Rahmatullah Sunan Ampel, Kiai Dahlan merupakan putra ke empat dari enam bersaudara.(hlm. 4-5) Pendidikan beliau dimulai dari ayahnya sendiri, KH Muhammad Ahyad, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Kebondalem Surabaya. Setelah itu Kiai Dahlan belajar kepada Syaikhona Kholil ibn Abdul Latif (pengasuh pondok pesantren Kademangan, Bangkalan-Madura) lalu dilanjutkan berguru kepada Kiai Mas Bahar ibn Noer Hasan (pengasuh pondok pesantren Sidogiri Pasuruan).(hlm 9-10). Ini membuktikan bahwa keilmuan yang dimiliki oleh Kiai Dahlan merupakan keilmuan yang memiliki sanad yang jelas dan bersambung hingga kepada sayyidina Muhammad, karena banyak anak muda zaman sekarang yang berguru kepada internet yang jelas-jelas tidak memiliki sanad.

Dalam dunia pergerakan, Kiai Dahlan merupakan tokoh yang sangat sentral dalam membangun jaringan antar pesantren, letak pesantren Kebondalem yang strategis memberikan kemudahan tersendiri bagi beliau untuk merintis jaringan tersebut. Dengan jaringan inilah Kiai Dahlan dapat mengerti kondisi terkini yang dihadapi bangsa, termasuk isu-isu tentang keagamaan. Kiai Dahlan juga berperan penting bagi berdirinya Taswirul Afkar (kontekstualisasi pemikiran) yang didirikannya bersama Kiai Wahab dan Mangun, yang mana perkumpulan ini merupakan perkumpulan diskusi/kajian yang membahas dan mencari solusi atas masalah-masalah keagamaan dan sosial kemasyarakatan kaitannya dengan persoalan kekinian yang dihadapi oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Sedangkan dalam urusan pembiayaannya, Kiai Dahlan bersama pimpinan lainnya mendirikan Syirkatul Amaliyyah, yaitu semacam koperasi yang sahamnya dijualbelikan kepada para anggota Taswirul Afkar. Langkah ini disinyalir turut membantu pembiayaan kebutuhan harian, apalagi tidak adanya subsidi dari pemerintah Hindia-Belanda untuk perkumpulan tersebut. Kiai Dahlan bersama para kiai yang lainnya, juga berhasil membentuk MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) pada tanggal 12-15 Rajab 1356 H, bertepatan pada 18-21 September 1937. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menyatukan semangat kebangsaan antar seluruh ormas Islam untuk merespon penjajahan serta mentolerir segala perbedaan antar ormas sebagai sebuah keniscayaan.

All About Santri

Kiai Ahmad Dahlan juga menulis sebuah kitab pencerahan kepada umat, khususnya warga Surabaya untuk menyikapi kondisi sosial keagamaan yang tengah terjadi pada masyarakat umumnya. Misal, Kiai Dahlan menegaskan bahwa pada prinsipnya setidaknya dari kacamata Syafiiyyah ada keharusan melaksanakan shalat Dhuhur bagi pelaku Shalat Jumat yang diadakan di dua masjid atau lebih dalam satu wilayah. Hanya saja, ketegasan ini digarisbawahi dengan penyuguhan pandangan jika pelaksanaan shalat Jumat dalam dua tempat di satu wilayah tidak ada kebutuhan. Bila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya masjid awal tidak cukup, maka shalat Jumat di dua Masjid dalam satu wilayah diperbolehkan sehingga tidak ada keharusan shalat dhuhur setelah shalat Jumat usai. (hlm. 83-84).

All About Santri

Kemudian yang menjadi perhatian Kiai Dahlan adalah merebaknya pembidahan kepada amaliyah warga NU. Dalam tulisannya tersebut, Kiai Dahlan dengan tegas mengawali Bahwa semua yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi adalah bagian dari vidah merupakan orang yang bodoh dan tidak memiliki pendirian yang kuat (al-Juhlal al-Mutahawirun). Untuk memperkuat pandangannya, Kiai Dahlan mengutip bidah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khattab yang mengerjakan terawih secara berjamaah, yang kemudian Sayyidina Umar mengatakan Sebaik-baiknya bidah adalah ini. (hlm. 88).

Beliau juga mengulas pandangannya tentang pola serta perilaku kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam tetapi tindakannya sama sekali tidak mencerminkan budi pekerti Islam. Mereka hanya memaksakan kehendak menjadi Islam yang paling benar, padahal mereka seharusnya bisa belajar kepada empat imam mazhab yang memiliki pandangan tersendiri tetapi tetap menjaga toleransi hingga akhir hayatnya.

Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kita bagaimana menjaga serta mempertahankan paham dan ideologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, ditambah lagi di era yang serba canggih ini kelompok-kelompok di luar paham tersebut akan lebih mudah menyebarkan virus-virus radikalnya serta dengan mudahnya mereka mengkafirkan amaliyah-amaliyah warga Nahdliyyin. Kiai Dahlan juga mengajarkan kita bagaimana menyatukan semangat kebangsaan kita dan menghargai perbedaan pendapat sebagai sebuah keniscayaan serta menjaga keutuhan NKRI di tengah arus rongrongan makar yang dilakukan oleh segelintir kelompok Islam.

Data buku

Judul : Biografi Kiai Ahmad Dahlan; Aktivis Pergerakan dan Pembela Ajaran Aswaja

Penulis : Wasid Mansyur

Penerbit : Pustaka Idea

Terbitan : I, 2015

Tebal : xxiv + 144 hlm

ISBN : 978-602-72011-5-6

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63592/kiai-ahmad-dahlan-pejuang-nu-yang-terlupakan

All About Santri

Jumat, 22 Mei 2015

Ketum PBNU: Mengucapkan Selamat Natal Boleh

All About Santri - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan, tidak masalah bagi umat Islam mengucapkan selamat Natal. Namun ucapan itu ditujukan untuk Nabi Isa Almasih.

"Mengucapkan selamat Natal boleh. Tapi yang kita ucapkan itu atas kelahiran Nabi Isa Almasih," kata Said setelah menghadiri acara Haul ke-7 Gus Dur di Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (23/12/2016).

Said mengatakan, umat Islam tidak perlu khawatir bila ingin menyampaikan ucapan selamat Natal kepada tetangga, kerabat, atau rekan kerja.

"Boleh-boleh. Kita mengucapkan selamat hari Natal atas kelahiran nabi besar Isa Almasih binti Maryam. Jadi kita mengucapkan selamat ke nabi dan rasul, bukan ke anak Tuhan," jelas Said. [All About Santri/ab/adf/hri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ketum-pbnu-mengucapkan-selamat-natal-boleh.html

Rabu, 22 Agustus 2012

Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu

All About Santri - Seorang terdakwa perusakan menangis tersedu saat hakim memintanya bernyanyi satu lagu berjudul Ibu, ciptaan idolanya, Iwan Fals. “Atas perbuatan tersebut menuntut terdakwa dengan hukuman dua bulan kurungan.” Selasa, 30 Agustus 2016.

Pagi sekitar pukul 10.00 WITA, ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu diisi agenda persidangan biasa. Kali ini, di depan persidangan duduk seorang terdakwa yang dituntut jaksa hukuman dua bulan bui, atas perbuatannya dalam perkara perusakan barang. Ia dianggap melanggar pasal 406 Kitab Undang Undang Hukum Pidana.

Perkara ini agak istimewa -setidaknya itu bisa terukur dari setiap kali persidangan cukup menyedot perhatian khalayak- lantaran menyeret seorang terdakwa yang nekat melakukan perusakan terhadap rumah ibunya. Ya, ada seorang anak tega merusak sebuah rumah milik ibu kandungnya. Kejadian itu terjadi pada Mei lalu.

Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu - All About Santri
Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu - All About Santri


Gara-Gara Lagu Iwan Fals, Seisi Ruangan Pengadilan di Dompu Terharu

“Usia terdakwa 42 tahun,” kata Djoe Hadisasmito Ketua Pengadilan Negeri Dompu, mengulang cerita soal persidangan yang ia pimpin.

Akar permasalahan berawal dari nafsu sang anak yang kini berstatus terdakwa, ingin meminta bagian warisan dari ibunya. Padahal sang ibunda masih hidup dan sehat.

All About Santri

All About Santri

Sang anak yang mungkin sudah digelapkan nafsu, mulanya hanya mempersoalkan dan meminta sertifikat rumah keluarga. Namun ibunda bertahan tak memberikan. Mendapati keinginannya tak terpenuhi, terdakwa lantas berang. Ia lantas memaki ibunya berulang-ulang nyaris setiap ada kesempatan.

“Malah dalam pemeriksaan saksi korban atau ibunda kandungnya mengaku, pernah diancam dan mau dipukul oleh terdakwa,” ujar Djoe sang hakim ketua.

Atas perlakuan anaknya itu, luluh juga sayang ibunda. Merasa diri terancam, si ibu melaporkan kelakuan anak kesayangannya itu ke kepolisian.

Namun si sayang bukannya sadar, amarah terdakwa makin menjadi. Mei lalu, menggunakan mobil Daihatsu Feroza miliknya, terdakwa kemudian pergi ke rumah sang ibu dan mulai merusak rumah keluarga yang ditinggali ibunya. Berkalang kalap terdakwa menabrakkan mobil yang ia kendarai hingga merusak rumah, pot, dan semua isi halaman secara membabi buta.

Dan akhirnya tibalah kisah terdakwa ke persidangan tuntutan di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu. Sesaat setelah kalimat tuntutan jaksa, Djoe yang duduk di kursi hakim ketua spontan bertanya,

“Kamu itu penggemar Iwan Fals ya?.”

“Benar pak Hakim, saya penggemar Iwan Fals,” kata terdakwa sembari terus menundukkan kepalanya. Djoe bukan menebak-nebak. Ia bisa tahu terdakwa penggemar Iwan Fals lantaran melihat foto barang bukti berupa mobil yang dipakai merusak rumah itu ditempeli banyak stiker Iwan Fals dan Orang Indonesia.

“Kalau begitu, tolong nyanyikan saya satu lagu dari Iwan Fals yang berjudul Ibu, kamu tahu lagunya?” kembali Djoe bertanya. Ia mengaku perintahnya kepada terdakwa itu spontan.

Terdakwa hanya mengangguk. Ruang sidang tercekat dengan pemintaan sang hakim ketua. Sungguh tak biasa ada dendang lagu di tengah sidang yang biasanya super khidmat.

Tanpa banyak ambil waktu, terdakwa lantas bernyanyi. Meski dengan nada yang terbata lantaran malu di depan sidang, lagu ibu terdengar cukup merdu. Namun tak lama, lantunan lagu berhenti dan rusak seketika. Suara terdakwa seperti tercekik saat melafalkan bait, “ibuku sayang masih terus berjalan.”

Setelah bait tersebut ia tak kuasa melanjutkan nyanyian. Terdakwa menangis sejadinya. Emosinya meledak. Begitu juga dengan seisi pengunjung di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Dompu.

“Saya juga terharu sebenarnya,” kata hakim Djoe. Namun ia sadar harus bisa mengendalikan emosi di saat persidangan.

Bagi Hakim Djoe, persidangan bukan cuma ajang penghukuman. Persidangan jauh mulia dari pada itu. Persidangan harusnya menjadi momen pembelajaran bagi sesiapa, bukan hanya terdakwa. Belajar dari kesalahan, belajar cinta kasih dan belajar menjalani hidup yang bertanggung jawab.

“Saya yakin terdakwa menyesal dengan segala perbuatannya,” kata Djoe. Sebuah lagu membuat haru seluruh isi Pengadilan Negeri Dompu. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/gara-gara-lagu-iwan-fals-seisi-ruangan-pengadilan-di-dompu-terharu.html

Minggu, 22 Januari 2012

Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana

All About Santri - Pak, pemahaman Islam yang benar itu seperti apa sich? Saya belajar ke kelompok A yang saya dapat di situ hanya amalan keutamaan saja, seolah agama seperti sarana pencuci dosa. Saya belajar ke kelompok B yang saya dapat di situ cuma bahasan tentang konspirasi dan diajar pintar mengolah isu politik.

Lalu, saya belajar ke kelompok C yang saya dapat cuma paham mutungan. Semua disalahkan, bahkan keadaan pun disalahkan. Padahal, keadaan itu kan mengikuti waktu. Saya heran kenapa juga gak sekalian waktunya yang disalahkan? Atau jangan-jangan kelompok C itu lahir di waktu yang salah? Malah, saya pikir lagi jangan-jangan mereka yang salah lahir? Kenapa juga sekarang baru lahir?

Terus pak, saya belajar ke kelompok D. Yang saya dapat di situ cuma penyesalan sejarah. Tiap pertemuan yang dibahas cuma ratapan terbunuhnya seseorang. Saya heran pak, kok beragama isi cuma ratapan ya? Yang biasa saya tonton di sinetron-sinetron, setelah ratapan itu biasanya yang muncul amarah itu.

Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana - All About Santri
Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana - All About Santri


Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana

Terus saya belajar ke kelompok E, yang saya dapat di situ cuma dorongan untuk maju. Saya juga gak ngerti bagaimana saya bisa maju wong saya juga gak ada yang dorong.

All About Santri

Bosan di kelompok E, saya ke kelompok F. Di sini lebih hebat pak. Cuma setelah saya pikir-pikir, saking hebatnya kok rasanya bakal jadi Perang Dunia ketiga ya? Atau jangan-jangan kelompok ini panitia penyelenggaranya?

Sudah bosan di situ, saya ngaji ke kelompok G. Ini hampir mirip kelompok B pak. Cuma mimpinya menurut jauh banget. Ya, semacam membentuk Uni Eropa versi Islam gitu dech. Tapi, yang jadi pertanyaan saya pak. Boro-boro bikin seperti Uni Eropa pak, mempersatukan pemilik warung sekelurahan untuk nolak Alfamart dan Indomart saja mereka belum bisa pak. Malah bikin warung besar di rumahnya saja belum tentu sukses pak. Pusing saya.

Terus saya ikut ngaji ala kelompok H pak. Ini lebih pusing lagi. Apa saja boleh pak di situ, kecuali paham kelompok B, kelompok C, kelompok F, dan kelompok G. Kadang saya sampai mikir, liberal kok gak bebas?

All About Santri

Sudah 8 kelompok pengajian saya ikuti. Itu belum yang lain. Saya jadi bingung pak. Yang bener-bener mengamalkan ajaran Islam itu yang mana ya? Kadang yang bilang "jangan merasa benar" juga gak bisa tunjukkan bagaimana yang benar.

Demikian curahan hati seseorang yang mengaku awam kepada saya tadi pagi. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ketika-orang-awam-bingung-ikut-pengajian-kelompok-mana.html

Rabu, 26 Januari 2011

Abu Jahal Kafir Tapi Tetap Berdoa Kepada Allah Untuk Binasakan Nabi dan Pengikutnya

All About Santri - Sehari sebelum perang Badar berkecamuk, Abu Jahal (atau Abu Al-Hakam menurut julukan orang-orang musyrik Mekah) sempat berdoa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَقْطَعَنَا الرَّحِمَ وَآتَانَا بِمَا لَا نَعْرِفُهُ فَأَحْنِهِ الْغَدَاةَ

Abu Jahal Kafir Tapi Tetap Berdoa Kepada Allah Untuk Binasakan Nabi dan Pengikutnya - All About Santri
Abu Jahal Kafir Tapi Tetap Berdoa Kepada Allah Untuk Binasakan Nabi dan Pengikutnya - All About Santri


Abu Jahal Kafir Tapi Tetap Berdoa Kepada Allah Untuk Binasakan Nabi dan Pengikutnya

“Ya Allah, orang yang paling memutuskan tali silaturahmi diantara kami dan yang paling membawa (gagasan/ide) teraneh yang tidak kami kenal, maka binasakanlah dia esok hari”

Ini adalah doa “mubahalah” ala Abu Jahal. Dia bermaksud meminta kepada Allah agar membinasakan siapa yang tersesat, apakah kelompoknya di kalangan pasukan Quraisy ataukah kelompok kaum muslimin di bawah pimpinan Nabi Muhammad.

Akhirnya sejarah mencatat bahwa Abu Jahal tewas dalam perang Badar dan kaum musyrik Quraisy kalah secara memalukan dalam pertempuran tersebut.

All About Santri

Kisah ini terekam dalam Musnad Ahmad, Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Siroh Ibnu Hisyam, Ar-Rohiqu Al-Makhtum dan kitab-kitab siroh Nabi yang lain.

All About Santri

Ada beberapa pelajaran penting berdasarkan kisah Abu Jahal ini:

1. Makna kafir itu bukan dibatasi pada orang yang tidak percaya Allah saja. Abu Jahal percaya kepada Allah, bahkan berdoa kepada-Nya. Kendati demikian Allah dan Rasul-Nya menyebut Abu Jahal kafir.

2. Makna kafir bukan dibatasi pada orang yang tidak beragama saja. Abu Jahal beragama. Percaya kepada Tuhan dan beribadah kepadanya. Orang yang mengakui adanya Tuhan, mengenal Tuhan dan bahkan beribadah menyembah-Nya bertahun-tahun bisa jadi tetap jatuh pada kekafiran. Buktinya Iblis. Makhluk ini adalah tipikal orang yang percaya Tuhan, mengenalnya, bahkan bisa “berdialog” dengan-Nya, serta menyembah-Nya mungkin selama ribuan tahun. Namun karena arogansi dan pembangkangannya, Allah memurkainya dan mencapnya sebagai kafir.

3. Orang yang jelas dalam kesesatan kadang tidak menyadari kesalahannya. Dia terus merasa dalam kebenaran sampai menjelang kematiannya. Abu Jahal tidak merasa dirinya salah. Malah dengan sangat percaya diri berdoa kepada Allah untuk membinasakan orang yang justru berada dalam kebenaran dan dicintai Allah.

4. Orang tersesat pun memiliki standar-standar “kebenaran” yang ia yakini dan perjuangkan. Pada doa Abu Jahal tadi, dia meyakini bahwa memutus silaturrahim adalah salah. Dia juga meyakini bahwa menggagas ide baru yang merusak adalah mengacaukan masyarakat. Dia melihat orang yang masuk Islam kadang hubungannya menjadi renggang dengan kerabatnya, suami terpisah dengan istrinya, orang tua terpisah dengan anaknya, paman bermusuhan dengan keponakannya dan sebagainya. “Gagasan baru” Muhammad menurut Abu Jahal membawa perpecahan, mengusik kedamaian dan menimbulkan problem “disintegrasi bangsa”.

5. Kalau begitu, bagaimana menjamin diri memperoleh standar kebenaran sejati? Rasulullah dan para shahabat jelas benar dan diridhai Allah. Abu Jahal dan kawan-kawannya jelas kafir dan dimurkai Allah. Oleh karena itu hal ini memberi petujuk sederhana bahwa ukuran menilai kebenaran harus dikembalikan kepada wahyu. Kesalahan Abu Jahal adalah tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga standar salah-benar yang ia miliki adalah pertimbangan akalnya sendiri, bukan wahyu dari Allah. Rasulullah dan para Shahabat berada dalam kebenaran karena mereka percaya kepada wahyu yang turun kepada Rasulullah dan menjadikannya sebagai standar dalam menilai salah-benar.

6. Definisi kafir dalam konteks beragama adalah orang yang tidak mau mempercayai Nabi Muhammad sebagai utusan Allah dan mengikutinya. Abu Jahal disebut kafir bukan karena tidak percaya Tuhan, tetapi tidak mau percaya kepada Muhammad sebagai Nabi dan Utusan Allah. Maka semua agama selain Islam pemeluknya disebut kafir karena faktor ini.

7. Kadang perdebatan antara orang yang berada dalam kebenaran dengan orang yang berada dalam kesesatan tidak selesai pada tataran dialog pemikiran saja, tetapi diselesaikan dengan saling mendoakan laknat atau yang disebut dengan istilah Mubahalah. Pada level ini orang yang yakin berada dalam kebenaran tidak pernah ragu selangkahpun untuk menyambut tantangan Mubahalah.

8. Benturan antara kebenaran dan kebatilan jangan disangka akan berhenti pada level pemikiran dan dialog semata. Sejarah menunjukkan, kadang pertempuran dua pemikiran itu pada akhirnya mencapai konfrontasi fisik juga. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/abu-jahal-kafir-tapi-tetap-berdoa-kepada-allah-untuk-binasakan-nabi-dan-pengikutnya.html

Senin, 06 Desember 2010

PBNU Sampaikan Rekomendasi Muktamar Ke-33 NU ke Wapres RI

Jakarta, All About Santri. Menjelang pengukuhan pengurus baru PBNU 2015-2020 yang akan dilaksanakan di Masjid Istiqlal akhir pekan ini, PBNU menyampaikan hasil dan rekomendasi Muktamar Ke-33 NU kepada Wapres RI, H Jusuf Kalla. Para pengurus PBNU menyambangi Wapres di Kantornya di Jalan Veteran Jakarta, Kamis (3/9).

Dalam pertemuan tersebut, Wapres menyambut baik kedatangan PBNU sebagai Ormas Islam yang konsisten menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam hal ini, PBNU juga mengingatkan, bahwa Wapres juga masuk dalam kepengurusan PBNU sebagai salah satu Mustasyar.

PBNU Sampaikan Rekomendasi Muktamar Ke-33 NU ke Wapres RI (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sampaikan Rekomendasi Muktamar Ke-33 NU ke Wapres RI (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU Sampaikan Rekomendasi Muktamar Ke-33 NU ke Wapres RI

Jusuf Kalla secara khusus meminta PBNU supaya masyarakat tetap tenang dalam menghadapi problem ekonomi maupun kasus PHK yang saat ini menimpa sekitar 30 ribu tenaga kerja.

PBNU sebagai gerakan sosial, agama, dan masyarakat sipil masih sangat dibutuhkan negara dalam persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, ujar Wapres.

All About Santri

All About Santri

Sementara itu, Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj menyampaikan program prioritas PBNU yang akan memaksimalkan gerakan ekonomi kerakyatan, kesehatan, dan pendidikan.

PBNU menyampaikan terima kasih kepada Bapak Wapres yang memberikan kepercayaan tanah seluas 50 hektar sepanjang Depok-Bogor agar dikelola PBNU untuk membangun peradaban Islam Nusantara dalam bentuk lembaga pendidikan, ungkap Kang Said.

Senada dengan Kang Said, Sekjen PBNU, H A Helmy Faishal Zaini menambahkan, bahwa ekonomi yang ingin dibangun PBNU yaitu Volunteery Partisipatory. Jadi masyarakat berpartisipasi dengan apa yang menjadi kebutuhannya dengan kebutuhan masyarakat lain sehingga saling membantu dan melengkapi, ujarnya.

Dalam pertemuan ini, hadir pengurus syuriyah PBNU KH Maruf Amin (rais aam), KH Miftahul Akhyar (wakil rais aam), KH Yahya Cholil Tsaquf (katib aam), KH Masdar F Masudi (rais syuriyah). Sementara dari Tanfidziyah, H Slamet Effendy Yusuf (wakil ketua umum), H Saifullah Yusuf (ketua), dan beberapa Ketua PBNU lain. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61987/pbnu-sampaikan-rekomendasi-muktamar-ke-33-nu-ke-wapres-ri

Rabu, 11 Agustus 2010

Mewujudkan Pesantren Bersih Bebas Kudis

All About Santri – Kamar santri pondok pesantren biasanya dihuni 25 orang. Tempat wudlu dan cuci kaki pun, lazimnya tidak menggunakan kran. Sanitasi pesantren bahkan tidak memenuhi standar kesehatan. Kadang ada puluhan ekor lele, mujair dan jenis ikan mas di dalamnya.

Karena sumber air terbatas, ada ponpes yang menggunakan sistem menimba langsung dari sumur. Namun banyak yang tidak terkontrol sumber airnya. Musim hujan yang membuat air berlimpah, belum bisa digunakan secara maksimal sebagai sumber air yang memadai untuk santri. Akhirnya memunculkan penyakit kudis, kurap, panu di kalangan santri zaman dahulu.

Beberapa poin di atas itulah yang dikemukakan oleh Drs. H Solihin MM, Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag, dalam Pelatihan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren (PBPK) yang diselenggarakan Pengurus Rabithatul Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Tengah di Pesantren Raudlatul Mubtadiin, Balekambang, Nalumsari, Jepara, Rabu (25/05/2016) siang.

Mewujudkan Pesantren Bersih Bebas Kudis - All About Santri
Mewujudkan Pesantren Bersih Bebas Kudis - All About Santri


Mewujudkan Pesantren Bersih Bebas Kudis

Dalam materi Kebijakan Kemenag dalam Pengembangan Kebersihan Pondok Pesantren, Solihin mengharapkan agar santri bisa bersih secara jasmani dan rohani. Dalam imajinasinya, pesantren itu jadi tempat yang tidak nyaman bagi tumbuhnya sawang (laba-laba). "Dimana ada sawang, itu yuritsul faqro," katanya.

All About Santri

Kegiatan itu, kata Muhammad Zulfa, panitia dari RMI Jateng, adalah yang terakhir dari rangkaian sosialisasi program Pesantrenku Bersih. Sebelum di Balekambang, kegiatan serupa diadakan di Ponpes Khozinatul Ulum (Blora), Al-Falah (Salatiga), Qur’aniyah (Kendal) dan Maslakul Huda (Pati).

Ada tujuh ponpes yang mengikuti pelatihan yang digelar Rabu dan Kamis (25-26 Mei 2016) itu, yakni Ponpes Raudlatul Mubtadi’in (Balekambang), Hasyim Asy’ari (Bangsri), Darul Ulum (Bandungharjo), Khozinatul Hikmah (Bawu), Darut Tauhid (Potroyudan) dan Manbaul Ulum (Kedungombo). “Total peserta 40 orang,” terang Zulfa kepada All About Santri.

All About Santri

Setelah menerima materi, peserta PBPK diharapkan bisa menjadi delegasi program pesantren bersih dan sehat tingkat nasional. “Pada Silatnas RMI di Pasuruan kemarin, PBPK sudah dijadikan agenda nasional RMI Pusat,” kata Zulfa. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/mewujudkan-pesantren-bersih-bebas-kudis.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock