Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Klarifikasi MUI Terhadap Fitnah Irfan Helmi

All About Santri - Rilis Ketika Grand Syeikh Al-Azhar Ahmad Muhammad Ath Thayyib Dijadikan Alat Propaganda dan Fitnah oleh kaum wahabi.

Klarifikasi MUI Terhadap Fitnah Irfan Helmi
Klarifikasi MUI Terhadap Fitnah Irfan Helmi


Berikut klarifikasi MUI Pusat terkait broadcast seorang wahabi di MUI bernama Irfan Helmi:

Terhadap peredaran catatan berjudul "Rangkuman sikap Pimpinan MUI thd ceramah Syaikh Akbar al-Azhar, Syaikh Ahmad Muhammad ath-Thayyib al-Asy'ariy di kantor MUI pada Senin, 22 Feb 2016" yang ditulis Irfan Helmi, dinyatakan bukan dari MUI dan bukan resume hasil pertemuan syaikh al-Azhar dengan MUI. Prof. Dr. Syaikh Ahmad at-Thayyib merupakan Grand Syaikh al-Azhar yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh MUI. Untuk hal tersebut agar tidak terjadi salah faham maka segala Informasi tentang kunjungan Syaikh Al Azhar ke MUI bisa berkomunikasi dan mendapat penjelasan dari KH Muhyiddin Junaidi, MA, Ketua MUI bidang Kerjasama Luar Negeri.

Sekretariat MUI Jakarta, 24 Februari 2016

Source: http://mui.or.id/homepage/berita/klarifikasi-mui-tentang-rangkuman-sikap-mui-terhadap-ceramah-grand-syaikh-al-azhar.html


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/klarifikasi-mui-terhadap-fitnah-irfan.html

Jumat, 17 Februari 2017

Usia Umat Islam Hanya 1500 Tahun Sejak Nabi Diutus?

All About Santri - Berawal dari diutusnya Rasulullah di akhir zaman, para ulama ada yang menafsirkan bahwa masa akhir zaman tidaklah lama. Dalam sebuah hadis, Nabi menyebut masa umat Islam diantara umat lain sebelumnya adalah seperti waktu Ashar ke Maghrib (HR al-Bukhari). Dari hadis ini, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

Usia Umat Islam Hanya 1500 Tahun Sejak Nabi Diutus?
Usia Umat Islam Hanya 1500 Tahun Sejak Nabi Diutus?


ﻭاﺳﺘﺪﻝ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺑﻘﺎء ﻫﺬﻩ اﻷﻣﺔ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻰ اﻷﻟﻒ ﻷﻧﻪ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺃﻥ ﻣﺪﺓ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻧﻈﻴﺮ ﻣﺪﺗﻲ اﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭاﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻗﺪ اﺗﻔﻖ ﺃﻫﻞ اﻟﻨﻘﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﺪﺓ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﺇﻟﻰ ﺑﻌﺜﺔ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺃﻟﻔﻲ ﺳﻨﺔ

Hadis ini dijadikan dalil bahwa umat Muhammad akan tetap ada lebih dari 1000 tahun. Sebab masa Yahudi adalah 2x lipat dari masa Nasrani dan Islam. Ahli sejarah sepakat bahwa masa Yahudi sampai diutusnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama adalah lebih dari 2000 tahun (Fathul Bari 4/449)

Disabdakan dalam hadis lain:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنّ الله لن يعجزني في أمّتي أن يؤخّرها نصف يوم قيل: كم نصف ذلك اليوم، قال: خمسمائة سنة .

Sabda Nabi: "Allah tidak akan membuatku lemah di dalam umatku, untuk diakhirkan setengah hari". Berapakah setengah hari? Ia berkata: "500 tahun" (HR Abu Nuaim. Redaksi lain diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad)

Dari beberapa riwayat ini al-Hafidz as-Suyuthi berkesimpulan:

قال الإمام السيوطي: الذي دلّت عليه الآثار أنّ مدة هذه الأمّة تزيد على الألف ولا تبلغ الزيادة خمسمائة أصلاً (رسالة: الكشف عن مجاوزة هذه الأمّة الألف).

"Berdasarkan petunjuk dari beberapa dalil bahwa umat Muhammad ini akan melewati 1000 tahun dan tidak akan bertambah dari 500 tahun" (al-Kasyf an Mujawazat Hadzihi al-Ummah al-Alf)

Namun al-Hafidz Ibnu Hajar menyampaikan atsar lain yang menunjukkan hidup ini tidak berakhir secepat 1500 tahun:

ﻭﻗﺪ ﺃﺧﺮﺝ ﻣﻌﻤﺮ ﻓﻲ اﻟﺠﺎﻣﻊ ﻋﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻧﺠﻴﺢ ﻋﻦ ﻣﺠﺎﻫﺪ ﻗﺎﻝ ﻣﻌﻤﺮ ﻭﺑﻠﻐﻨﻲ ﻋﻦ ﻋﻜﺮﻣﺔ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻛﺎﻥ ﻣﻘﺪاﺭﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﻗﺎﻝ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻫﺎ ﻳﻮﻡ ﻣﻘﺪاﺭﻩ ﺧﻤﺴﻮﻥ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﻛﻢ ﻣﻀﻰ ﻭﻻ ﻛﻢ ﺑﻘﻲ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Ma'mar meriwayatkan dalam al-Jami' dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, Ma'mar berkata dari Ikrimah dalam firman Allah "...Dalam sehari yang kadarnya adalah 50 ribu tahun..." [al-Maarij: 4]. Ikrimah berkata: "Dunia sejak awal hingga akhir adalah sehari yang kadarnya adalah 50 ribu tahun. Tidak ada yang tahu sudah berapa tahun terlewati dan masih sisa berapa tahun lagi kecuali Allah" (Fathul Bari, 11/352)

Ma'ruf Khozin, anggota di Aswaja NU Center Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/usia-umat-islam-sampai-1500-tahun-sejak-nabi-diutus.html

Minggu, 13 November 2016

Aswaja Penting Diterapkan di Sekolah

Tegal, All About Santri. Rais Syuriah MWCNU Kecamatan Dukuhturi KH Muhmmad Abdu Suud menuturkan bahwa ajaran Ahlusunah wal Jamaah (Aswaja) sangat penting diterapkan di Sekolah. Pasalnya, Aswaja merupakan ruh islam rahmatan lil alamin.

Kita jangan terjebak dengan statemen atau omongan orang yang tidak tahu persis masalah agama, karena sebagain orang memeringati maulid Nabi seperti ini dianggap biah, tutur KH Muhammad Abdus Suud ketika mengisi acara peringatan Maulid Nabi Muhmmad SAW di SMP N1 Dukuhturi, Tegal Jawa Tengah, Kamis (6/2).

Aswaja Penting Diterapkan di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Penting Diterapkan di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)


Aswaja Penting Diterapkan di Sekolah

Kegiatan yang dibalut dalam tema "Ngaji Bareng Para Kiai" itu dihadiri oleh para pejabat yang semuanya adalah alumni SMP Negeri 1 Dukuhturi. Terlihat kepala desa Kepandean, pengawas dikpora kecamatan, kepala seksi SMP Dinas Dikpora, guru alumni SMP Negeri 1 Dukuhturi, hingga kepala sekolah SMP Negeri 1 Dukuhturi .

All About Santri

Sementara ketua PCNU Kabupaten Tegal H Ahmad Wasyari yang juga kepala bidang pendidikan dasar Dikpora Kabupaten Tegal memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada SMP Negeri 1 Dukuhturi yang berhasil menyelenggarakan peringatan maulud Nabi Muhammad SAW yang menurutnya spektakuler.

Saya terus terang saja merasa prihatin terhadap dunia pendidikan yang berkembang saat ini, yang makin jauh dari pendidikan moral agama Islam. Oleh karena itu, kegiatan seperti inilah yang mesti dicontoh oleh sekolah sekolah lain di Kabupaten Tegal. Kegiatan keagamaan terutama Ngaji Bareng Para Kiai yang dilaksanakan SMP Negeri 1 Dukuhturi saat ini merupakan sebuah kebutuhan. katanya

Wasyari juga berharap pendidikan moral keagamaan terus dikembangkan di SMP Negeri Dukuhturi supaya mampu mencetak generasi bangsa yang berwawasan moral agama. Ia juga menegaskan bahwa yang hadir dalam acara ini adalah semua pejabat-pejabat yang semuanya adalah alumni SMP Negeri 1 Dukuhturi.

All About Santri

Kepala SMP Negeri 1 Dukuhturi Drs. H Alfatah mengucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pengurus Osis SMP Negeri 1 Dukuhturi, yang telah bekerja keras dalam mensukseskan acara ini. Ia juga menyampaikan prestasi yang telah diraih SMP Negeri 1 Dukuhturi dalam berbagai hal.

Insyaallah kedepan apa yang telah disampaikan oleh orang tua kita, baik para kia atau pun pejabat akan kami jadikan pegangan untuk menentukan kebijakan di sekolah, kata Alfatah yang juga Kabid Pendidkan Dasar PC Maarif NU Kabupaten Tegal. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50008/aswaja-penting-diterapkan-di-sekolah

All About Santri

Sabtu, 15 Februari 2014

Pilihlah Pesantren yang Ada Kiainya!

Grobogan, All About SantriMenyikapi semakin berkembangnya berbagai macam paham di Indonesia, Rais Syuriyah Idarah Syubiyyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah (Jatman) Grobogan KH Masruhin Ahmad mengimbau para orang tua untuk menaruh anaknya di pesantren yang diasuh oleh seorang kiai yang jelas.

Pondokkan anak pada pesantren yang ada kiainya! Katanya di saat ia mengisi ceramah pada Peringatan Haul Kiai Syarqawi di Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, Ahad (23/4). Haul dihadiri sekitar 4000 hadirin.

Pilihlah Pesantren yang Ada Kiainya! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilihlah Pesantren yang Ada Kiainya! (Sumber Gambar : Nu Online)


Pilihlah Pesantren yang Ada Kiainya!

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan tentang arti mondok bagi seorang murid thariqah atau yang biasa disebut suluk. Ibarat tanaman, orang yang sudah baiat thariqah itu sudah punya bijinya, cara menanamnya ya lewat suluk, tawajuhan, bukan berarti jika sudah baiat sudah selesai, jelasnya.

All About Santri

Lebih lanjut, kiai sepuh yang juga pengasuh Pesantren As Salaf Jeketro Gubug Grobogan ini mengurai tentang arti penting hubungan antara orang hidup dan mati. Ia mengisahkan Nabi Khidlir ketika menemukan sebuah dinding yang roboh di sebuah perkampungan yang kemudian ia ditegakkan kembali. Ini karena memandang jasa orang tua kedua yatim tersebut yang shalih yang sudah mati, sedangkan anaknya masih hidup.

Kiai Syarqowi merupakan guru Thariqah Khalidiyah Naqsyabandiyah yang mengambil sanad kepada Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.Kiai Syarqawi juga merupakan kawan akrab Kiai Arwani Amin, Kudus. (Mundzir/Mahbib)

All About Santri

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67595/pilihlah-pesantren-yang-ada-kiainya

Senin, 25 November 2013

Kiai Said Aqil Siraj, Besar di Sarang Firaun Wahabi Makkah

All About Santri - KH Said Aqil Siraj memang unik, meski menjadi pejuang Aswaja yang tangguh, namun genealogi intelektualnya sempat diwarnai selama 14 tahun di sarang Wahabi, yakni saat menempuh pendidikan S1 Universitas King Abdul Aziz, Jedah, hingga S3 University of Umm al-Qura, Mekah, Arab Saudi, yang berhasil meraih gelar doktoral cum laude.

Kiai Said Aqil Siraj, Besar di Sarang Firaun Wahabi Makkah - All About Santri
Kiai Said Aqil Siraj, Besar di Sarang Firaun Wahabi Makkah - All About Santri


Kiai Said Aqil Siraj, Besar di Sarang Firaun Wahabi Makkah

Hasratnya meneguk ilmu memang luar biasa, sebagaimana dikatakan Dr. Hidayat Nur Wahid: "Said Aqil itu mahasiswa kutu buku, semasa di Mekah, ia lebih sering ditemukan ditempat-tempat ilmiah dan sulit menemukannya di forum organisasi". "Said Aqil ini putra Kiai yang cerdas," kata Dr. Nurcholish Majid. "Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan desertasi lebih dari 1000 referensi," kata Gus Dur.

Terbersit pertanyaan bagaimana pergulatan intelektual Kang Said -seorang Aswaja- dalam mempertahankan jati dirinya di sarang wahabi. Tentu penuh dinamika, namun bukanlah hal yang mustahil. Bukankah ada kisah yang lebih dramatis, tentang nabi Musa yang menjadi penjaga tauhid meski di bawah asuhan Fir’aun.

Meski besar dalam sarang Wahabi, spirit Aswaja tetap bersemayam dalam jiwa Kang Said. Hal ini tidak lepas dari basis pendidikan pesantren yang kuat di Lirboyo dan Krapyak. Pun di Mekah, beliau juga belajar kepada Sayid Muhammad Alawi al-Maliki, maha guru para ulama Aswaja di seluruh dunia.

Yang tidak bisa dilepaskan adalah pengaruh mentor seniornya, yakni Gus Dur. Kekariban dengan Gus Dur terlihat saat beliau berkunjung ke Mekah lebih suka menginap di tempat tinggal Kang Said.

Meski besar di sarang wahabi, tidak lantas menjadikan Kang Said menjadi gembong Wahabi. Bahkan dengan dukungan ulama sepuh seperti Mbah Moen, Gus Mus, Habib Luthfi, dan lain-lain, Kang Said membuktikan menjadi pejuang Aswaja terdepan, menjadi pimpinan PBNU dalam dua periode.

Bagi gembong-gembong wahabi beserta pengikutnya, fenomena Kang Said tentu cukup menyakitkan. Dari dalam sarangnya, lahir pejuang Aswaja yang tangguh. Berbagai tudingan untuk menjatuhkan kredibilitasnya gencar dilancarkan, secara langsung maupun dengan memperalat oknum NU yang gagal paham dan yang masuk dalam barisan sakit hati pasca muktamar.

Label antek Liberal, Yahudi, Syiah hingga kafir dituduhkan padanya. Bahkan ada yang mengusulkan untuk mencabut gelar doktoralnya. Atas berbagai fitnah itu, jawaban beliau mencerminkan praktek keilmuan tashawuf yang tidak terpesona dengan gebyar dunia meski dalam genggamannya. "Apapun gelar yang diberikan, saya tidak peduli. Jangankan gelar doktoral, gelar haji pun kalau mau di copot akan saya berikan," jawabnya.

Di tengah badai radikalisme, ketangguhan Kang Said menginspirasi kalangan mainstream Aswaja. Termasuk peran sertanya dalam melahirkan “Islam Nusantara’ yang tidak lain adalah untuk menyatukan semangat keagamaan dan kebangsaan. Sebuah langkah strategi cerdas untuk menangkal paham Islam radikal Wahabi, meneladani pendahulunya saat melahirkan Komite Hijaz, cikal bakal Nahdatul Ulama. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kiai-said-aqil-siraj-besar-di-sarang-firaun-wahabi-makkah.html

Rabu, 18 April 2012

GP Ansor Mulai Pra Kongres di Makassar

Makassar, All About Santri. Menjelang pelaksanaan kongres ke-XV Gerakan Pemuda Ansor, acara pendahuluan berupa kegiatan pra kongres dilaksanakan di beberapa daerah yang dibagi per region. Kali ini yang menjadi pelaksanaan adalah regional III yang meliputi seluruh Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Acara dilaksanakan di Makasar pada Sabtu-Ahad (31/101/11/2015).

Kongres ke XV GP Ansor akan dilaksanakan di Pesantren Sunan Pandanaran, Jl Kaliurang Km 12,5 Sardonoharjo, Sleman, Yogyakarta, 25-27 November 2015.

GP Ansor Mulai Pra Kongres di Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Mulai Pra Kongres di Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)


GP Ansor Mulai Pra Kongres di Makassar

Fathul Maskur, wasekjen PP GP Ansor mengatakan pra kongres adalah bagian dari persiapan atau semacam warming up, agar kongres yang merupakan forum permusyawaratan dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi itu berjalan sukses.

Pra kongres ini akan dibuka oleh Ketua Umum PP GP Ansor, H. Nusron Wahid.

All About Santri

All About Santri

Fathur menjelaskan pra kongres ini mempunyai arti sangat penting, yakni sebagai forum sosialisasi persiapan teknis kegiatan kongres XV, penyampaian materi dan pembahasan materi kongres, pembahasan sejumlah program, kendala dan solusinya, hingga soal teknis seperti registrasi peserta.

Sosialisasi persiapan teknis kegiatan Kongres XV akan disampaikan oleh panitia pelaksana, adapun penyampaian materi kongres akan dibawakan oleh panitia pengarah.

"Di sini, para peserta diberikan kesempatan untuk membahas bersama-sama," tambahnya.

Pra kongres juga akan membahas implementasi dan evaluasi program Akreditas Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Wilayah (PW), yang akan dipandu secara khusus oleh Tim Akreditas Pimpinan Pusat GP Ansor.

Tak kalah penting, panitia juga akan membuka registrasi peserta Kongres XV. "Nah, ini tentu bagi PC dan PW yang sudah lolos akreditasi organisasi," kata Fatkhul Maskur.

Setelah pra kongres di regional III, PP GP Ansor selanjutnya akan menggelar pra kongres lanjutan untuk wilayah di regional II, dan regional I.

Kongres diselenggarakan untuk (1) menilai pertanggungjawaban Pimpinan Pusat, (2) menetapkan program umum organisasi, (3) menetapkan Peraturan Dasar/Peraturan Rumah Tangga, (4) merumuskan kebijaksanaan organisasi berkaitan dengan kehidupan, kebangsaan, kemasyarakatan dan keagamaan, dan (5) memilih Pimpinan Pusat. (Anwar Muhammad/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63209/gp-ansor-mulai-pra-kongres-di-makassar

Rabu, 26 Januari 2011

Abu Jahal Kafir Tapi Tetap Berdoa Kepada Allah Untuk Binasakan Nabi dan Pengikutnya

All About Santri - Sehari sebelum perang Badar berkecamuk, Abu Jahal (atau Abu Al-Hakam menurut julukan orang-orang musyrik Mekah) sempat berdoa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَقْطَعَنَا الرَّحِمَ وَآتَانَا بِمَا لَا نَعْرِفُهُ فَأَحْنِهِ الْغَدَاةَ

Abu Jahal Kafir Tapi Tetap Berdoa Kepada Allah Untuk Binasakan Nabi dan Pengikutnya - All About Santri
Abu Jahal Kafir Tapi Tetap Berdoa Kepada Allah Untuk Binasakan Nabi dan Pengikutnya - All About Santri


Abu Jahal Kafir Tapi Tetap Berdoa Kepada Allah Untuk Binasakan Nabi dan Pengikutnya

“Ya Allah, orang yang paling memutuskan tali silaturahmi diantara kami dan yang paling membawa (gagasan/ide) teraneh yang tidak kami kenal, maka binasakanlah dia esok hari”

Ini adalah doa “mubahalah” ala Abu Jahal. Dia bermaksud meminta kepada Allah agar membinasakan siapa yang tersesat, apakah kelompoknya di kalangan pasukan Quraisy ataukah kelompok kaum muslimin di bawah pimpinan Nabi Muhammad.

Akhirnya sejarah mencatat bahwa Abu Jahal tewas dalam perang Badar dan kaum musyrik Quraisy kalah secara memalukan dalam pertempuran tersebut.

All About Santri

Kisah ini terekam dalam Musnad Ahmad, Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Siroh Ibnu Hisyam, Ar-Rohiqu Al-Makhtum dan kitab-kitab siroh Nabi yang lain.

All About Santri

Ada beberapa pelajaran penting berdasarkan kisah Abu Jahal ini:

1. Makna kafir itu bukan dibatasi pada orang yang tidak percaya Allah saja. Abu Jahal percaya kepada Allah, bahkan berdoa kepada-Nya. Kendati demikian Allah dan Rasul-Nya menyebut Abu Jahal kafir.

2. Makna kafir bukan dibatasi pada orang yang tidak beragama saja. Abu Jahal beragama. Percaya kepada Tuhan dan beribadah kepadanya. Orang yang mengakui adanya Tuhan, mengenal Tuhan dan bahkan beribadah menyembah-Nya bertahun-tahun bisa jadi tetap jatuh pada kekafiran. Buktinya Iblis. Makhluk ini adalah tipikal orang yang percaya Tuhan, mengenalnya, bahkan bisa “berdialog” dengan-Nya, serta menyembah-Nya mungkin selama ribuan tahun. Namun karena arogansi dan pembangkangannya, Allah memurkainya dan mencapnya sebagai kafir.

3. Orang yang jelas dalam kesesatan kadang tidak menyadari kesalahannya. Dia terus merasa dalam kebenaran sampai menjelang kematiannya. Abu Jahal tidak merasa dirinya salah. Malah dengan sangat percaya diri berdoa kepada Allah untuk membinasakan orang yang justru berada dalam kebenaran dan dicintai Allah.

4. Orang tersesat pun memiliki standar-standar “kebenaran” yang ia yakini dan perjuangkan. Pada doa Abu Jahal tadi, dia meyakini bahwa memutus silaturrahim adalah salah. Dia juga meyakini bahwa menggagas ide baru yang merusak adalah mengacaukan masyarakat. Dia melihat orang yang masuk Islam kadang hubungannya menjadi renggang dengan kerabatnya, suami terpisah dengan istrinya, orang tua terpisah dengan anaknya, paman bermusuhan dengan keponakannya dan sebagainya. “Gagasan baru” Muhammad menurut Abu Jahal membawa perpecahan, mengusik kedamaian dan menimbulkan problem “disintegrasi bangsa”.

5. Kalau begitu, bagaimana menjamin diri memperoleh standar kebenaran sejati? Rasulullah dan para shahabat jelas benar dan diridhai Allah. Abu Jahal dan kawan-kawannya jelas kafir dan dimurkai Allah. Oleh karena itu hal ini memberi petujuk sederhana bahwa ukuran menilai kebenaran harus dikembalikan kepada wahyu. Kesalahan Abu Jahal adalah tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga standar salah-benar yang ia miliki adalah pertimbangan akalnya sendiri, bukan wahyu dari Allah. Rasulullah dan para Shahabat berada dalam kebenaran karena mereka percaya kepada wahyu yang turun kepada Rasulullah dan menjadikannya sebagai standar dalam menilai salah-benar.

6. Definisi kafir dalam konteks beragama adalah orang yang tidak mau mempercayai Nabi Muhammad sebagai utusan Allah dan mengikutinya. Abu Jahal disebut kafir bukan karena tidak percaya Tuhan, tetapi tidak mau percaya kepada Muhammad sebagai Nabi dan Utusan Allah. Maka semua agama selain Islam pemeluknya disebut kafir karena faktor ini.

7. Kadang perdebatan antara orang yang berada dalam kebenaran dengan orang yang berada dalam kesesatan tidak selesai pada tataran dialog pemikiran saja, tetapi diselesaikan dengan saling mendoakan laknat atau yang disebut dengan istilah Mubahalah. Pada level ini orang yang yakin berada dalam kebenaran tidak pernah ragu selangkahpun untuk menyambut tantangan Mubahalah.

8. Benturan antara kebenaran dan kebatilan jangan disangka akan berhenti pada level pemikiran dan dialog semata. Sejarah menunjukkan, kadang pertempuran dua pemikiran itu pada akhirnya mencapai konfrontasi fisik juga. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/abu-jahal-kafir-tapi-tetap-berdoa-kepada-allah-untuk-binasakan-nabi-dan-pengikutnya.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock