Tampilkan postingan dengan label Madrasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madrasah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2016

Rektor Universitas Lebanon: Islam Bukan Agama Sektarian

Jakarta, All About Santri. Rektor Universitas Kulliyatud Dawah Lebanon Syekh Abdun Nasser Jabri menyebut Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi segenap makhluk. Karenanya pemeluk Islam di belahan dunia mana pun mengemban tugas untuk mewujudkan misi tersebut dan mendorong upaya-upaya perbaikan untuk semesta alam.

Islam adalah agama Allah. Islam bukan aliran politik, bukan paham kelompok. Islam hadir untuk membawa kemaslahatan bagi segenap umat manusia, kata Syekh Naser Jabri kepada All About Santri di sela pertemuan forum International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Gedung Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (10/5) sore.

Rektor Universitas Lebanon: Islam Bukan Agama Sektarian (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor Universitas Lebanon: Islam Bukan Agama Sektarian (Sumber Gambar : Nu Online)


Rektor Universitas Lebanon: Islam Bukan Agama Sektarian

Menurutnya, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap eksklusif apalagi mendorong umatnya untuk membentuk kelompok politik tertentu atau bersikap keras terhadap umat lain. Islam justru meminta pemeluknya untuk bergaul dengan komunitas pemeluk agama lain.

Ini sudah dicontohkan Rasulullah SAW ketika membangun masyarakat di Kota Madinah. Di sana Nabi Muhammad SAW merangkul komunitas pemeluk Yahudi dan Nasrani, tegas Syekh Naser dalam Bahasa Arab.

All About Santri

All About Santri

Untuk itu gagasan Islam moderat dan toleran yang dikampanyekan Nahdlatul Ulama (NU) di forum ini layak untuk disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Di samping mengingatkan umat Islam, forum ini juga menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa Islam mendorong dan mengupayakan perdamaian dunia, ujar peserta forum Isomil asal Libanon, Syekh Nasser Jabri dengan suara lembutnya. (Alhafiz K)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68090/rektor-universitas-libanon-islam-bukan-agama-sektarian

Sabtu, 25 Agustus 2012

Lagi, ANNAS Catut NU Musuhi Kelompok Lain

All About Santri - Untuk kesekian kalinya organisasi intoleran yang menamakan diri ANNAS (Aliansi Nasional Anti-Syi'ah) mencatut nama Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari gerakan mereka. Kali ini terjadi menjelang acara pelantikan pengurus ANNAS Bogor Raya.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor baru-baru ini menerima selebaran acara pengukuhan ini. Di dalamnya tertulis acara meliputi “Materi Ilmiyyah” yang berisi diskusi “Syiah Bukan Islam”, “Bahaya Syiah terhadap NKRI”, dan “Bahaya Syiah terhadap Umat Islam”.

Ini logo sakral NU. Mohon janga catut sembarangan! Selebaran tersebut memasang logo resmi NU dan ormas-ormas lain seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Hidayatullah, MUI, Persis, Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Forum Umat Islam, Majelis Az Zikra, dan lainnya. Di kertas itu juga terpampang foto Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto dan Ketua Dewan Syuro ANNAS Bogor Didin Hafiduddin sebagai pembicara kunci.

Lagi, ANNAS Catut NU Musuhi Kelompok Lain - All About Santri
Lagi, ANNAS Catut NU Musuhi Kelompok Lain - All About Santri


Lagi, ANNAS Catut NU Musuhi Kelompok Lain

Ketua PCNU Bogor Ifan Haryanto mengatakan sangat keberatan dengan aksi pencantuman logo NU itu. “Jika organisasi tersebut tidak merevisi undangan yang mencatut logo NU itu, PCNU Kota Bogor mempertimbangkan untuk melaporkan organisasi tersebut ke pihak yang berwajib,” katanya kepada NU Online, Kamis (19/11) malam.

Berdasarkan selebaran itu, acara pelantikan digelar Ahad, 22 November 2015, pukul 08.00 sampai dengan 11.30 WIB, di Aula KONI Kota Bogor, Jalan Pemuda No. 4, GOR Padjajaran Bogor, Jawa Barat. Narasumber pada “Materi Ilmiyyah” antara lain KH. Khaerul Yunus (Penasihat MUI Bogor dan Ketua Dewan Pakar ANNAS), Dr. H. Abdul Chair Ramadhan SH, MH (Komisi Hukum MUI Pusat dan Ketua Litbang MIUMI), dan KH. M. Rizal Fadhilah, SH (Dewan Pakar ANNAS Pusat).

All About Santri

Dalam aksinya di berbagai daerah ANNAS kerap mencatut NU secara organisasi terlibat dalam sejumlah aksi intoleransi. Dalam aksi deklarasi anti Syiah di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan pada Maret 2015 lalu, organisasi yang diketuai tokoh Wahabi KH Athian Ali Da'i ini juga melakukan hal yang sama. PCNU setempat menegaskan menolak kegiatan tersebut.

Sebagai ormas berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, dalam berbagai forum, NU berulang kali menyatakan tak sepaham dengan Syiah. Hanya saja, perbedaan pendapat tersebut tak mesti diekspresikan dengan jalan memusuhi. [All About Santri/ mahbib]

All About Santri

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/lagi-annas-catut-nu-untuk-musuhi.html

Kamis, 05 April 2012

Lagi, Oknum FPI Dikecam AJI Jakarta Setelah Pukul Jurnalis

All About Santri - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam keras tindakan anggota Front Pembela Islam (FPI) yang diduga memukul jurnalis Tirto.id, Reja Hidayat, di dekat Markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu, 30 November 2016. AJI Jakarta mendesak kepolisian mengusut kasus kekerasan yang menimpa jurnalis ini.

Lagi, Oknum FPI Dikecam AJI Jakarta Setelah Pukul Jurnalis - All About Santri
Lagi, Oknum FPI Dikecam AJI Jakarta Setelah Pukul Jurnalis - All About Santri


Lagi, Oknum FPI Dikecam AJI Jakarta Setelah Pukul Jurnalis

Tindakan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas jurnalistik tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. “Tindakan kekerasan terhadap jurnalis jelas melawan undang-undang dan mengancam kebebasan pers,” kata Ketua AJI Jakarta, Ahmad Nurhasim, dalam rilis Kamis 1 Desember 2016. “Bila keberatan terhadap berita yang ditulis media tempuhlah cara yang beradab dengan hak jawab atau laporkan ke Dewan Pers, bukan dengan memukul jurnalisnya.”

Tindakan kekerasan ini mencerminkan pelaku tidak menghargai dan menghormati profesi jurnalis. Menurut Nurhasim, jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang Pers saat melaksanakan kegiatan jurnalistik sejak mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan informasi yang didapat kepada publik. “Ancaman dan tindakan kekerasan terhadap jurnalis juga menghalangi hak publik untuk memperoleh berita yang akurat dan benar,” kata dia. Jurnalis bekerja untuk kepentingan publik.

Kasus kekerasan ini bermula saat Reja Hidayat tiba di markas FPI pada Rabu sekitar pukul 13.00 untuk meliput rapat persiapan aksi 2 Desember 2016 (212) sekaligus berencana mewawancarai tokoh FPI Rizieq Shihab. Tapi di markas FPI, Reja tidak bisa masuk dan hanya berdiri di depan gerbang sambil mencari informasi.

Usai salat Ashar berjamaah, Reja disambangi seorang laki-laki berseragam laskar FPI. Lelaki tersebut menanyakan asal media Reja, seraya menghardik untuk menghapus seluruh hasil reportase. Karena Reja belum menulis berita, tak ada yang bisa dihapus. Jawaban itu membuat laskar itu marah dan memukuli bahu Reja. Setelah itu, Reja didorong masuk ke dalam salah satu rumah dekat markas FPI.

Di ambang pintu masuk rumah, laskar FPI itu kembali memukul bagian belakang kepala Reja sembari menghardiknya untuk menghapus semua laporan liputan. Sekali lagi Reja menjawab “tak ada berita yang ditulis”. Mukanya kembali ditampar oleh laskar yang tampak marah. Pada saat itu, Reja dipukul berulang kali. Anggota laskar ini kemudian mengusirnya dari ruangan tersebut. Reja keluar dengan ketakutan, sampai akhirnya di ujung gang ia bertemua dua jurnalis lain, satu dari Gatra dan satu lagi dari JPNN. Oleh laskar FPI yang sama, mereka pun diusir untuk menjauh dari lokasi rapat.

Koordinator Divisi Advokasi AJI Jakarta Erick Tanjung mengatakan tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh anggota laskar FPI ini sudah masuk kategori pidana dan seharusnya pelakunya diproses hukum. Selain pelaku bisa dijerat pasal pidana yang merujuk pada KUHP, Pasal 18 Undang-Undang Pers juga bisa dipakai untuk menjerat pelaku.

Pasal ini menyatakan, siapapun yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalang-halangi kemerdekaan pers dan kerja-kerja jurnalistik diancam hukuman dua tahun penjara atau denda Rp 500 juta. “Pelaku bisa diancam dua pasal sekaligus. Kasus ini harus segera ditindaklanjuti polisi, agar tak ada ketakutan bagi jurnalis untuk meliput kegiatan masyarakat,” kata Erick.

Kasus ini bukan yang pertama pada November. Saat aksi 4 November, sejumlah pengunjuk rasa mengintimidasi, memukul, menghapus gambar dan merampas memori card jurnalis Kompas TV Muhammad Guntur saat dia meliput unjuk rasa besar di dekat Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat.

Di saat bersamaan, pada lokasi yang berbeda, seorang jurnalis perempuan Kompas.com juga diintimidasi saat dia meliput unjuk rasa yang menuntut Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diproses hukum dalam kasus dugaan penistaan agama.

Walau kasus kekerasan 4 November sudah dilaporkan oleh korban (Muhammad Guntur) ke Polres Metro Jakarta Pusat, sampai saat ini polisi belum menetapkan tersangka. Bahkan belum ada kabar proses hukum selanjutnya setelah pelapor diperiksa.

Menjelang aksi 2 Desember 2016 yang menuntut keadilan atas tersangka Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama, AJI Jakarta mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menghormati kebebasan pers dan jurnalis. AJI meminta peserta aksi 212 tidak menghalangi dan mengintimidasi jurnalis dari media mana pun yang meliput aksi besok karena kegiatan jurnalistik dilindungi oleh undang-undang.

Bila keberatan terhadap pemberitaan, kami imbau tempuhlah mekanisme yang beradab dengan hak jawab atau melaporkan ke Dewan Pers.

Selain itu, AJI Jakarta juga mengimbau para jurnalis bekerja secara independen, menaati Kode Etik Jurnalistik, dan memprioritaskan keselamatan saat meliput unjuk rasa yang melibatkan massa besar. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/oknum-fpi-dikecam-aji-jakarta-setelah-pukul-jurnalis.html

Minggu, 22 Januari 2012

Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana

All About Santri - Pak, pemahaman Islam yang benar itu seperti apa sich? Saya belajar ke kelompok A yang saya dapat di situ hanya amalan keutamaan saja, seolah agama seperti sarana pencuci dosa. Saya belajar ke kelompok B yang saya dapat di situ cuma bahasan tentang konspirasi dan diajar pintar mengolah isu politik.

Lalu, saya belajar ke kelompok C yang saya dapat cuma paham mutungan. Semua disalahkan, bahkan keadaan pun disalahkan. Padahal, keadaan itu kan mengikuti waktu. Saya heran kenapa juga gak sekalian waktunya yang disalahkan? Atau jangan-jangan kelompok C itu lahir di waktu yang salah? Malah, saya pikir lagi jangan-jangan mereka yang salah lahir? Kenapa juga sekarang baru lahir?

Terus pak, saya belajar ke kelompok D. Yang saya dapat di situ cuma penyesalan sejarah. Tiap pertemuan yang dibahas cuma ratapan terbunuhnya seseorang. Saya heran pak, kok beragama isi cuma ratapan ya? Yang biasa saya tonton di sinetron-sinetron, setelah ratapan itu biasanya yang muncul amarah itu.

Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana - All About Santri
Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana - All About Santri


Ketika Orang Awam Bingung Ikut Pengajian Kelompok Mana

Terus saya belajar ke kelompok E, yang saya dapat di situ cuma dorongan untuk maju. Saya juga gak ngerti bagaimana saya bisa maju wong saya juga gak ada yang dorong.

All About Santri

Bosan di kelompok E, saya ke kelompok F. Di sini lebih hebat pak. Cuma setelah saya pikir-pikir, saking hebatnya kok rasanya bakal jadi Perang Dunia ketiga ya? Atau jangan-jangan kelompok ini panitia penyelenggaranya?

Sudah bosan di situ, saya ngaji ke kelompok G. Ini hampir mirip kelompok B pak. Cuma mimpinya menurut jauh banget. Ya, semacam membentuk Uni Eropa versi Islam gitu dech. Tapi, yang jadi pertanyaan saya pak. Boro-boro bikin seperti Uni Eropa pak, mempersatukan pemilik warung sekelurahan untuk nolak Alfamart dan Indomart saja mereka belum bisa pak. Malah bikin warung besar di rumahnya saja belum tentu sukses pak. Pusing saya.

Terus saya ikut ngaji ala kelompok H pak. Ini lebih pusing lagi. Apa saja boleh pak di situ, kecuali paham kelompok B, kelompok C, kelompok F, dan kelompok G. Kadang saya sampai mikir, liberal kok gak bebas?

All About Santri

Sudah 8 kelompok pengajian saya ikuti. Itu belum yang lain. Saya jadi bingung pak. Yang bener-bener mengamalkan ajaran Islam itu yang mana ya? Kadang yang bilang "jangan merasa benar" juga gak bisa tunjukkan bagaimana yang benar.

Demikian curahan hati seseorang yang mengaku awam kepada saya tadi pagi. [All About Santri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ketika-orang-awam-bingung-ikut-pengajian-kelompok-mana.html

Jumat, 30 Oktober 2009

Kasebul Fundamentalis di Keraton Mataram Islam Perlu Dijewer

Salam waras sederek sedoyo. Saya berterimakasih kepada semua orang, terutama penganut Islam Jawa atas apresiasinya terhadap tulisan saya sebelumnya, Soal Menebak Sabdaraja Sultan HB X dan J. Kristiadi.

Dalam tulisan saya itu, saya telah menyebutkan bahwa pertarungan kultural di dalam kraton Mataram, terjadi antara para fundamentalis Kasebul dan kalangan muslim Jawa. Kalangan muslim Jawa semakin terdesak, dan sebagian yang tidak kuat, kemudian beralih haluan. Keterdesakan ini dipicu oleh Fundmentalis Kasebul, yang kuat baik dari sudut dana ataupun cantelan kekuasaan yang bermain secara kasar, yaitu di sekitar permaisuri Kraton.

Kasebul Fundamentalis di Keraton Mataram Islam Perlu Dijewer - All About Santri
Kasebul Fundamentalis di Keraton Mataram Islam Perlu Dijewer - All About Santri


Kasebul Fundamentalis di Keraton Mataram Islam Perlu Dijewer

Merespon fenomena itu, dan masih berkaitan dengan Sabdaraja itu, beberapa waktu lalu, tepatnya hari Minggu (17 Mei 2015), di tugu Golong Gilik Jogjakarta, kembali JNM (Jamaah Nahdliyin Mataram) menggelar acara. Kali ini bertajuk Ruwatan Bumi Mataram dan Mendoakan Sri Sultan Hamengku Buwono X (bukan Bawono).

All About Santri

Dalam pernyataannya, pada item 3, JNM menjelaskan: Mengajak secara baik-baik kepada kelompok jaringan tertentu yang ingin menjadikan mataram Islam-Jawa diubah fondasinya sebagai Mataram yang bukan Islam-Jawa, untuk segera kembali ke jalan yang benar sesuai dengan dunia batin dan sejarah kraton Mataram; untuk segera menempuh jalan berbudi dengan tidak mengkhianati persahabatan; dan untuk segera bersama kembali menjaga keharmonisan yang telah terjalin baik selama ini.

Dengan tepat JNM mampu mengendus kekuatan yang ada di Kraton. Tentu JNM memiliki informasi yang cukup untuk sampai pada kesimpulan demikian. Ini cocok dengan apa yang telah saya tulis dalam Menebak Sabda Raja Sultan Hamengku Buwono X dan J. Kristiadi. Hanya JNM tidak secara eksplisit menyebutkan siapa kelompok itu.

All About Santri

Merujuk tulisan saya sebelumnya, dan informasi yang saya terima dari para desertir Kasebul, kelompok itu adalah para fundamentalis Kasebul di kalangan Katholik. Mereka ini berkepentingan hilangnya Keraton Mataram yang bersandarkan pada Islam Jawa, yang hal ini sebenarnya tidak disetujui oleh para intelektual Katholik lain yang baik.

Fenomena ini juga belum diungkap dalam tulisan Ninoy Karundaeng, yang menganalisis Sabdaraja, dalam tulisan Sabda HB X Akhiri Mataram., dawuh Allah dan ambisi GKR Hemas (Kompasiana.com, 9 Mei 2015).

Meski begitu, Ninoy dengan telak menyebutkan ambisi kekuasaan Tatik Drajad (adalah nama permaisuri sebelum bergelar GKR Hemas) yang memang sangat kuat, yang mensyaratkan menjadi permaisuri kraton ketika menjadi istri Sultan itu, bisa menjembatani untuk melihat terhapusnya Mataram Islam ini.

Lingkaran fundamentalis Kasebul yang bersandarkan pada sang permaisuri inilah yang menjadi kelompok kepentingan kuat, terutama dari segi dana. Lingkaran ini, dengan tidak malu-malu, dapat dibaca misalnya dalam diskusi (13/5/2015) di gedung Dewan DPD Jakarta.

Jaringan ini, lewat J. Kristiadi yang juga menjadi salah satu rujukan pembicara di situ; ditambah Paulus Yohanes Sumino, menjadi pengartikulasi dari kelompok ini. Bahkan Paulus Yohanes Sumino mengkritik dengan keras mereka yang ingin menjelaskan Sabdaraja dan tidak mau menerimanya, dan dia menyumpahinya: Kalau begitu bisa kualat nanti (m.suara.com., 13 Mei 2015).

Sungguh aneh, sebuah Mataram Islam, ketika didiskusikan di DPD tidak ada representasi dari kalangan muslim Jawa. Itu saja sudah menjelaskan kuatnya arus ini dan kekasarannya dalam bermain. Mestinya, permainan dari kalangan fundamentalis Kasebul ini tidak vulgar begini, karena ini benar-benar melukai kalangan muslim Jawa yang toleran, dan khususnya menjadi penyangga bumi alas Mentaok.

Tampaknya mereka ini sudah kesurupan setan, sehingga bermimpi bahwa dalam jangka panjang antara 50-100 tahun Jawa sudah bisa menjadi Katholik dengan cara inkulturasi, yang keyakinan itu juga dipicu oleh kuatnya basis kultural di gunung gunung dan perbukitan di sekitar bumi Mataram. Mereka dalam jangka itu ingin dikenal para pahlawan Katholik Jawa.

Di tengah eksistensi Kraton Mataram di alam demokrasi dan berintergrasi dengan Republik, mudah sekali untuk menjelaskan bahwa cara-cara fundmentalis Kasebul ini sangat vulgar dan kasar. Andai Kraton Yogyakarta masih memiliki persenjataan lengkap, seperti jaman dulu, fantasi mereka untuk menghapus Kraton Mataram Islam yang berbasis Islam Jawa ini, mungkin akan dibarengi dengan pertumpahan darah. Tetapi mereka menyadari situasi zaman sekarang berubah dan kraton tidak memiliki penopang itu. Dan yang penting, bagaimana mengambil simbol Mataram Islam dari tangan muslim Jawa.

Peperangan ini bagi mereka telah menang manakala simbolnya berhasil direbut dengan penghapusan Kraton Mataram. Akan tetapi, justru di sinilah letak blundernya para fundamentalis Kasebul itu. Mereka mengira kalau sudah melakukan hal itu pasti akan menang, apalagi dengan mendapat cantelan kekuasaan yang kuat lewat permaisuri.

Dunia Jawa Islam tidak sesederhana itu. Apalagi mereka benar-benar ditantang oleh JNM (Jamaah Nahdliyin Mataran), yang menyebut mereka mengkhinati persahabatan, memanfaatkan ide-ide toleransi secara baik, tetapi menusuk dan membegal dari belakang.

Informasi yang saya terima dari informan di JNM, bahwa sejak kasus ini, mereka akan mulai mundur selangkah. Tidak akan lagi bersifat aktif dalam kerjasama dangan mereka. Ini juga tergantung bagaimana kalangan Katholik yang baik dan bukan bagian dari Kasebul merehabilitasi ini. Silahkan mereka berhadapan sendiri dengan kelompok garis keras Islam di berbagai front.

Orang-orang JNM membedakan antara toleransi sebagai kejujuran yang harus diperjuangkan, dan toleransi yang dimanfaatkan Fundamentalis Kasebul ini untuk tujuan politik-ekonomi jangka panjang. Dan, yang terakhir ini, bagi JNM membahayakan keseimbangan sosial. Kalau ini dibiarkan, tentu peringatan yang diberikan dalam statemen-statemen JNM, tidak bisa dianggap remeh. Apalagi jelas, JNM tidak ikut campur soal pertarungan suksesi Kraton, dan JNM sendiri mempersilahkan: Sultannya bisa laki-laki atau perempuan.

JNM juga tidak menjadi bagian dari adik-adik Sultan, dan karenanya JNM tidak satu garis dengan KH. Abdul Muhaimin dan kelompok muslim yang berada di blok adik-adik Sultan yang berurusan dengan suksesi.

Hanya saja, satu hal, kalipatullah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia Jawa Islam, jangan dihilangkan. Dan ini telah dihapuskan, yang oleh JNM telah digali informasinya, ada kelompok kekuatan tertentu di belakangnya. Siapakah mereka yang dianggap sebagai para fundamentalis Kasebul, yang secara vulgar bermain politik di kraton ini, dan memperoleh cantelah dengan permasiuri yang kuat ini?

Infromasi yang saya peroleh dari para desertir Kasebul dan para aktivis pegiat toleransi di Yogyakarta, menyebutkan suatu yang gamblang. Mereka ini ternyata ada di dalam lingkaran Methodius Kusumahadi (yang biasa disebut dengan Pak Met), dengan penasehat-pnasehat spiritualnya dari Katholik Kasebul, seperti Romo T, yang bersimbisosis dengan para Kasebul di Jakarta dan lingkaran di Jogja-Jateng. Mereka ini yang mengorganisir dan memiliki dana kuat, yang sangat berpengaruh dan dekat dengan permaisuri.

Jadi, tidak semua orang Katholik ada di lingkaran ini, karena di kalangan Katholik juga ada orang-orang yang baik, dan ini bagi saya clear. Oleh karena itu, fenomena ini mestilah menyadarkan orang-orang Katholik yang baik, agar menjewer sekeras-kerasnya kepada lingkaran Fundamentalis Kasebul ini. Agar masa depan dan harmoni yang selama ini terjalin di antara orang Katholik dan Muslim Jawa tidak mengalami keretakan.

Kalau mereka tidak mau menjewer sekaras-kerasnya, akan dapat disalahartikan dan ini tidak baik dalam kerjasama yang selama ini telah terjalin, dan dalam hal ini kelihatannya JNM (yang setau saya di belakangnya ada ormas terbesar di Indonesia, yaitu NU) tidak akan tinggal diam dan main-main dengan ancamannya.

Walhamdulillah. Mugi Gusti Allah paring ridho lan kekiyatan. Wassalamungalaikum.

(Tulisan ini dikirim lewat kurir ke redaksi All About Santri)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/kasebul-fundamentalis-di-keraton-mataram-islam-perlu-dijewer.html

Rabu, 18 Juli 2007

Kunjungi Kemenag, GP Ansor Bandung Barat Bahas Radikalisme

Bandung Barat, All About Santri. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bandung Barat melakukan audiensi dengan Kementrian Agama setempat, Rabu (1/10), di Bandung Barat, Jawa Barat. Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja organisasi para pemuda Nahdlatul Ulama ini.

Ketua PC GP Ansor Bandung Barat Cecep Nedi Sugilar mengatakan, program tersebut adalah dalam rangka menguatkan solidaritas dan pengawalan program kerja pemerintah agar berjalan optimal. "Kami siap membackup dan mengawal program Kemenag untuk kemaslahatan umat," ujarnya.

Kunjungi Kemenag, GP Ansor Bandung Barat Bahas Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Kemenag, GP Ansor Bandung Barat Bahas Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)


Kunjungi Kemenag, GP Ansor Bandung Barat Bahas Radikalisme

Selain itu, Cecep juga meminta tanggapan dari Kemenag Kabupaten Bandung Barat mengenai keberadaan gerakan-gerakan Islam radikal belakangan banyak meresahkan masyarakat, khususnya di Kabupaten Bandung Barat.

All About Santri

H. Asep Ismail, Kepala Kementrian Agama Kabupaten Bandung Barat menyambut baik GP Ansor Bandung Barat yang memiliki perhatian besar terhadap kemaslahatan umat serta turut banyak membantu pemerintah, dalam hal ini Kemenag, untuk merealisasikan berbagai program pemerintah.

Adapun mengenai gerakan Islam radikal, ia meminta agar semua pihak konsentrasi pada pembekalan pemahaman terhadap semua lapisan masyarakat. Sebab, bibit-bibit munculnya radikalisme yang mengatasnamakan agama Islam justru datang dari orang-orang yang kurang paham terhadap ajaran agama Islam secara utuh.

"Semangat memperjuangkan Islamnya tinggi, namun pemahaman akan syariatnya nol. Maka inilah yang menjadi penyebab mudah terpengaruhnya sebagian masyarakat terhadap hal-hal negatif," ujarnya.

All About Santri

GP Ansor Bandung Barat dalam kesempatan itu menegaskan kesanggupannya untuk membantu pemerintah untuk menciptakan suasana damai, mewujudkan keberadaan Islam yang rahmatan lil alamin. "NKRI harga mati bagi kami," ujar Cecep. (Rifqi Iyall/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54840/kunjungi-kemenag-gp-ansor-bandung-barat-bahas-radikalisme

All About Santri

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs All About Santri sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik All About Santri. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan All About Santri dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock