Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2017

Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU

Pringsewu, All About Santri


Maraknya kegiatan beberapa partai yang menggelar Musabaqah Kitab Kuning patut disyukuri oleh segenap kalangan khususnya warga Nahdlatul Ulama. Kegiatan tersebut menurut Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Provinsi Lampung Ustadz Munawir, dapat menjadi ajang tepat untuk menjaga tradisi keilmuan NU.

"Ngaji kitab kuning memang tradisi yang sangat erat kaitannya dengan pesantren. Perlu kita bersyukur karena sudah ada Partai yang mau ikut menjaga tradisi NU ini, bukan sebaliknya, NU yang menjaga tradisi partai," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Jumat (18/3).

Munawir mengingatkan pula kepada partai politik khususnya para politisi yang menggelar kegiatan tersebut untuk tidak hanya berorientasi mendapatkan simpati warga NU. "Sebaiknya kegiatan ini diagendakan secara rutin jangan hanya ketika memiliki kepentingan, baru dilaksanakan," ujarnya.

Dengan adanya kegiatan baik kajian maupun lomba yang berhubungan dengan kitab-kitab kuning ini, tuturnya, maka masyarakat khususnya umat Islam akan lebih menyadari pentingnya pemahaman dan pengkajian kitab kuning sebagai sumber referensi keilmuan maupun hukum Islam.?

"Al-Quran dan Hadits merupakan sumber utama yang tentu harus ditafsirkan secara kontekstual melalui kitab-kitab karya ulama. Penafsiran tersebut juga harus dari para Ulama yang ahli. Bukan dari orang yang mengaku ulama dengan keilmuan yang minim berdasarkan nalar mereka sehingga penafsirannya pun kaku dan terkesan serampangan," terangnya.

Lebih lanjut Gus Nawir -panggilan akrabnya- juga merasa prihatin atas fenomena banyak kitab kuning karya para ulama besar sekarang ini yang dihilangkan atau diganti beberapa bagian kalimatnya untuk kepentingan beberapa kelompok.?

"Sekarang ini kita harus berhati-hati khususnya ketika mendapatkan atau pun mengunduh kitab dari internet yang sumbernya tidak jelas. Banyak yang sudah dimanipulasi oleh orang tidak bertanggungjawab," ingatnya.

Oleh karenanya, kegiatan lomba atau musabaqah seperti yang sedang ramai dilaksanakan oleh beberapa partai ini akan dapat menjadi tempat juga untuk menjaga orisinalitas dari kitab-kitab karangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah.

"Mari kita jaga aset berharga berupa kitab kuning karya para Ulama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ikhtiar menjaga ilmu dan amaliyah kita sehingga umat Islam benar-benar mendapatkan sumber hukum yang tepat dari para ulama yang alim," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari : http://nu.or.id/post/read/66617/musabaqah-kitab-kuning-penting-untuk-jaga-tradisi-keilmuan-nu

Sabtu, 13 Juli 2013

Ciri Santri Itu Tidak Kagetan

All About Santri - Kalau kita kaya wawasan, tidak akan gumunan atau kagetan. Itulah salah satu ciri santri yang diutarakan oleh Nur Said, M. Ag dalam bedah buku Santri Membaca Zaman yang diselenggarakan oleh PC IPNU Pati di aula Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA), Pati, Sabtu (24/09/2016) pagi.

Diskusi bedah buku dalam rangka memperingati 1000 hari wafatnya KH Sahal Mahfudz tersebut menghadirkan KH Abdul Ghoffar Rozin (Rektor IPMAFA), H. Nur Said, M.Ag (Penulis buku), Hasan Habibie, S.T, MSi (Pustekkom Kemendikbud RI) dan A. Dimyati, M. Ag.

Ciri Santri Itu Tidak Kagetan - All About Santri
Ciri Santri Itu Tidak Kagetan - All About Santri


Ciri Santri Itu Tidak Kagetan

Dalam diskusi ihwal konten buku, Nur Said sebagai penulis menjelaskan singkat latar belakang terbitnya buku yang ditulis keroyokan 25 penulis alumni Madarasah Tsyawiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus itu. “Hanya lewat wahtsapp, dalam waktu sekitar 2 minggu terkumpul 25 tulisan, langsung edit, layout dan terbit,” terang Said.

Ia juga menyebut bahwa hadirnya buku yang dibidani oleh SantriMenara.Com tersebut memberikan efek akademis dan intelektual bagi kalangan pesantren karena dengan buku, akan hadir dunia pembaca, ruang diskusi dan dinamika pemikiran. “Adanya buku, melahirkan ruang diskusi bahkan sampai kapanpun,” katanya.

Intinya, dalam buku yang dilaunching berberengan dengan Ngaji Bareng Masyayikh Madrasah TBS beberapa waktu lalu itu berisi kegelisahan para penulis santri atas apa yang mereka lihat pasca mondok dan boyong dari pesantren.

All About Santri

All About Santri

Diungkapan oleh Said, buku Santri Membaca Zaman adalah ruang para santri melakukan counter culture kepada paham-paham ideologis Islam puritan dan radikal yang selama ini sering mengganggu muslimin ahlus sunnah wal jama’ah.

“Teman-teman yang menulis ternyata sudah mulai prihatin batas gerakan wahabi yang puritan dan radikal,” ungkap Said. Buku yang dibedah itu, lanjutnya, adalah bagian cara para santri memperteguh semangat dan kekuatan santri.

“Tidak ada motivasi apa-apa, hanya ungkapan cinta kepada masyayikh dan semangat iqra’ dalam momentum harlah madrasah kemarin,” tambah Said. Nampak dalam buku ini, ujarnya, ciri-ciri santri, antara lain “santri itu teguh memegang akidah aswaja, toleran, dan kaya sudut pandang,” tandasnya di forum.

Keterangan tentang sejarah terbitnya buku tersebut ditanggapai positif oleh reviewer buku pertama, yakni Hasan Chabibie. Mantan Ketua IPNU Jawa Tengah ini berharap buku terbitan para Santri Menara ini paling tidak bisa menyumbang peningkatan literasi masyarakat kita yang masih lemah, peringkat ke 60 dari negara-negara yang disurvei. “Masyarakat kita sering tidak lengkap membaca konflik,” jelas Hasan.

Ia juga mengingatkan kalau literasi teknologi komunikasi dan informasi dunia santri dan pesantren saat ini sudah bergerak luar biasa sejak 10 tahun. “Orang mulai bangga memposting foto-foto di pesantren. Orang mulai bangga mempublikasi nadzom-nadzom yang dibaca di bilik-bilik kecil di pesantren,” terang Hasan berharap buku Santri Membaca Zaman bisa meneguhkan kebanggaan identitas santri seperti bangganya pemilik akun instagram santri memposting kegiatan mereka di pondok pesantren.

Meski begitu, A Dimyati, M.Ag, Rektor 1 IPMAFA yang menjadi pengulas kedua menyebut bahwa judul buku yang lebih pas adalah “Santri di Pusaran Zaman.” Alasannya, para santri di buku tersebut gelisah atas apa yang ia baca dan ditafsirkan setelah jadi alumni pondok. Itu kritik pertama dari Dimyati.

Menurut Dimyati, santri selama ini mengalami kesenjangan dengan realitas. Seakan-akan santri terpisah dari dunia nyata. Ia juga mengkritik cara berpikir santri yang mudah menerima tanpa kritis karena kagetan dan mudah kagum.

Selain itu, kesenjangan eknomi ternyata tidak membuat santri gelisah dan bergerak secara makro dan tersistem. Sistem ekonomi yang menidas pada kenyataannya memang tidak membuat para santri merasa terancam.

Ini karena di kalangan para santri masih belum ada kesadaran massif untuk melakukan perubahan sosial. Padahal, dalam sejarahnya, santri zaman dulu adalah penggerak masyarakat sehingga menjadi berdaya.

“Santri itu tidak cukup hanya pintar, sholih dan jadug. Santri juga harus ada yang punya kemampuan untuk mengorganisir, mengonsolidasi untuk menggerakkan masyarakat,” kata Dimyati.

“Terus santri itu tugasnya apa sih sebetulnya, kok semuanya kayaknya dibebankan kepada santri semua seperti di buku ini?” tanya Gus Rozin, reviewer terakhir dari buku yang disebut Dimyati sebagai otokritik dari alumni kepada santri, pesantren dan sistem pendidikan di dalamnya itu. Duh. Berat juga jadi santri. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ciri-santri-itu-tidak-kagetan.html

Senin, 17 Juni 2013

Koalisi Wilayah dan Cabang Ansor Tolak Hasil Konggres XIII

Jakarta, All About Santri
Gelombang protes terhadap Keputusan Konggres GP Ansor ke XIII di Asrama Haji Pondok Gede terus berdatangan. Kali ini datang dari kelompok yang menamakan diri sebagai Koalisi Pimpinan Wilayah dan Cabang GP Ansor. Mereka menolak dengan tegas proses pemilihan Ketua Umum Ansor dengan cara aklamasi. Menurut Agil, Ketua Cabang Batam pada All About Santri menyatakan, Tahapan pencalonan belum dilalui, tiba-tiba diaklamasi, padahal calon belum ada. Ibarat pertandingan tinju, para petinju belum naik ring, tiba-tiba sudah diumumkan pemenangnya, ini jelas-jelas pengibiran demokrasi, tandasnya.

Keputusan Aklamasi jelas bertentangan dengan Hasil Sidang Komisi A dan Sidang Pleno Tata Tertib Pemilihan Ketua Ansor, Namun saat pemilihan Ketua Umum yang dipimpin Endin AJ Soefihara, didampingi Khoirul Rasyid, dan Umar Syah, tiba-tiba dibacakan ulang persyaratan pencalonan yang sama sekali telah berubah dari kesepakatan Komisi A, jelas Jimmy Wakil Ketua Cabang Karawang. Menurutnya, adanya kalimat bahwa Pemilihan Ketua Umum dapat dilakukan dengan jalan aklamasi, dan apabila tidak tercapai, maka dapat dilakukan dengan cara pemilihan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dengan wilayah maupun cabang sama-sama memiliki 1 hak suara, jelas bertentangan dengan Tatib Sidang Pleno Mengenai Pemilihan Ketua Umum.

Saat kata Aklamasi dibaca berulang oleh Endin, tiba-tiba wilayah yang pro dengan aklamasi segera menimpali dengan menyebut nama Syaifullah Yusuf dengan basis alasan dukungan bulat pada forum Pandangan Umum. Saat itulah pimpinan sidang mengetuk palu, tanda aklamasi disetujui. Disinilah letak kejanggalan itu terjadi, ini pembajakan aspirasi oleh pimpinan sidang, tambah Beni Ramdani, Ketua Wilayah Sulawesi Utara. Sangat disayangkan, konggres sebagai aspirasi tertinggi cabang-cabang Ansor diseluruh Indonesia, dinodai aksi sepihak yang anti-demokrasi, tambah Beni, anggota FPDIP DPRD Sulut ini.

Koalisi Wilayah dan Cabang Ansor Tolak Hasil Konggres XIII (Sumber Gambar : Nu Online)
Koalisi Wilayah dan Cabang Ansor Tolak Hasil Konggres XIII (Sumber Gambar : Nu Online)


Koalisi Wilayah dan Cabang Ansor Tolak Hasil Konggres XIII

Untuk mensikapi hasil konggres yang kontroversial , koalisi ini meminta PBNU untuk ikut campur mensikapi keputusan ini. PBNU harus mengambil sikap, bila perlu dianulir keputusannya, tandas Agil.Apabila penyelewengan terus dibiarkan sama saja dengan kedzaliman disepakati secara aklamasi pula, itu bukan tradisi pemuda NU, tambah Agil. (MAA).

All About Santri

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/2929/koalisi-wilayah-dan-cabang-ansor--tolak-hasil-konggres-xiii

All About Santri

All About Santri

Sabtu, 01 Desember 2012

Bantahan Atas Empat Alasan Anti Maulid Nabi

All About Santri - Di masa yang seharusnya kita fokus dalam kebersamaan ukhuwah, ternyata masih ada saja segelintir orang yang anti ukhuwah. Merasa demam dengan persatuan kaum muslimin, bahkan mengolok dan memaki.

Kita bersaudara, Anda yang suka dengan ikhtifal maulid Nabi silahkan jalankan sesuai dengan keyakinan. Bagi yang tidak suka, silahkan untuk tidak menjalankannya. Kita tetap akan bersaudara karena yang terpenting bukan maulid atau tidaknya tapi bagaimana kita berakhlaq mulia meneladani kemuliaan akhlaq Nabi. Hormatilah perbedaan, supaya kita bisa selalu hidup damai dan penuh kerukunan.

1. Maulid Tidak Bid'ah Maulid tidak dilakukan Rasulullah SAW, tidak pula para sahabat dan tabiin. Jika maulid itu baik pasti mereka telah melakukannya!

Bantahan Atas Empat Alasan Anti Maulid Nabi - All About Santri
Bantahan Atas Empat Alasan Anti Maulid Nabi - All About Santri


Bantahan Atas Empat Alasan Anti Maulid Nabi

Jawaban Kisah yang serupa pernah terjadi. Sayidina Abu Bakar ra berkata kepada Sayidina Umar ra yang mengusulkan untuk mengumpulkan al Quran:

All About Santri

كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟» فَقَالَ عُمَرُ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ.

Artinya: Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah SAW? Sayidina Umar ra menjawab: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ.. Ini (mengumpulkan al Quran) demi Allah adalah kebaikan. (Shahih Bukhari, Bab Laqod Jaakum Rasulun min Anfusikum).

All About Santri

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa segala kebaikan boleh dilakukan walaupun tidak dilakukan Rasulullah SAW. Apalagi jika yang tidak melakukannya adalah sahabat dan tabiin

2. Maulid Merendahkan Nabi Merayakan maulid itu merendahan derajat Nabi SAW. Karena dengan maulid berarti Nabi SAW hanya disebutkan sehari saja dalam setahun.

Jawaban: Kami tidak mengkhususkan memuji Nabi SAW di hari maulid saja. Kami hanya melebihkan pujian kepada Nabi SAW di hari itu. Tidakkah Anda renungkan bahwa Nabi SAW mengkhususkan untuk melebihkan rasa syukur pada hari kelahirannya dengan berpuasa di hari Senin, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim Ketika ditanya mengenai puasa hari Senin. Ketika itu Rasulullah menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فيه وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أو أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ Artinya: “Hari itu hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkan kepadaku wahyu.” (HR Muslim)

Apakah kita katakan bahwa Nabi SAW hanya bersyukur di Hari Senin saja dan tidak bersyukur di hari-hari lain ataukah kita katakan bahwa Nabi SAW melebihkan rasa Syukur di hari itu (Senin)?

Kemudian bagaimana menjawab puasa di Hari Asyura, karena bersyukur kepada Allah atas selamatnya Nabi Musa as? Apakah Nabi SAW hanya mengkhususkan syukur pada hari itu saja atau Nabi melebihkan syukur pada hari itu?

Tentu jawabannya adalah Nabi SAW senantiasa bersyukur, namun Nabi menambahkan syukurnya pada momen-momen hari itu. Demikianlah pula maulid, kami senantiasa mengingat Nabi SAW di hari-hari lain, namun di hari itu kami melebihkan pujian atas beliau SAW.

3. 12 Rabiul Awal kan Wafatnya Nabi Bagaimana bisa kalian merayakan tanggal 12 Rabiul Awwal, padahal itu juga adalah hari wafatnya Nabi SAW?

Jawaban: Kesamaan hari lahir dan hari wafatnya Nabi SAW (yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal) itu tidak mengurangi keutamaan hari maulid. Renungkanlah hadits yang datang dalam Sunan Nasai, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم عليه السلام ، وفيه قبض”

Artinya: "Sesungguhnya hari terbaik kalian adalah Hari Jumat, di dalamnya Nabi Adam as diciptakan dan di hari itu juga Beliau diwafatkan." (HR Nasa'i)

Hari Jumat tetaplah menjadi hari terbaik walau pun pada hari itu pula Nabi Adam as wafat

4. Jika Maulid Baik, Mengapa Sahabat Tidak Merayakan? Seandainya perayaan maulid adalah kebaikan tentu telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Lalu apakah kalian lebih mencintai Nabi SAW dibandingkan para sahabat sedangkan mereka tidak pernah merayakan maulid.

Jawaban 1. Telah disebutkan dalam hadits shahih

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَبَّحَ سُبْحَةَ الضُّحَى وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا

Dari Aisyah ra beliau mengatakan: “Aku tidak pernah melihat Nabi SAW shalat Dhuha, namun aku melakukannya.” (HR Bukhari).

Seandainya itu kebaikan pasti Nabi SAW telah melakukannya. Kenapa tidak dikatakan kepada Sayidah Aisyah ra, “Kenapa kau melakukan ini sedangkan engkau berkata bahwa Nabi SAW tidak melakukannya".

2. Imam Syafii pernah bercerita: aku melihat di pintu Imam Malik seekor kuda dari kuda-kuda Khurasan dan Bighal Mesir. Lalu aku katakan, “alangkah bagusnya!” Imam Malik berkata, “itu adalah hadiah dariku untukmu.”

Imam Syafii menimpali, “sisakanlah untuk dirimu seekor untuk kau kendarai.”

Imam Malik berkata, “aku malu kepada Allah untuk menjejak tanah Nabi-Nya (madinah) dengan telapak kaki kendaraan.” (Tartibul Madarik juz 2/53).

Imam Malik enggan menginjak tanah kota Madinah dengan kaki hewan tunggangannya, beliau memilih berjalan kaki saja.

Perhatikan, Imam Syafii ra tidak mengatakan kepada Imam Malik, “Apakah cintamu kepada Nabi SAW lebih besar daripada cinta para sahabat Nabi SAW yang berjalan di atas kendaraan mereka di kota Madinah? Apakah mereka tidak terpikir untuk melakukannya lalu hanya engkau bisa berpikir demikian?”

3. Ibnul Qoyim berkata:

سمعت ابن تيمية رحمه الله يقول : من واظب على يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر أربعين مرة أحيى الله بها قلبه

Aku mendengar Ibnu Taimiyah ra berkata, Siapa yang membiasakan membaca ‘Ya Hayyu Ya Qoyyum La ilaha Illa Anta’ setiap hari di antara shalat sunnah Fajr dan shalat Fajr sebanyak 40 kali, maka Allah akan menghidupkan hatinya. (Madarikus Salikin juz 3/264).

Inilah Ibnu Taimiyah, ia juga ternyata melakukan sesuatu yang tidak pernah kita dengar diriwayatkan dari Nabi SAW, tidak pula dari para sahabatnya. Lalu kenapa kami tidak mendengar wahabi mengingkarinya? Tidak pernah mereka berkata, "seandainya ini baik, pastinya Nabi SAW dan para sahabatnya akan melakukannya".

”Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. (Ibnu Taimiyah - Iqtidha’: 297). Allahul Musta’an. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/bantahan-atas-empat-alasan-anti-maulid-nabi.html

Senin, 26 November 2012

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

All About Santri - Ini teks istighotsah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari yang saya dapat dari kiai Fahruddin, pengasuh PP. Thoriqul Huda Ponorogo beberapa bulan sebelum beliau wafat. Beliau menerima dari Gus Kholiq bin Hasyim Asy'ari.

Ada secuil kisah tentang istighotsah tersebut. Konon kiai Hasyim pernah memprediksi akan terjadinya gonjang-ganjing yang akan menimpa Indonesia wa bil khusus Nahdlatul Ulama.

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia) - All About Santri
Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia) - All About Santri


Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

Apakah fenomena sekarang di mana antar umat Islam, antar ormas Islam dengan mudah diadu domba, saling mencaci-maki orang adalah gonjang-ganjing yang dimaksud Hadratus Syaikh? Wallahu A'lam.

Senyampang kita masih waras menurut ukuran kita sendiri, mari sama-sama berdoa agar kita tidak termasuk dalam lingkaran pelaku gonjang-ganjing tersebut.

All About Santri

NB. Bila ada teks atau harakat yang salah, mohon maaf. Saya dapatnya begitu. [All About Santri]

Gus Zaki Hadziq Tebuireng, cucu KH. Hasyim Asy'ari.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/teks-istighotsah-kh-hasyim-asyari.html

All About Santri

Minggu, 22 Januari 2012

Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana

All About Santri - Pak, pemahaman Islam yang benar itu seperti apa sich? Saya belajar ke kelompok A yang saya dapat di situ hanya amalan keutamaan saja, seolah agama seperti sarana pencuci dosa. Saya belajar ke kelompok B yang saya dapat di situ cuma bahasan tentang konspirasi dan diajar pintar mengolah isu politik.

Lalu, saya belajar ke kelompok C yang saya dapat cuma paham mutungan. Semua disalahkan, bahkan keadaan pun disalahkan. Padahal, keadaan itu kan mengikuti waktu. Saya heran kenapa juga gak sekalian waktunya yang disalahkan? Atau jangan-jangan kelompok C itu lahir di waktu yang salah? Malah, saya pikir lagi jangan-jangan mereka yang salah lahir? Kenapa juga sekarang baru lahir?

Terus pak, saya belajar ke kelompok D. Yang saya dapat di situ cuma penyesalan sejarah. Tiap pertemuan yang dibahas cuma ratapan terbunuhnya seseorang. Saya heran pak, kok beragama isi cuma ratapan ya? Yang biasa saya tonton di sinetron-sinetron, setelah ratapan itu biasanya yang muncul amarah itu.

Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana - All About Santri
Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana - All About Santri


Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana

Terus saya belajar ke kelompok E, yang saya dapat di situ cuma dorongan untuk maju. Saya juga gak ngerti bagaimana saya bisa maju wong saya juga gak ada yang dorong.

All About Santri

Bosan di kelompok E, saya ke kelompok F. Di sini lebih hebat pak. Cuma setelah saya pikir-pikir, saking hebatnya kok rasanya bakal jadi Perang Dunia ketiga ya? Atau jangan-jangan kelompok ini panitia penyelenggaranya?

Sudah bosan di situ, saya ngaji ke kelompok G. Ini hampir mirip kelompok B pak. Cuma mimpinya menurut jauh banget. Ya, semacam membentuk Uni Eropa versi Islam gitu dech. Tapi, yang jadi pertanyaan saya pak. Boro-boro bikin seperti Uni Eropa pak, mempersatukan pemilik warung sekelurahan untuk nolak Alfamart dan Indomart saja mereka belum bisa pak. Malah bikin warung besar di rumahnya saja belum tentu sukses pak. Pusing saya.

Terus saya ikut ngaji ala kelompok H pak. Ini lebih pusing lagi. Apa saja boleh pak di situ, kecuali paham kelompok B, kelompok C, kelompok F, dan kelompok G. Kadang saya sampai mikir, liberal kok gak bebas?

All About Santri

Sudah 8 kelompok pengajian saya ikuti. Itu belum yang lain. Saya jadi bingung pak. Yang bener-bener mengamalkan ajaran Islam itu yang mana ya? Kadang yang bilang "jangan merasa benar" juga gak bisa tunjukkan bagaimana yang benar.

Demikian curahan hati seseorang yang mengaku awam kepada saya tadi pagi. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ketika-orang-awam-bingung-ikut-pengajian-kelompok-mana.html

Selasa, 29 Desember 2009

Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda

Jombang, All About Santri. Adik kandung KH Abdurrahman Wahiid (Gus Dur), KH Salahuddin Wahid menjelaskan tentang kondisi lingkungan yang membuat kakanya menjadi sosok yang berani dan egaliter. Menurut dia, hal ini tak lepas dari cara mendidik orang tua mereka.

"Kami waktu kecil disekolahkan di sekolah yang muridnya kebanyakan beragama Kristen. Makanya kami sekeluarga selalu menghargai perbedaan," ujar pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)


Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda

Gus Sholah menyampaikan hal itu dalam acara bedah buku Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita karya Menteri Negara Riset dan Teknologi era Gus Dur, AS Hikam, Kamis (26/12). Selain penulis buku, hadir pula sebagai narasumber Pendeta Simon Filantropa Bingki Irawan.

Bingki Irawan dalam forum itu lebih banyak menceritakan pengalamannya selama dekat dengan Gus Dur. Yakni, ketika dirinya diajak berjunjung ke Tiongkok. Hanya saja waktu itu Bingki dimarahi oleh Gus Dur karena keluar dari acara tanpa pamit.

All About Santri

All About Santri

Ia juga menceritakan pengalamannya ditangkap oleh Kodam V Brawijaya lantaran menggelar atraksi barongsai. Gus Dur mengecam aksi penangkapan tersebut dan membela warga Tionghoa. "Saat itu zaman orde baru, menggelar kesenian China masih tabu. Bahkan saya dianggap PKI," kenang Bingki.

Sementara itu AS Hikam mengupas tentang bukunya. Buku itu menurut As Hikam mengupas seluruh sosok Gus Dur. Adapula wawancara imajiner dengan mantan Ketua Umum PBNU itu. "Buku ini sangat ringan dan bisa dibaca oleh semua kalangan," pungkas Hikam.

Acara yang diselenggarakan di Klenteng Hok Liong Kiong Jombang ini juga menampilkan sejumlah kesenian tradisional, di antaranya tari remo dari Jombang, pembacaan puisi, atraksi bambu gila dari Ambon, serta vokal grup dari gereja.

"Acara ini untuk mendandai empat tahun meninggalnya Gus Dur. Sekaligus untuk menggali pemikiran beliau," ujar Aan Anshori, salah satu panitia. (Syaifullah/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49027/sejak-belia-gus-dur-bergaul-dengan-kelompok-berbeda

All About Santri

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock